Penuh Haru, MPLS SMP di OKU Timur Sumsel Ini Tetap Dilakukan Pascakebakaran Melanda Tiga Ruang Kelas
Refly Permana July 12, 2026 06:27 PM

 

SRIPOKU.COM, MARTAPURA - Aktivitas Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMP Negeri 2 Bunga Mayang, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Provinsi Sumatera Selatan dipastikan tetap berlangsung sesuai jadwal.

Peristiwa kebakaran yang melanda satu gedung yang berisi tiga ruang kelas, Sabtu (11/7/2026) sore tidak mengubah kegiatan yang dijadwalkan mulai 13 Juli 2026.

Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut karena seluruh warga sekolah berhasil menyelamatkan diri, sementara sebagian peralatan sekolah sempat dievakuasi sehingga kerugian dapat ditekan.

Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan OKU Timur, Ir. H. Dodi Purnama, S.T., M.M., mengatakan hasil pengamatan awal menunjukkan kebakaran diduga kuat dipicu korsleting listrik.

"Hal itu juga diperkuat oleh keterangan sejumlah saksi yang melihat api pertama kali muncul dari bagian atas bangunan," ujarnya kepada jurnalis Sripoku.com pada Minggu (12/7/2026) seusai meninjau lokasi kebakaran. 

Baca juga: Kebakaran di Ulak Paceh Muba, 3 Damkar Dikerahkan Meluncur ke TKP, Rumah Abdul Aziz dan Zainal Ludes

Meski tiga ruang kelas terdampak, Dodi memastikan kegiatan MPLS yang dimulai pada Senin tetap berjalan sebagaimana jadwal yang telah ditetapkan.

"Apalagi masih tersedia ruang belajar yang bisa dimanfaatkan," katanya.

Menurut Dodi, proses belajar mengajar setelah MPLS juga akan disesuaikan dengan kondisi sekolah. 

Dinas Pendidikan bersama pihak sekolah akan mengoptimalkan ruang kelas yang masih layak digunakan agar kegiatan pendidikan tidak terganggu.

Selain memastikan keberlangsungan kegiatan belajar, pemerintah daerah juga mulai menyiapkan langkah penanganan jangka panjang terhadap bangunan yang terbakar.

Ia mengungkapkan, atas arahan Bupati OKU Timur, gedung yang mengalami kebakaran akan diprioritaskan masuk program revitalisasi pada tahun 2027 melalui pendanaan APBN.

Apabila memungkinkan, pemerintah daerah juga akan mengupayakan dukungan pembiayaan melalui APBD agar proses perbaikan dapat dipercepat.

Berdasarkan hasil peninjauan sementara tim teknis, tingkat kerusakan bangunan diperkirakan berada pada kisaran 35 hingga 45 persen atau masuk kategori kerusakan sedang. 

Struktur utama bangunan seperti pondasi dan dinding masih dalam kondisi baik, sehingga yang mengalami kerusakan berat adalah bagian atap, plafon, kusen serta rangka atap yang sudah tidak dapat digunakan kembali.

Dodi menambahkan, kejadian tersebut menjadi evaluasi penting bagi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk melakukan peremajaan instalasi listrik di sekolah-sekolah yang telah berusia tua.

"Ke depan kami akan berkoordinasi dengan pimpinan agar revitalisasi instalasi listrik menjadi bagian dari program prioritas, khususnya bagi sekolah-sekolah yang bangunannya sudah lama. Peremajaan instalasi listrik merupakan kebutuhan agar potensi kebakaran bisa diminimalkan," katanya.

Selain itu, pihaknya juga akan mendorong seluruh sekolah memiliki Alat Pemadam Api Ringan (APAR) sebagai langkah antisipasi apabila terjadi kebakaran pada tahap awal.

"Atas arahan pimpinan, setiap sekolah diharapkan memiliki APAR sehingga api dapat segera dipadamkan sebelum membesar. Kami juga mengingatkan seluruh sekolah untuk menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membiarkan sampah menumpuk demi menciptakan lingkungan belajar yang aman," tambahnya.

Baca juga: ASN Empat Lawang Patungan Membantu Korban Kebakaran, Terkumpul Dana Rp26 Juta

Sementara itu, Kepala SMP N 2 Bunga Mayang, Windaria Prabuyana, mengatakan api pertama kali diketahui muncul dari bagian atas atap gedung sebelum kemudian membesar dan menghanguskan tiga ruang kelas.

"Api mulai membesar sekitar pukul 14.00 WIB. Berdasarkan keterangan guru dan siswa yang berada di lokasi, kobaran api pertama kali terlihat dari bagian atas atap gedung sehingga dugaan sementara memang mengarah pada korsleting listrik," ujarnya.

Ia menjelaskan, saat kejadian sekolah tengah melakukan rapat persiapan MPLS yang diikuti para guru. 

Selain itu, sejumlah siswa juga berada di lingkungan sekolah untuk mengikuti kegiatan gotong royong membersihkan halaman sekolah.

Melihat kobaran api semakin membesar, guru, siswa dan warga sekitar segera berupaya menyelamatkan barang-barang yang masih bisa dievakuasi dari ruang kelas yang berada di sekitar lokasi kebakaran.

"Alhamdulillah tidak ada korban jiwa. Anak-anak juga memiliki inisiatif membantu mengevakuasi berbagai perlengkapan sekolah sehingga kerugian yang lebih besar dapat dihindari," katanya.

Windaria memastikan kebakaran tidak akan menghambat proses pendidikan di sekolah tersebut. 

Seluruh kegiatan MPLS maupun kegiatan belajar mengajar selanjutnya akan dialihkan ke ruang kelas lain yang masih layak digunakan hingga proses perbaikan bangunan selesai dilaksanakan.

"Kami memastikan pelayanan pendidikan kepada siswa tetap berjalan. Ruangan yang masih tersedia akan dimanfaatkan sementara sehingga kegiatan belajar mengajar tidak terhenti," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.