Laporan Wartawan TribunJatim.com, Pramita Kusumaningrum
TRIBUNJATIM.COM, PONOROGO - Sebanyak 76 siswa baru Sekolah Rakyat Terintegrasi 5 Ponorogo memulai Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada Selasa (14/7/2026). Namun, mereka tidak mengikuti kegiatan di Ponorogo, melainkan di Sekolah Rakyat Permanen Kabupaten Madiun, Jawa Timur.
Kebijakan tersebut diambil karena gedung permanen Sekolah Rakyat Ponorogo belum siap digunakan.
Selama menunggu proses pembangunan selesai, para siswa akan mengikuti kegiatan belajar mengajar sekaligus tinggal di asrama Sekolah Rakyat Permanen yang berada di Kelurahan Nglames, Kabupaten Madiun.
Langkah ini menjadi solusi sementara agar proses pendidikan tetap berjalan sesuai jadwal tahun ajaran baru tanpa harus menunggu pembangunan sekolah rampung.
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 5 Ponorogo, Devit Tri Candrawati, mengatakan kapasitas sekolah rintisan di Ponorogo belum memungkinkan untuk menampung seluruh peserta didik.
"Tahun ajaran baru di SR Ponorogo hanya dibatasi tiga kelas karena kami menitipkan mereka ke tempat permanen yang terdekat di sekolah rintisan. Jadi kami titipkan di SR permanen Madiun. Kalau di sini tidak muat," ungkap Devit, Minggu (12/7/2026).
Menurutnya, proses pembelajaran di Madiun tidak akan berbeda karena seluruh Sekolah Rakyat di Indonesia menggunakan kurikulum dan sistem pembelajaran yang sama.
"Karena untuk Sekolah Rakyat, kurikulum dan pembelajarannya sama se-Indonesia," ujarnya saat dikonfirmasi TribunJatim.com.
Baca juga: Sekolah Rakyat Ponorogo Mulai Persiapan Tahun Ajaran Baru, Siswa Jalani Cek Kesehatan Menyeluruh
Devit menjelaskan, selama kurang lebih satu tahun ajaran, para siswa akan tinggal di asrama Sekolah Rakyat Permanen Kabupaten Madiun.
Meski demikian, masa belajar di Madiun tidak berlangsung satu tahun penuh karena akan diselingi masa libur semester.
"Sambil menunggu Sekolah Rakyat Ponorogo yang permanen jadi. Tidak setahun penuh sih karena kepotong libur semester," terangnya.
Setelah pembangunan Sekolah Rakyat Permanen Ponorogo di kawasan Jurang Gandul selesai, seluruh siswa akan dipindahkan ke Ponorogo.
"Tahun ajaran baru tahun depan, siap semuanya bisa pindah jadi satu. Anak-anak yang di rintisan maupun yang dititipkan di Madiun," tegasnya.
Ia menambahkan, pembangunan Sekolah Rakyat Permanen Kabupaten Madiun kini telah mencapai sekitar 90 persen.
"Sarpras dan gedung, 90 persen. Kelas, asrama, masjid, aula sudah siap jika minggu depan anak-anak didatangkan untuk MPLS," jelasnya.
Di sekolah tersebut nantinya terdapat sekitar 346 siswa, terdiri atas 270 siswa asal Kabupaten Madiun dan 76 siswa dari Ponorogo.
"Dari sini insyaallah serentak diberangkatkan tanggal 14 Juli sekaligus kegiatan open house di sana dan pembukaan MPLS. Akomodasi semua ditanggung pemda dan SR Ponorogo," paparnya.
Meski harus tinggal jauh dari keluarga, para siswa mengaku siap menjalani kehidupan di asrama.
Salah satunya Sabrina, siswa asal Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo, yang mengaku telah memantapkan diri untuk belajar di Madiun.
"Di Madiun? Insyaallah siap. Untuk masa depan lebih cerah dan bisa membanggakan orang tua," ujarnya.
Kuota Belum Terpenuhi, SD Masih Kekurangan Peserta
Plt Bupati Ponorogo, Lisdyarita, mengatakan Sekolah Rakyat Terintegrasi 5 Ponorogo menyediakan kuota sebanyak 90 siswa, masing-masing 30 siswa untuk jenjang SD, SMP, dan SMA.
Namun hingga penetapan peserta didik, jumlah siswa yang diterima baru mencapai 76 orang.
"Saat ini yang telah ditetapkan ada 76 siswa. SD memang masih 16 siswa. Sedangkan SMP dan SMA itu diseleksi karena banyak peminatnya," kata Lisdyarita.
Menurutnya, masa depan anak tidak ditentukan oleh lokasi sekolah, melainkan semangat belajar yang dimiliki.
"Masa depan cemerlang itu bisa digapai. Bukan dari tempat kalian berada, tapi dari bagaimana kalian belajar dengan keras," ujarnya.
Lisdyarita berharap para orang tua memberikan dukungan penuh kepada anak-anak yang menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat.
Ia mengaku sempat terharu membayangkan beratnya orang tua melepas anak untuk tinggal di asrama.
"Harapan saya yang penting orang tua ikhlas menaruh anaknya di Sekolah Rakyat Terintegrasi 5 Ponorogo ini. Karena kalau tidak ikhlas dibawa pulang lagi. Ini yang kami sesalkan," tuturnya.
Menurutnya, keikhlasan orang tua akan menjadi modal penting agar anak dapat belajar dengan tenang dan meraih masa depan yang lebih baik.
"Pasti ada sedikit kekhawatiran. Tapi di sini sebenarnya tidak begitu. Semua bakal baik-baik saja," pungkasnya.