Menepis Stigma Pesugihan di Gunung Kawi melalui Perspektif Sejarah
Cak Sur July 12, 2026 12:32 AM

SURYA.CO.ID, MALANG - Kawasan wisata religi Gunung Kawi di Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur (Jatim), kerap dikaitkan dengan narasi mistis dan praktik pesugihan.

Namun, para ahli melihat kawasan ini dari perspektif yang jauh lebih luas, yakni sebagai pusat sejarah dan keberagaman spiritual.

Dosen Program Studi Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya, Padmo Adi Nugroho, menilai stigma tersebut tidak mampu menggambarkan kompleksitas aktivitas yang sebenarnya terjadi di Gunung Kawi.

Menurut Padmo, masyarakat perlu memahami bahwa Gunung Kawi terdiri atas banyak situs dengan tradisi budaya yang beragam. 

Ia menekankan pentingnya membedakan antara situs Keraton Gunung Kawi dan Pesarean Gunung Kawi yang memiliki karakteristik tersendiri.

"Perlu dipahami bahwa Gunung Kawi memiliki banyak situs. Saya melakukan observasi partisipatoris dan berdialog langsung dengan warga di kawasan Pesarean," ujar Padmo kepada SURYA.co.id pada Jumat (10/7/2026).

Di kompleks Pesarean, terdapat makam tokoh leluhur yang dihormati, yakni Eyang Yugo (Djoego). Berdasarkan catatan sejarah lisan, beliau adalah tokoh dari Blitar yang menghabiskan masa tuanya untuk tirakat dan meditasi sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Harmoni Keberagaman di Gunung Kawi

Lebih lanjut, Padmo menjelaskan bahwa pengunjung yang datang ke lokasi ini memiliki latar belakang yang sangat heterogen.

Aktivitas spiritual yang dilakukan pun disesuaikan dengan keyakinan masing-masing individu, di antaranya:

  • Ziarah Makam: Mengenang tokoh leluhur dan berdoa sesuai tradisi masyarakat Jawa.
  • Tradisi Klenteng: Umat Konghucu menjalankan ritual ciamsi untuk memohon petunjuk.
  • Meditasi: Dilakukan di Padepokan Eyang Djoego oleh peziarah dari berbagai daerah.
  • Ibadah Lintas Iman: Kawasan ini menyediakan fasilitas bagi umat Islam, Hindu, Buddha, Kristen, hingga Katolik.

Keberadaan pura di Keraton Gunung Kawi serta musala dan tempat ibadah lainnya di sekitar sumber mata air menunjukkan bahwa kawasan ini adalah ruang inklusif.

"Ada lukisan tokoh-tokoh yang dihormati dari berbagai agama. Ini mencerminkan keberagaman yang hidup," tegas Padmo.

Gunung sebagai Ruang Sakral

Dalam tradisi masyarakat Jawa, gunung selalu dipandang sebagai ruang sakral untuk berkomunikasi dengan Sang Pencipta.

Letaknya yang tinggi melambangkan upaya manusia untuk meraih kedekatan dengan Yang Ilahi melalui tirakat dan semedi.

Padmo menegaskan bahwa motivasi peziarah sangat bervariasi, dan tidak bisa disederhanakan hanya sebagai praktik mencari kekayaan. Keberagaman ini justru menjadi daya tarik yang memperkuat posisi Gunung Kawi sebagai tujuan wisata religi yang istimewa.

Kesimpulan: Gunung Kawi merupakan kawasan spiritual inklusif dengan sejarah panjang yang memadukan tradisi ziarah dan harmoni antarumat beragama, sehingga stigma negatif pesugihan tidak dapat mewakili realitas keberagaman di wilayah tersebut.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.