POS-KUPANG.COM, KUPANG - Meskipun tenun ikat Sumba telah mendunia, mayoritas penenun perempuan di Sumba Timur belum merasakan kesejahteraan ekonomi yang maksimal dari karya seni turun-temurun tersebut.
Menjawab tantangan ini, Bupati Sumba Timur Umbu Lili Pekuwali dan Wakil Bupati Yonathan Hani mengambil langkah taktis berkolaborasi dengan Tenunin untuk meningkatkan kapasitas SDM dan kelembagaan melalui program eMpowering Youths Across ASEAN (eYAA).
Pendekatan terstruktur ini diproyeksikan mampu mengubah mata pencaharian sambilan menjadi pilar ekonomi keluarga yang kokoh. Kita mengapresiasi inisiaf ini karena Pulau Sumba tidak hanya memiliki panorama alam yang indah, tetapi juga kekayaan budaya lokal yang memikat.
Tenun Sumba, khususnya di Kabupaten Sumba Timur, merupakan karya seni kreatif masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun. Bagi orang Sumba, kain tenun bukan sekadar komoditas, melainkan simbol budaya dan harga diri yang melekat dalam berbagai ritual adat.
Hal ini tecermin dari penggunaan kain tenun sebagai hantaran wajib dalam momen sukacita maupun dukacita. Mengingat peran vitalnya dalam tatanan sosial-budaya, kain tenun memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih jauh.
Bagi masyarakat Sumba, khususnya kaum perempuan, menenun telah menjadi mata pencaharian. Sebagian perempuan masih menganggapnya sebagai pekerjaan sampingan. Namun, bagi yang lainnya, menenun adalah pekerjaan utama untuk memenuhi kebutuhan pribadi, keluarga, dan tuntutan sosial dalam bermasyarakat.
Program kolaborasi Pemkab Sumba Timur dengan Tenunin akan menempatkan para relawan muda (Youth Volunteers) ASEAN di Sumba Timur untuk mendukung pemberdayaan masyarakat bersama komunitas penenun lokal.
Langkah taktis jajaran Pemkab Sumba Timur ini menjadi awal yang baik dan diharapkan mampu menginspirasi pemerintah kabupaten lain di Pulau Sumba.
Sudah saatnya pemerintah intervensi langsung kepada pelaku UMKM tenun agar aktivitas turun-temurun ini bertransformasi dari sekadar pekerjaan sampingan menjadi penggerak utama ekonomi daerah.
Pemerintah Kabupaten Sumba Timur perlu menyusun rencana pemberdayaan yang terintegrasi, mulai dari pendataan, penganggaran, pelatihan manajerial, strategi pemasaran, hingga fasilitas asuransi usaha.
Langkah strategis yang dapat diimplementasikan oleh pemerintah daerah adalah sebagai berikut. Pertama, membantu masyarakat mengenali potensi diri dalam menenun serta membangun kesadaran terhadap tantangan ekonomi yang dihadapi agar mereka termotivasi untuk mandiri.
Kedua, menyelenggarakan pelatihan keterampilan teknis, literasi keuangan, dan manajemen usaha demi meningkatkan produktivitas serta kompetensi penenun.
Ketiga, memfasilitasi akses permodalan lunak melalui institusi perbankan, program bantuan pemerintah, maupun pembentukan kelompok simpan pinjam berbasis masyarakat. Keempat, membentuk atau mengoptimalkan wadah kolaborasi masyarakat, seperti Koperasi dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), untuk memperkuat posisi tawar di pasar.
Terakhir, membantu UMKM memperluas jangkauan pasar melalui program digitalisasi usaha dan keikutsertaan dalam pameran dagang. Program pemberdayaan patut dijalankan secara inklusif dengan menyasar target prioritas, yaitu para pelaku UMKM tenun dan ibu rumah tangga penenun di Pulau Sumba. (*)