Laporan Maulidi Alfata | Aceh Timur
SERAMBINEWS.COM, IDI - Seorang pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Aceh Timur berinisal IR tak kuasa menahan keluh kesahnya, saat bertemu langsung dengan Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky.
Di hadapan orang nomor satu di kabupaten tersebut, IR mengutarakan keinginannya untuk pindah sekolah karena trauma dan merasa tidak nyaman lagi di tempatnya menimba ilmu saat ini.
Pertemuan emosional tersebut berlangsung di Pendopo Idi, Kabupaten Aceh Timur, pada Jumat (10/7/2026) sore.
“Saya ingin pindah sekolah, sudah tidak nyaman di sekolah lama,” tutur IR dengan nada lirih di hadapan Bupati.
Di hadapan Bupati, IR kembali menceritakan kronologi memilukan yang dialaminya.
Pekan lalu, sebuah video amatir berdurasi lebih dari dua menit mendadak viral di media sosial.
Video tersebut merekam aksi kekerasan di sebuah usaha pencucian kendaraan doorsmeer di Desa Paya Awe, Kecamatan Idi Tunong.
Dalam video itu, IR tampak tak berdaya tergeletak di lantai.
Wajahnya diinjak-injak oleh seorang gadis berinisail AH, sementara dua pemuda lain memegangi tubuh korban.
Aksi brutal tersebut dipicu oleh tuduhan sepihak bahwa IR mencuri uang senilai Rp 10.000 sebuah tuduhan yang dibantah keras oleh IR.
Mendengar langsung curahan hati warganya yang masih di bawah umur, Bupati Iskandar Usman Al-Farlaky langsung mengambil tindakan tegas.
Ia menginstruksikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Timur, Bustami, untuk segera memproses perpindahan sekolah IR agar proses belajarnya tidak terganggu.
Selain memfasilitasi pemindahan sekolah, Pemerintah Kabupaten Aceh Timur melalui Baitul Mal juga menyalurkan bantuan pendidikan, perlengkapan sekolah, dan pakaian baru untuk IR.
“Pakaian dan perlengkapan sekolah juga kita berikan. Saya minta IR tetap semangat. Maafkan saya karena baru bertemu, karena saya baru pulang dari luar daerah,” ujar Al-Farlaky menenangkan korban.
Bupati menegaskan bahwa kasus ini harus menjadi refleksi bersama agar tindakan main hakim sendiri tidak kembali terulang di tengah masyarakat.
“Terpenting tetap semangat belajar, tetap menjadi orang baik. Kasus ini menjadi pelajaran untuk semua masyarakat, jangan main hakim sendiri di negara hukum,” tegasnya.
Dukungan moral juga mengalir dari istri Bupati sekaligus Bunda Guru Aceh Timur, Lismawani.
Ia memotivasi IR agar tidak patah arang dalam mengejar cita-cita.
"Saya berada di belakang seluruh pelajar Aceh Timur. Tetap semangat," ucap Lismawani.
Sementara itu, penanganan kasus hukum terkait penganiayaan ini dipastikan terus berjalan di Korps Bhayangkara.
Kapolres Aceh Timur melalui Kasat Reskrim AKP Novrizaldi, menyatakan bahwa pihaknya tengah melakukan penyelidikan mendalam atas laporan yang dilayangkan oleh keluarga korban.
"Saksi-saksi dan seluruh orang yang terlibat dipanggil untuk dimintai keterangan oleh penyidik,” kata AKP Novrizaldi saat dihubungi terpisah.
Sebelum dilaporkan ke polisi, kasus ini sebenarnya sempat diupayakan selesai lewat jalur damai oleh aparat desa setempat.
Bahkan, IR yang masih di bawah umur sempat diminta menandatangani surat perjanjian damai.
Namun, pihak keluarga yakni abang kandung dan ibu korban menolak penyelesaian tersebut dan memilih membawa kasus ini ke jalur hukum di Mapolres Aceh Timur.
Kondisi keluarga IR sendiri tergolong rentan.
Kedua orang tuanya telah berpisah dan selama ini bekerja sebagai pekerja migran di Malaysia.
Begitu video penganiayaan tersebut viral, sang ibu langsung bertolak pulang ke Aceh Timur demi mendampingi sang anak memperjuangkan keadilan.
Di sisi lain, terduga pelaku penganiayaan, AH, diketahui telah mengunggah video permohonan maaf secara terbuka di media sosial.
Dalam video tersebut, ia mengakui seluruh perbuatannya dan berjanji tidak akan mengulangi tindakan serupa.
Kendati demikian, proses hukum atas dugaan kekerasan terhadap anak di bawah umur ini dipastikan tetap bergulir.(*)