TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memasuki babak baru setelah serangkaian ledakan mengguncang sejumlah wilayah di selatan Iran menyusul dimulainya gelombang ketiga serangan militer Amerika Serikat terhadap target-target strategis Teheran.
Ledakan dilaporkan terdengar di berbagai kota yang tersebar di sedikitnya tiga provinsi penting di Iran, mulai dari kawasan pesisir Teluk Persia hingga wilayah yang menghadap langsung ke Selat Hormuz.
Di Provinsi Bushehr, beberapa ledakan dilaporkan terjadi di Kota Bushehr, Kangan, Deyr, dan Asalouyeh. Media Iran menyebut sejumlah fasilitas militer dan ekonomi menjadi sasaran serangan, termasuk sebuah pangkalan militer di wilayah Deyr.
Bushehr menjadi perhatian khusus karena wilayah tersebut merupakan lokasi berdirinya pembangkit listrik tenaga nuklir utama milik Iran. Hingga saat ini belum ada laporan resmi mengenai kerusakan pada fasilitas nuklir tersebut maupun dampak terhadap operasionalnya.
Mengutip dari Al Jazeera, gelombang ledakan juga dilaporkan terjadi lebih ke arah timur, tepatnya di Kota Jask dan Sirik yang berada di pesisir Laut Oman dan menghadap langsung ke Selat Hormuz.
Kedua wilayah tersebut memiliki nilai strategis tinggi karena menjadi titik penting dalam pengawasan lalu lintas kapal internasional yang melintas di jalur perdagangan energi dunia tersebut.
Media pemerintah Iran melaporkan sedikitnya 10 ledakan terdengar di Jask dalam waktu yang relatif singkat.
Sementara itu, di Bandar Abbas, kota pelabuhan terbesar Iran di kawasan selatan, ledakan kembali terdengar untuk malam ketiga hingga keempat secara berturut-turut.
Situasi serupa juga dilaporkan terjadi di wilayah Konarak dan Chabahar di tenggara Iran. Chabahar sendiri merupakan salah satu pelabuhan terpenting Iran yang selama ini menjadi jalur perdagangan utama menuju Samudra Hindia.
Stasiun televisi pemerintah Iran, IRIB, melaporkan dua ledakan tambahan juga terdengar di sejumlah kota pelabuhan di Provinsi Hormozgan.
Selain itu, ledakan lainnya dilaporkan terjadi di Imamzadeh Shah Abdulla yang berada di perbatasan Provinsi Khuzestan dan Bushehr. Otoritas Iran menyatakan tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.
Baca juga: Iran Tingkatkan Kapasitas Produksi Drone Tiga Kali Lipat di Tengah Gempuran AS
Tak lama setelah rentetan ledakan mengguncang sejumlah wilayah di Iran, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan, militer AS telah memulai gelombang ketiga operasi militernya terhadap sejumlah target strategis di negara tersebut.
Washington menyebut operasi itu dilakukan sebagai respons atas meningkatnya ancaman terhadap pelayaran internasional di Selat Hormuz, terutama setelah Iran dituduh melakukan tindakan terhadap kapal-kapal sipil dan kapal dagang yang melintasi jalur perairan tersebut.
Menurut militer AS, serangan tersebut bertujuan untuk melemahkan kemampuan Iran dalam melancarkan serangan terhadap kapal-kapal komersial yang menggunakan salah satu jalur perdagangan energi terpenting di dunia itu.
"Amerika Serikat memberikan kerugian besar dengan terus melemahkan kemampuan Iran untuk menyerang pelaut sipil dan kapal dagang yang bebas melintasi selat tersebut," demikian pernyataan resmi militer AS.
CENTCOM juga mengungkapkan, sebuah kapal kontainer berbendera Siprus mengalami kerusakan cukup parah pada bagian ruang mesin setelah terkena serangan di kawasan Selat Hormuz. Selain kerusakan material, satu anggota kru sipil dilaporkan hilang dan hingga kini masih dalam proses pencarian.
Amerika Serikat menilai insiden tersebut menjadi salah satu alasan utama di balik keputusan Washington untuk meningkatkan operasi militernya dan melancarkan serangan ke sejumlah wilayah strategis Iran.
Di tengah meningkatnya tekanan militer dari Amerika Serikat, Iran mulai meningkatkan kesiagaan pertahanannya dengan mengaktifkan sistem pertahanan udara di beberapa wilayah penting.
Meski demikian, hingga saat ini pihak berwenang Iran belum memberikan keterangan resmi mengenai kemungkinan adanya serangan udara yang menghantam wilayah tersebut ataupun tingkat kerusakan yang mungkin terjadi.
Aktivasi sistem pertahanan udara itu menunjukkan Teheran tengah berada dalam kondisi siaga tinggi untuk menghadapi kemungkinan serangan lanjutan di tengah meningkatnya ketegangan dengan Washington.
Para pengamat internasional memperingatkan jika eskalasi terus berlanjut dan upaya diplomasi gagal dipertahankan, konflik antara Iran dan Amerika Serikat berpotensi berkembang menjadi krisis regional yang lebih luas serta mengguncang stabilitas politik dan ekonomi global.
(Tribunnews.com / Namira)