Magelang (ANTARA) - Komunitas Lima Gunung (KLG) Kabupaten Magelang, Jateng memberikan penghargaan tahunan bersama penyelenggaraan seperempat abad pada 2026, Festival Lima Gunung, berupa Lima Gunung Award kepada sinden sepuh Sukitri (81) atau dikenal sebagai Mbah Kitri.

"Tahun ini kami putuskan penghargaan untuk satu sinden lokal asal Kecamatan Pakis yang setia menempuh jalan menjadi sinden, juga penari, penabuh gamelan. Saat ini sudah sepuh, tetapi setia menjadi sinden, dan keluarga besar turun-temurun tidak terlepas dari seni pedalangan," kata budayawan Magelang dan pendiri komunitas itu yang biasa disebut Presiden Lima Gunung, Sutanto Mendut dalam acara tersebut di Magelang, Minggu.

Mbah Kitri tidak bisa hadir langsung dalam acara Festival Lima Gunung XXV selama 10-12 Juli 2026 di Dusun Warangan, Desa Muneng Warangan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang di kawasan Gunung Merbabu, karena sudah sepuh, sehingga diwakilkan oleh salah satu anaknya yang juga dalang, Triyono. Lima Gunung Award 2026 diserahkan Presiden Lima Gunung Sutanto Mendut kepada Mbah Kitri melalui Triyono.

Penyerahan penghargaan bertepatan dengan puncak festival secara mandiri atau tanpa sponsor diselenggarakan seniman petani KLG (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh) tahun ini. Penghargaan itu berupa piagam yang ditandatangani sejumlah tokoh utama KLG, seperti Sutanto Mendut, Sitras Anjilin, Sujono, Supadi Haryanto, M Hari Atmoko, Sih Agung Prasetyo, dan Endah Pertiwi.

Sejak FLG XXII (2023) hingga saat ini, komunitas telah memberikan Lima Gunung Award kepada sejumlah tokoh, baik nasional maupun daerah atau lokal, yang antara lain berdedikasi dengan setia terhadap tradisi, kebudayaan, ilmu pengetahuan, lingkungan alam, perdamaian, spiritualitas, kemanusiaan, dan kemuliaan publik.

"Penghargaan tahun ini kami berikan khusus kepada satu tokoh legendaris, Mbah Kitri, ya nembang, ya main gender, menari," ujar dia.

Secara sepintas Tanto Mendut menyebut suami Mbah Kitri yang juga dalang, anak-anak dan sejumlah cucu, serta menantu yang juga berkesenian terkait dengan seni pedalangan.

Saat acara pemberian penghargaan tersebut, seorang sinden muda dari Ketep, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Irma melantunkan sejumlah tembang Jawa. Begitu pula seorang cucu dan dalang Triyono, masing-masing melantunkan tembang Jawa.

Dalang Triyono menyampaikan terima kasih atas Lima Gunung Award 2026 diberikan kepada Sukitri bertepatan dengan seperempat abad Festival Lima Gunung tahun ini.

Ia menyebut anak, cucu, dan keturunan Sukitri hingga saat ini menggeluti kesenian tradisional, terutama terkait dengan dunia pedalangan dan karawitan.

"Ini merupakan wujud syukur kepada Gusti, Mak (Ibu) saya mendapatkan Lima Gunung Award 2026, anak cucu dan keturunannya terus menjaga dan melestarikan kesenian, khususnya pedalangan, sinden, dan karawitan," ujarnya.

Pada festival tahun ini dengan tema "Makin Goblok Bareng", sebagai ajakan saja untuk bersikap rendah hati menyikapi setiap tantangan dan dinamika kehidupan. Tercatat 85 grup kesenian dengan total 1.274 personel melakukan pementasan. Mereka berasal dari kelompok-kelompok di internal komunitas, desa-desa tetangga Dusun Warangan, dan beberapa kota di Indonesia, yang menjadi jejaring Komunitas Lima Gunung.

Berbagai kegiatan seni budaya tradisional, modern, dan kontemporer dalam festival itu, antara lain tarian, musik, pameran seni rupa, kolaborasi pementasan, performa seni, pembacaan puisi, sarasehan, kirab budaya, pidato kebudayaan.

Warga setempat bersama para komunitas membuat panggung raksasa dengan hiasan berbahan alam di kawasan pertanian sayuran di daerah itu, guna penyelenggaraan festival tersebut.

Puncak festival juga ditandai dengan kirab budaya oleh para tokoh utama Komunitas Lima Gunung dan para pelaku pementasan, dimulai dari perempatan dusun setempat menuju area panggung, sejauh sekitar 700 meter.

Seorang sesepuh warga setempat, Mbah Jumo (66), memimpin doa dan syukur atas festival tersebut sebelum kirab yang antara lain mengusung gunungan sayuran dengan tetabuhan alat musik truntung, tembang-tembang Jawa oleh sejumlah tokoh utama komunitas.

Setiap peserta membawa dupa/hio dengan khusyuk menjalani kirab tersebut hingga panggung, yang dilanjutkan dengan pemukulan bedug secara bergantian oleh para tokoh Komunitas Lima Gunung, dan pementasan berbagai kesenian.