Jelang MPLS, Ratusan Guru Di Buleleng Bali Dapat Pembekalan Pembelajaran Menyenangkan
Putu Dewi Adi Damayanthi July 12, 2026 08:40 PM

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Buleleng mematangkan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah yang dimulai Senin 13 Juli 2026. 

Salah satu upaya yang dilakukan adalah membekali para guru mengenai pembelajaran ramah anak melalui pemaparan Ketua Umum LPAI, Seto Mulyadi atau Kak Seto.

Pembekalan itu dikemas dalam kegiatan Buleleng Excellent Teacher 2026 yang digelar di Gedung Kesenian Gde Manik, Singaraja, Bali, Sabtu 11 Juli 2026. 

Kegiatan tersebut diikuti ratusan guru dari berbagai jenjang pendidikan secara luring maupun daring.

Baca juga: Kak Seto Dorong Kurikulum Ramah Anak Di Bali, Tegaskan Sekolah Harus Menyesuaikan Kebutuhan Siswa

Kepala Disdikpora Buleleng, Ida Bagus Gde Surya Bharata, mengatakan kegiatan tersebut digelar pada waktu yang tepat karena bertepatan dengan persiapan pelaksanaan MPLS Ramah di seluruh satuan pendidikan.

Menurutnya, para guru memperoleh wawasan mengenai cara menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga siswa merasa nyaman dan bersemangat mengikuti pembelajaran sejak hari pertama masuk sekolah.

"Kebetulan juga momen ini sangat bertepatan dengan persiapan MPLS. Jadi guru-guru mendapat insight bagaimana cara membuat pembelajaran semakin menyenangkan, menyemangati anak-anak untuk mau belajar, dan tertarik selalu datang ke sekolah," ujarnya.

Surya Bharata mengatakan, tantangan terbesar pendidikan saat ini adalah kesenjangan antara metode mengajar guru dengan cara belajar murid yang merupakan digital native.

"Jika kita masih mengajar dengan cara 10 tahun yang lalu, maka kita kehilangan murid kita. Saya menitipkan pesan kepada para guru agar menjadi pendidik yang melek digital namun tetap berakar pada budaya lokal Buleleng," pesannya.

Ia menyarankan teknologi seperti Canva, Quizizz, atau AI untuk membuat pembelajaran menarik, namun perlu ditanamkan pula nilai-nilai karakter dan cinta tanah air.

Selain itu, Surya Bharata juga menekankan pentingnya menciptakan ekosistem sekolah yang sehat dan bebas dari perundungan. 

Menurutnya, kepala sekolah harus berperan sebagai pemimpin yang mengayomi agar murid dapat tumbuh secara optimal baik secara akademik maupun mental.

Sementara itu, Kak Seto mengingatkan guru perlu memosisikan diri sebagai sahabat bagi siswa agar proses belajar berlangsung lebih efektif, termasuk saat pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). 

Selain menguasai materi pelajaran, guru juga dituntut kreatif dalam menyampaikan pembelajaran, sehingga anak merasa nyaman dan gembira sejak hari pertama masuk sekolah.

"Guru mohon memosisikan diri sebagai sahabat siswa. Tidak ada unsur pemaksaan, tetapi memahami potensi setiap siswa yang berbeda-beda, kemudian mengajar dengan cara yang kondusif, menarik, dan kreatif," ujarnya.

Ia juga mengingatkan agar guru tidak pernah berhenti belajar. 

Menurutnya, tantangan pendidikan terus berkembang sehingga pendidik harus mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan peserta didik.

Guru, kata dia, dapat memanfaatkan berbagai cara agar pembelajaran lebih hidup, mulai dari bercerita, bernyanyi, hingga menggambar. Dengan begitu, siswa akan lebih mudah memahami materi sekaligus menikmati proses belajar.

"Belajar yang efektif adalah belajar yang menyenangkan, belajar dalam suasana gembira. Jadi ciptakan bagaimana anak gembira dan bahagia," katanya.

Kak Seto menambahkan, pendidikan tidak hanya berfokus pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. 

Sekolah juga perlu menanamkan nilai-nilai etika, estetika, nasionalisme, kesehatan, serta membentuk karakter dan akhlak mulia peserta didik. (mer)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.