Laporan Wartawan TribunSolo.com, Zharfan Muhana
TRIBUNSOLO.COM, KLATEN - Perum Bulog mengklaim telah menyerap 3,2 juta ton beras petani dari target nasional 4 juta ton pada 2026.
Capaian tersebut disebut telah mencapai sekitar 80 persen dan diperkirakan akan memenuhi target pada September mendatang.
Baca juga: Stok Beras Nasional Capai 5,4 Juta Ton, Tertinggi Sepanjang Sejarah Indonesia Merdeka
Baca juga: Minyak Goreng Berbau Minyak Tanah di Karanganyar, Bulog Solo : Produsen Tarik dan Akan Ganti Baru
Direktur Utama Perum Bulog, Letjen TNI (Purn.) Dr. Ahmad Rizal Ramdhani, mengatakan penyerapan beras terus berjalan berkat sinergi petani, penyuluh pertanian lapangan (PPL), Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta dukungan pemerintah pusat dan daerah.
"Dari target 4 juta ton, sampai hari ini kami sudah mencapai 3,2 juta ton. Masih ada lima bulan lagi. Estimasi kami target itu tercapai pada September, bahkan insya Allah di atas 4 juta ton," ujar Ahmad saat kunjungan kerja Komisi IV DPR RI di Kabupaten Klaten, Jumat (10/7/2026).
Ia menegaskan Bulog tetap membeli gabah petani sesuai harga pembelian pemerintah (HPP), yakni Rp6.500 per kilogram.
Menurutnya, kebijakan tersebut diharapkan mampu menjaga semangat petani untuk terus meningkatkan produksi.
Ahmad juga memastikan Bulog akan terus memberikan pendampingan dan pelayanan kepada petani guna mendukung target swasembada pangan nasional.
Selain penyerapan yang terus meningkat, Bulog juga mencatat stok beras nasional kini mencapai 5,4 juta ton.
Jumlah tersebut diklaim menjadi stok beras tertinggi sepanjang sejarah Indonesia merdeka.
Sementara itu, daerah dengan penyerapan beras tertinggi hingga saat ini berturut-turut adalah Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Lampung, dan Nusa Tenggara Barat.
Di wilayah Solo Raya, Perum Bulog Cabang Surakarta telah menyerap 10.690 ton gabah dan beras dari Kabupaten Klaten atau sekitar 77 persen dari target penyerapan 2026 sebesar 93.000 ton.
Bulog juga memastikan stok beras di wilayah Solo Raya mencapai sekitar 92 ribu ton sehingga dinilai aman untuk memenuhi kebutuhan hingga tahun 2027. (*)