TRIBUNSOLO.COM, SOLO – Peresmian Bendungan Jlantah di Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, oleh Presiden RI Prabowo Subianto kembali menambah daftar bendungan yang berperan penting menopang kebutuhan air di Solo Raya.
Wilayah eks-Karesidenan Surakarta memang dikenal memiliki banyak bendungan dan waduk.
Keberadaan infrastruktur tersebut bukan tanpa alasan, melainkan untuk menjawab kebutuhan air bagi pertanian, pengendalian banjir, hingga penyediaan air baku bagi masyarakat.
Baca juga: Rekomendasi Wisata Murah Meriah di Boyolali: Waduk Bade Cocok untuk Healing di Tanggal Tua
Saat ini tercatat ada sekitar 20 bendungan dan waduk yang tersebar di Solo Raya, meliputi Kabupaten Karanganyar, Sragen, Boyolali, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, dan Kota Solo.
Sebanyak 18 bendungan dikelola Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, sedangkan Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri dan Bendungan Mulur di Sukoharjo dikelola Perum Jasa Tirta I.
Mayoritas bendungan di Solo Raya dibangun untuk menjamin pasokan air irigasi, terutama saat musim kemarau.
Data BBWS Bengawan Solo menunjukkan, total cadangan air di 18 bendungan yang dikelolanya mencapai sekitar 13 juta meter kubik.
Volume tersebut mampu mengairi sekitar 11.016 hektare lahan pertanian selama dua bulan.
Beberapa bendungan bahkan masih memiliki kondisi air surplus, seperti Songputri, Krisak, Jombor, Kedunguling, Lalung, Blimbing, dan Kembangan.
Namun, sebagian lainnya mulai mengalami penurunan debit akibat musim kemarau, di antaranya Bendungan Prangjoho, Ngancar, Plumbon, Cengklik, Delingan, Botok, Brambang, Gebyar, hingga Ketro.
Baca juga: 5 Rekomendasi Wisata di Dekat Waduk Gajah Mungkur Wonogiri, Cocok untuk Liburan Sekolah
Salah satu bendungan terbaru di Solo Raya adalah Bendungan Jlantah di Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar.
Bendungan yang mulai dibangun pada 2019 tersebut diresmikan Presiden RI Prabowo Subianto secara virtual bersama empat bendungan lain di Indonesia pada Jumat (10/7/2026).
Proyek senilai sekitar Rp1,08 triliun itu dirancang untuk mengairi 1.494 hektare sawah di Kabupaten Karanganyar.
Saat ini sekitar 806 hektare lahan pertanian telah mendapatkan suplai air dari bendungan tersebut.
Meski telah diresmikan, proses pembebasan lahan Bendungan Jlantah ternyata belum selesai sepenuhnya.
Kepala BBWS Bengawan Solo, Gatut Bayuadji, mengatakan masih terdapat 38 bidang lahan yang belum tuntas pembebasannya.
Rinciannya terdiri atas 37 bidang tanah kas desa (TKD) dan satu bidang tanah milik warga.
"Pembebasan lahan belum kelar, masih ada sisa terkait TKD dan satu lahan milik warga," ujarnya.
Baca juga: Berawal dari Garasi, Koperasi Merah Putih Banjarsari Solo Bukukan Omzet Rp300 Juta dalam Enam Bulan
Sebanyak 22 bidang TKD masih berada pada tahap musyawarah, sedangkan 15 bidang lainnya telah memasuki proses administrasi lanjutan.
Sementara itu, satu bidang tanah milik warga seluas sekitar 200 meter persegi telah diajukan proses pembebasannya melalui Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN).
Selain Bendungan Jlantah, Solo Raya memiliki sejumlah bendungan dan waduk besar yang selama ini menjadi tulang punggung pengelolaan sumber daya air.
Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri berfungsi sebagai pengendali banjir Sungai Bengawan Solo, sumber irigasi, penyedia air baku, pembangkit listrik, hingga destinasi wisata.
Ada pula Waduk Kedung Ombo yang berada di wilayah Sragen, Boyolali, dan Grobogan.
Waduk ini menjadi salah satu pemasok air terbesar untuk irigasi pertanian di Jawa Tengah.
Sementara Waduk Cengklik di Boyolali dan Bendungan Mulur di Sukoharjo juga berperan mendukung kebutuhan irigasi, perikanan, serta pengembangan sektor pariwisata.
Dengan banyaknya bendungan yang tersebar di Solo Raya, wilayah ini memiliki sistem pengelolaan air yang menjadi penopang sektor pertanian sekaligus membantu mengurangi risiko kekeringan saat musim kemarau.
(*)