Penyebab Cuaca Dingin di Solo Raya, Fenomena Bediding Masih Bertahan hingga Juli 2026
Hanang Yuwono July 12, 2026 05:29 PM

 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO – Warga Solo Raya masih merasakan udara dingin pada malam hingga pagi hari meski musim kemarau telah berlangsung.

Bahkan, sejak Juni 2026 fenomena bediding masih menyelimuti sejumlah wilayah di Jawa Tengah, termasuk Solo, Sragen, Klaten, Boyolali, Karanganyar, Sukoharjo, hingga Wonogiri.

Fenomena ini juga ditandai dengan kembali munculnya embun es di kawasan Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara.

Baca juga: Fenomena Bediding Mulai Terasa di Wonogiri, Siang Panas dan Malam Dingin

Di kawasan Sukoharjo, Jawa Tengah, dingin terasa menusuk tulang sejak pagi hari dengan suhu udara di angka 20 derajat celsius pada Minggu (12/7/2026) pukul 05.00 WIB.

Berdasarkan informasi yang beredar di media sosial, suhu udara di Dieng bahkan sempat mencapai minus 7 derajat Celsius pada Kamis (9/7/2026) LALU.

Sementara itu, di sejumlah daerah lain di Jawa Tengah, banyak warga mengaku merasakan suhu udara yang jauh lebih dingin dibandingkan biasanya.

Salah satunya di Sragen, di mana suhu udara pada Kamis pagi dilaporkan berada di kisaran 20 derajat Celsius.

Lantas, apa penyebab udara dingin masih bertahan di Solo Raya dan wilayah Jawa Tengah?

Baca juga: Ancaman Lahar Dingin Merapi, Penambang Kali Apu Boyolali Diminta Lebih Waspada

Puncak Musim Kemarau Jadi Penyebab

Analis Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, Zauyik, menjelaskan bahwa suhu udara yang terasa lebih dingin dibandingkan beberapa bulan sebelumnya merupakan dampak dari puncak musim kemarau.

Menurutnya, sebagian besar wilayah Jawa Tengah diperkirakan memasuki puncak musim kemarau pada Juli hingga Agustus 2026.

Pada periode tersebut, kondisi cuaca cenderung cerah dengan curah hujan yang rendah.

Akibatnya, udara terasa dingin pada malam hingga pagi hari, sementara pada siang hari suhu udara tetap panas karena penyinaran matahari berlangsung maksimal.

Menguatnya Monsun Australia

Selain dipengaruhi musim kemarau, suhu dingin juga dipicu menguatnya angin Monsun Australia.

Angin yang bertiup dari Australia membawa massa udara yang lebih dingin dan kering.

Kondisi ini terjadi karena Australia sedang berada pada musim dingin sehingga udara yang mengalir ke Indonesia memiliki suhu lebih rendah.

Keberadaan massa udara dingin tersebut membuat suhu di Jawa Tengah, termasuk Solo Raya, ikut mengalami penurunan, terutama pada malam hingga dini hari.

Langit Cerah Membuat Suhu Turun Drastis

Faktor lain yang memicu fenomena bediding adalah minimnya tutupan awan saat musim kemarau.

Pada siang hari, permukaan Bumi menyerap panas matahari secara maksimal.

Namun ketika malam tiba, langit yang cerah membuat panas tersebut dengan mudah dilepaskan kembali ke atmosfer melalui proses radiasi.

Tidak adanya awan yang berfungsi sebagai "selimut" menyebabkan panas tidak tertahan di dekat permukaan Bumi.

"Sehingga suhu udara turun secara drastis pada dini hari," jelas Zauyik.

Menurutnya, suhu udara biasanya mencapai titik terendah menjelang matahari terbit.

Fenomena yang Normal Terjadi Saat Kemarau

Fenomena bediding merupakan kondisi yang umum terjadi di Indonesia saat musim kemarau dan bukan pertanda cuaca ekstrem.

Meski udara terasa dingin pada malam hingga pagi hari, kondisi tersebut biasanya akan berubah ketika matahari mulai terbit. Pada siang hari, suhu udara kembali meningkat karena intensitas penyinaran matahari cukup tinggi.

Masyarakat di Solo Raya diimbau menyesuaikan aktivitas dengan perubahan suhu harian, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, maupun mereka yang memiliki riwayat gangguan pernapasan

 (*)
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.