Laporan Wartawan TribunJatim.com, Samsul Hadi
TRIBUNJATIM.COM, BLITAR – Pemerintah Kota Blitar terus mematangkan persiapan operasional program Sekolah Rakyat yang digagas oleh pemerintah pusat.
Guna mengikis keraguan di tingkat wali murid, Pemkot Blitar mengajak puluhan orang tua dan anak dari keluarga potensial untuk mengecek dan melihat langsung kondisi fasilitas gedung sekolah, Sabtu (11/7/2026) pagi.
Langkah persuasif ini sengaja diambil guna meyakinkan masyarakat prasejahtera bahwa sekolah berbasis asrama ini memiliki standardisasi pelayanan dan infrastruktur yang sangat layak untuk menunjang masa depan anak-anak mereka.
Meski demikian, sistem wajib tinggal di asrama (boarding school) yang diterapkan di Sekolah Rakyat rupanya masih menyisakan kekhawatiran tersendiri bagi sebagian orang tua, terutama mereka yang anaknya masih berada di usia sekolah dasar (SD).
Baca juga: Bom Udara di Sungai Lahar Blitar Berhasil Dievakuasi, Diduga Masih Aktif Meski Sudah Berkarat
Hal itu diakui oleh Rika, seorang warga Kelurahan Gedog, Kecamatan Sananwetan.
Ia sengaja memboyong anaknya yang kini duduk di bangku kelas 3 SD untuk melihat suasana kamar tidur dan ruang kelas di Sekolah Rakyat.
"Setelah lihat sekolahnya langsung, anaknya sebenarnya senang karena bangunan dan fasilitasnya bagus, kamarnya juga nyaman. Tapi saya sendiri agak khawatir karena dia masih kecil dan belum mandiri kalau harus menginap di asrama. Berbeda kalau sudah SMP," ungkap Rika, Sabtu (11/7/2026).
Kendati demikian, Rika mengapresiasi kebijakan pengelola yang memberikan kelonggaran jam besuk bagi orang tua di luar jam pelajaran, serta jaminan biaya pendidikan penuh dari negara.
"Kalau nanti di rumah anaknya bilang mau, saya pasti akan mengizinkan," imbuhnya.
Berbeda dengan Rika, Asani, warga Kelurahan Pakunden, justru memantapkan tekad untuk mendaftarkan buah hatinya.
"Insyaallah, rencana saya nanti pas anak naik jenjang SMA akan saya masukkan ke Sekolah Rakyat. Sekarang masih kelas 8 SMP. Saya ingin anak saya bisa mengejar cita-citanya di sini," harap Asani.
Wali Kota Blitar, Syauqul Muhibbin—atau yang akrab disapa Mas Ibin—menjelaskan bahwa Sekolah Rakyat dirancang khusus sebagai karpet merah pendidikan bagi anak-anak kurang beruntung, seperti anak putus sekolah, anak yatim piatu, serta keluarga yang masuk dalam data kemiskinan ekstrem desil 1 dan desil 2.
Guna menjaring siswa yang tepat sasaran, Mas Ibin menyebut tim jajaran dinas terkait sebenarnya telah bergerak masif melakukan penyisiran dokumen ke lapangan.
Baca juga: Jelang Masuk Sekolah, Toko Seragam di Blitar Panen Rejeki, Toko Diserbu Pembeli
"Petugas kami sebenarnya sudah bergerak secara door-to-door mendatangi sekitar 1.400 keluarga potensial di Blitar. Namun, kami rasa para orang tua ini perlu diajak melihat langsung ke lokasi agar mereka punya gambaran utuh dan tidak perlu waswas lagi dengan kondisi anaknya selama belajar di sini," kata Mas Ibin.
Mas Ibin optimis, setelah melihat kemegahan fasilitas penunjang yang ada, para orang tua akan berebut untuk mengamankan bangku pendidikan bagi anak mereka.
Terlebih, daya tampung program afirmasi ini masih dibatasi.
"Untuk tahap ini kuotanya masih sangat terbatas. Pemerintah memprioritaskan kuota daya tampung awal ini sementara hanya untuk 270 anak yang benar-benar memenuhi kriteria," pungkasnya.