Anggota DPR: Defisit Neraca Perdagangan Jadi Alarm Perkuat Daya Saing Ekspor
Wahyu Aji July 11, 2026 04:38 PM


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Komisi VI DPR RI Christiany Eugenia Paruntu menilai, defisit neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 harus menjadi alarm bagi pemerintah untuk memperkuat daya saing ekspor nasional. 

Menurutnya, kondisi tersebut perlu dijadikan momentum evaluasi guna mempercepat penguatan struktur perdagangan Indonesia, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor, terutama di sektor minyak dan gas (migas).

Christiany mengatakan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), defisit neraca perdagangan pada Mei 2026 terutama dipengaruhi oleh besarnya defisit sektor migas. 

Sementara itu, sektor nonmigas masih mampu mencatatkan surplus, yang menunjukkan bahwa fondasi ekspor nasional masih cukup kuat dan layak terus diperkuat.

"Defisit ini perlu kita lihat secara objektif. Penyebab utamanya berasal dari tingginya defisit sektor migas, sementara sektor nonmigas masih mampu memberikan surplus. Artinya, tantangan terbesar yang harus dijawab adalah bagaimana memperkuat daya saing ekspor sekaligus menekan ketergantungan terhadap impor energi," kata Christiany, kepada wartawan, Sabtu (11/7/2026).

Christiany menilai, salah satu langkah strategis yang harus dipercepat adalah hilirisasi industri agar komposisi ekspor Indonesia semakin didominasi oleh produk bernilai tambah tinggi, bukan sekadar komoditas mentah. 

Selain itu, diversifikasi pasar ekspor juga perlu terus diperluas agar pelaku usaha nasional memiliki akses ke lebih banyak pasar dan tidak bergantung pada negara tujuan ekspor tradisional yang tengah menghadapi perlambatan ekonomi global.

Christiany juga menekankan pentingnya meningkatkan daya saing industri nasional melalui berbagai kebijakan yang mendukung produktivitas, efisiensi logistik, penyederhanaan perizinan, hingga penguatan pembiayaan ekspor, khususnya bagi pelaku UMKM yang memiliki potensi menembus pasar internasional. 

Menurutnya, sinergi antara kementerian, lembaga, BUMN, dan dunia usaha menjadi kunci agar pertumbuhan ekspor dapat berlangsung secara berkelanjutan.

"Langkah yang perlu terus digenjot adalah memperkuat hilirisasi, memperluas akses pasar ekspor, meningkatkan efisiensi rantai pasok, serta memberikan dukungan yang lebih kuat kepada eksportir nasional. Dengan demikian, produk Indonesia akan semakin kompetitif di pasar global dan memiliki nilai tambah yang lebih tinggi," ujar legislator Partai Golkar itu.

Lebih lanjut, Christiany mengingatkan bahwa menjaga surplus neraca perdagangan tidak cukup hanya mengandalkan peningkatan ekspor. Pemerintah juga perlu memastikan keseimbangan antara kebutuhan impor yang bersifat produktif dengan peningkatan kapasitas produksi di dalam negeri.

Sebab itu, penguatan ketahanan energi, peningkatan investasi di sektor manufaktur berorientasi ekspor, serta pengembangan industri substitusi impor harus menjadi agenda yang terus didorong.

"Momentum ini harus menjadi bahan evaluasi agar Indonesia memiliki struktur perdagangan yang semakin kuat dan tangguh terhadap dinamika ekonomi global," ujarnya.

"Dengan memperkuat industri dalam negeri, meningkatkan nilai tambah ekspor, dan mengurangi ketergantungan pada impor migas, saya optimistis neraca perdagangan Indonesia dapat kembali berada pada jalur surplus dan memberikan kontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional," tandasnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan barang Indonesia mengalami defisit sebesar 1,61 milair dolar Amerika Serikat (AS). Defisit dipicu oleh masih tingginya defisit perdagangan migas.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, pada Mei 2026 neraca perdagangan migas mengalami defisit 3,76 miliar dolar AS terutama berasal dari perdagangan hasil minyak dan minyak mentah.

Baca juga: Rupiah Tembus Rp 18.014 per Dolar AS, Dibayangi Defisit APBN dan Memanasnya Konflik AS-Iran

"Pada Mei tahun 2026 neraca perdagangan barang mengalami defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS atau minus 1,61 miliar dolar AS," ujar Ateng saat Rilis BPS, Rabu (1/7/2026).

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.