Oleh: Muliadi*)
Tanggal 10 Juli 2026 menjadi penanda genap 101 tahun usia Tun Dr. Mahathir Mohamad, seorang tokoh yang namanya telah melekat dalam perjalanan sejarah Malaysia modern.
Sosok yang pernah memimpin Malaysia sebagai Perdana Menteri keempat dan ketujuh ini telah melalui berbagai fase penting, mulai dari masa kolonial, Perang Dunia II, kemerdekaan Malaysia, hingga era globalisasi.
Dalam rentang lebih dari satu abad kehidupannya, Mahathir menjadi saksi sekaligus pelaku sejarah yang memberi warna bagi perkembangan negaranya.
Momentum ini mengingatkan saya pada sebuah perjalanan pada tahun 2025, ketika melanjutkan studi master di Universiti Utara Malaysia (UUM) Sintok Kedah Malaysia.
Bersama Hasan Basri M. Nur, dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Ar-Raniry Banda Aceh yang juga alumni Universiti Utara Malaysia (UUM) Sintok Kedah.
Serta juga Tarmizi Abdul Hamid, atau yang akrab disapa Cek Midi, seorang kolektor manuskrip dan budayawan Aceh, kami berkesempatan mengunjungi Rumah Kelahiran Tun Dr. Mahathir Mohamad di Alor Setar, Kedah.
Perjalanan itu bukan sekadar wisata sejarah. Ada banyak pelajaran yang dapat dipetik dari sebuah rumah kayu yang sederhana yang menjadi titik awal lahirnya seorang pemimpin besar.
Rumah tersebut berdiri di Lorong Kilang Ais, Alor Setar. Bangunan kayu bergaya tradisional Melayu itu telah dipelihara oleh Arkib Negara Malaysia dan dibuka sebagai memorial bagi masyarakat.
Di dalamnya tersimpan berbagai foto keluarga, dokumen, peralatan rumah tangga, hingga kisah masa kecil Mahathir yang disajikan secara sederhana.
Pengunjung dapat melihat bagaimana lingkungan tempat beliau dibesarkan, suasana kehidupan keluarganya, serta perjalanan panjang yang kemudian mengantarkannya menjadi salah seorang negarawan paling berpengaruh di Asia.
Saat melangkah memasuki rumah tersebut, muncul satu kesan yang sulit dilupakan. Rumah itu jauh dari kesan mewah.
Dinding kayu, ruang-ruang yang sederhana, dan halaman yang tidak terlalu luas menghadirkan gambaran kehidupan masyarakat Melayu pada awal abad ke-20.
Sulit membayangkan bahwa dari rumah itulah lahir seorang pemimpin yang kemudian membawa Malaysia memasuki berbagai proyek pembangunan besar dan memperkenalkan negaranya di panggung internasional.
Baca juga: Mahathir dan Bencana: Utang Ekologi dan Paradigma Baru Bantuan Internasional
Mahathir lahir dari keluarga sederhana. Ayahnya, Mohamad Iskandar, merupakan seorang guru yang sangat menaruh perhatian terhadap pendidikan anak-anaknya.
Lingkungan keluarga inilah yang membentuk disiplin dan semangat belajar Mahathir sejak usia dini.
Beliau memulai pendidikan di Sekolah Melayu Seberang Perak sebelum melanjutkan ke Government English School di Alor Setar, yang kini dikenal sebagai Kolej Sultan Abdul Hamid.
Sekolah tersebut menjadi tempat berkembangnya kemampuan berpikir kritis dan keberanian menyampaikan pendapat.
Mahathir aktif dalam berbagai kegiatan sekolah, gemar membaca, serta dipercaya menjadi penyunting majalah sekolah. Kemampuan berbahasa Inggrisnya juga berkembang pesat sejak masa remaja.
Perjalanan akademiknya berlanjut ketika memperoleh beasiswa untuk belajar kedokteran di King Edward VII College of Medicine, Singapura.
Di kampus inilah ia bertemu Siti Hasmah Mohd Ali, mahasiswa kedokteran yang kemudian menjadi pendamping hidupnya. Setelah menyelesaikan pendidikan kedokteran, Mahathir mengabdi sebagai dokter pemerintah di beberapa wilayah di Malaysia sebelum akhirnya membuka Klinik MAHA bersama istrinya di Alor Setar.
Klinik tersebut dikenal sebagai klinik Melayu pertama di Negeri Kedah dan menjadi tempat pelayanan kesehatan bagi masyarakat setempat.
Pengalaman sebagai dokter memberi warna tersendiri dalam kepemimpinannya. Ia terbiasa mendengar keluhan masyarakat secara langsung, memahami persoalan yang dihadapi rakyat, serta mengambil keputusan berdasarkan pengamatan yang cermat.
Cara berpikir yang sistematis inilah yang kemudian terlihat ketika ia memasuki dunia politik.
Salah satu hal yang menarik dari sosok Mahathir ialah kebiasaannya membaca dan menulis. Sejak muda ia telah aktif mengirimkan tulisan ke berbagai media massa dengan nama pena "C.H.E. Det".
Tulisan-tulisan tersebut membahas isu pendidikan, masyarakat Melayu, ekonomi, hingga masa depan negaranya. Kegemarannya membaca membuat wawasannya berkembang jauh melampaui zamannya.
Bagi Mahathir, membaca bukan sekadar hobi, melainkan latihan berpikir. Menulis bukan sekadar menyampaikan pendapat, melainkan cara membangun gagasan.
Kebiasaan itu terus dipeliharanya hingga usia lanjut. Berbagai buku lahir dari tangannya, termasuk The Malay Dilemma, The Challenge, A New Deal for Asia, dan autobiografi A Doctor in the House.
Karya-karya tersebut memperlihatkan bagaimana seorang pemimpin berusaha menuangkan pengalaman dan pemikirannya kepada generasi berikutnya.
Ketika menjadi Perdana Menteri, Mahathir membawa Malaysia memasuki fase industrialisasi yang pesat.
Berbagai proyek pembangunan nasional lahir pada masa kepemimpinannya, mulai dari Menara Kembar Petronas, Putrajaya sebagai pusat administrasi pemerintahan, Koridor Raya Multimedia (MSC), hingga pembangunan jaringan jalan tol dan infrastruktur modern.
Berbagai kebijakan tersebut menjadikan Malaysia tampil sebagai salah satu negara berkembang yang diperhitungkan di kawasan Asia.
Terlepas dari berbagai pandangan yang berkembang terhadap kebijakan politiknya, sulit menafikan bahwa Mahathir merupakan sosok yang memiliki visi jauh ke depan.
Ia selalu berbicara mengenai pentingnya ilmu pengetahuan, teknologi, daya saing, dan kemandirian bangsa. Baginya, kemajuan sebuah negara sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusianya.
Baca juga: Utang Kereta Cepat” Whoosh” Cina: Akankah Prabowo Mengikuti Jejak Mahathir?
Pelajaran inilah yang paling terasa ketika kami berdiri di dalam rumah kelahirannya. Rumah sederhana itu mengajarkan bahwa keberhasilan seseorang tidak selalu ditentukan oleh tempat ia dilahirkan.
Yang menentukan adalah semangat belajar, kerja keras, kedisiplinan, dan keberanian memiliki cita-cita besar.
Sebagai alumni Universiti Utara Malaysia, saya merasakan kedekatan emosional dengan Negeri Kedah. Banyak sudut kota Alor Setar yang masih menyimpan jejak perjalanan hidup Mahathir.
Mulai dari sekolahnya, rumah kelahirannya, hingga klinik yang pernah ia dirikan bersama Tun Dr. Siti Hasmah. Semua tempat tersebut menjadi pengingat bahwa sejarah selalu lahir dari ruang-ruang yang sederhana.
Kunjungan bersama Hasan Basri M. Nur dan Cek Midi juga menghadirkan perbincangan yang menarik mengenai hubungan sejarah, pendidikan, dan kebudayaan antara Aceh dan Kedah.
Kedua wilayah ini sejak lama memiliki ikatan sejarah yang kuat. Jalur perdagangan, penyebaran Islam, hingga hubungan kekeluargaan telah menghubungkan masyarakat di kedua kawasan selama berabad-abad.
Perjalanan ke rumah kelahiran Mahathir menjadi bagian kecil dari upaya memahami kembali kedekatan sejarah tersebut.
Seratus satu tahun usia Tun Dr. Mahathir Mohamad merupakan momentum untuk melihat kembali arti penting pendidikan dalam membangun sebuah bangsa.
Mahathir pernah memulai hidup sebagai anak seorang guru, kemudian menjadi dokter, penulis, pemikir, dan akhirnya memimpin negaranya selama dua periode yang berbeda. Perjalanan itu menunjukkan bahwa kepemimpinan lahir dari proses belajar yang panjang, bukan dari keberuntungan semata.
Rumah kayu di Alor Setar akhirnya menjadi lebih dari sekadar bangunan bersejarah. Ia menjadi simbol bahwa gagasan besar dapat tumbuh dari ruang yang sederhana.
Bagi generasi muda Indonesia maupun Malaysia, tempat itu mengingatkan bahwa masa depan dibangun melalui kebiasaan membaca, semangat belajar, keberanian berpikir, dan kerja yang dilakukan secara konsisten.
Barangkali itulah pelajaran terbesar yang kami bawa pulang dari Alor Setar.
Di balik dinding-dinding kayu yang telah berdiri hampir satu abad, tersimpan kisah tentang seorang anak kampung yang memilih menjadikan ilmu sebagai jalan hidupnya.
Dari rumah itulah perjalanan panjang seorang Mahathir Mohamad bermula, sebelum akhirnya namanya dikenal oleh dunia.
*) PENULIS adalah Alumni Universiti Utara Malaysia (UUM) dan UIN Ar-Raniry Banda Aceh