Kisah Muhammad Ahnaf: Pro Player Free Fire Belia Asal Jogja di FFNS 2026 Fall, Jadi Calon Wonderkid
Yoseph Hary W July 12, 2026 06:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM - Grand Finals Free Fire Nusantara Series (FFNS) 2026 Fall menyapa publik Yogyakarta, di Grha Sabha Pramana (GSP) UGM, Minggu (12/7/26).

​Sebanyak 12 tim terbaik dari seantero Indonesia siap adu strategi demi memperebutkan gelar juara nasional, bagian terbesar dari total prize pool senilai Rp850 juta, sekaligus tiket emas menuju Free Fire World Series Southeast Asia (FFWS SEA) 2026 Fall.

Talenta lokal Jogja 

Di antara kepungan tim-tim raksasa nasional, sorotan publik Yogyakarta dipastikan tertuju pada satu talenta lokal yang siap unjuk gigi di rumah sendiri, Muhammad Ahnaf Ramadhan Kurnia.

​Remaja yang akrab disapa Ahnaf ini merupakan pro player Free Fire asal Yogyakarta yang kini memperkuat tim Borneo Hilang Arah, yang berbasis di Banjar Baru. 

Baca juga: 12 Tim Terbaik Free Fire Saling Sikut di Jogja, Berebut Juara Nasional dan Tiket FFWS SEA 2026 Fall

Bagi Ahnaf, menembus babak Grand Finals tingkat nasional ini merupakan tonggak sejarah baru dalam karier profesionalnya yang masih seumur jagung.

​"Perasaannya tentu senang sekali karena ini pertama kali lolos ke Grand Final," ungkap Ahnaf, dengan nada penuh semangat, Minggu (12/7/26).

100 persen siap

​Meski statusnya merupakan salah satu pemain termuda di panggung bergengsi ini, mental bertanding remaja asal Yogyakarta tersebut patut diacungi jempol. 

Alih-alih merasa tertekan oleh atmosfer megah panggung GSP UGM, Ahnaf justru mengaku sama sekali tidak merasakan gugup atau demam panggung.

​"Enggak ada (rasa nervous) sama sekali. Aku 100 persen siap untuk Grand Final ini," ungkap pelajar kelas 3 di SMP IT Masjid Syuhada Yogyakarta tersebut.

​Di balik performa apiknya di dunia virtual Free Fire, terselip kisah menggelitik nan inspiratif dari awal mula perjalanan Ahnaf hingga merambah level profesional.

Calon wonderkid, perjalanan untuk mendapatkan restu ayah-ibu

Benar saja, di industri esports, Ahnaf digadang-gadang sebagai "calon wonderkid" baru, mengikuti jejak pro player muda legendaris Indonesia lainnya, EVOS Rasyah.

​Namun, restu dari orang tua tidak didapatkannya begitu saja, lantaran pada awal-awal menyentuh dunia gim, ia harus meminjam gawai milik sang ayah. 

Bagaimana tidak, ayahnya seakan tak mau serta merta meminjamkan gawai untuk buah hatinya, sehingga memberikan syarat yang cenderung unik. 

​"Dulu awal-awal kan mainnya (Free Fire) masih pakai HP bapak. Syaratnya, disuruh mijitin (bapak) dulu, baru dipinjami HP-nya," kenang Ahnaf, yang langsung memancing tawa.

​Awalnya, sang ibu juga sempat menahan restu lantaran Ahnaf belum konsisten memenangkan kompetisi offline tingkat lokal di seputaran Yogyakarta. 

Seiring waktu, dengan tekad bulat dan semangat pantang menyerah, piala demi piala dari deretan ajang berhasil dibawa pulang memadati lemarinya.

Tak sekadar trofi, hobinya pun mulai menghasilkan pundi-pundi rupiah yang membanggakan, hingga akhirnya kedua orang tuanya memberikan kepercayaan penuh.

Jadi atlet esport tetap berprestasi di sekolah

​​Satu hal yang membuat sosok Ahnaf kian istimewa adalah kemampuannya menjaga keseimbangan antara karier sebagai atlet esports profesional dan kewajibannya sebagai pelajar. 

Di tengah padatnya jadwal latihan gim sebagai konsekuensi pro player, siswa SMP IT Masjid Syuhada Yogyakarta itu terbukti tidak keteteran di bidang akademik.

​Ahnaf diketahui merupakan salah satu siswa berprestasi di sekolahnya, yang konsisten mengamankan posisi atau ranking 10 besar di kelasnya.

Ketika ditanya mengenai resep rahasianya membagi waktu, ia menekankan pentingnya skala prioritas dan fokus total saat berada di lingkungan sekolah.

​"Kalau di sekolah harus serius belajarnya. Karena kalau sudah di rumah, susah buat bagi waktunya sama gim. Jadi kalau di sekolah harus lebih fokus dulu," bebernya.

Motivasi besar bisa main di rumah sendiri

​Kini, bertanding di hadapan publik sendiri di Yogyakarta, diakui Ahnaf menjadi suntikan motivasi yang luar biasa besar untuk membela panji Borneo Hilang Arah.

​Dukungan langsung dari keluarga, teman-teman sekolah, serta komunitas Free Fire Yogyakarta diyakini jadi energi ekstra di atas panggung FFNS 2026 Fall.

​"Tentu jadi booster tambahan, karena kita sekarang bermain di Yogyakarta, aku siap menang, dan memberikan penampilan terbaik," pungkasnya optimis. (aka)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.