TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, LAMPUNG TENGAH – Petani di Lampung Tengah terancam tekor jutaan rupiah setelah jnekat menanam bonggol singkong di atas tanah yang kering kerontang.
Baca juga: Kemarau, Singkong Umur 1,5 Bulan di Lampung Tengah Tumbuh Kerdil
Keputusan nekat menanam bonggol singkong di atas tanah yang kering kerontang berujung pada kegagalan tumbuh, dengan potensi kerugian yang menembus angka Rp5.000.000 per hektare, jika bibit mati serentak atau mengering di dalam tanah.
Kondisi tanah yang kering dan minimnya pasokan air di bulan Juli ini akhirnya memicu ancaman nyata berupa kegagalan tumbuh massal di berbagai wilayah pertanian singkong yang juga sudah mengalami kemarau.
Bilal, petani di Kecamatan Bumi Ratu Nuban, Kabupaten Lampung Tengah mengungkapkan, keputusan nekat tersebut diambil bukan tanpa alasan.
Banyak petani sengaja mengambil risiko tinggi demi mengejar target panen saat harga singkong industri di pasaran sedang kompetitif.
"Nekat tanam bonggol di musim kemarau ini risikonya sangat tinggi, taruhannya modal. Kami mengejar momen harga, tapi kalau alam tidak mendukung, ya begini jadinya," ujar Angga, Minggu (12/7/2026).
Angga menambahkan, dari total satu hektare lahan yang ia tanami bonggol singkong, sama sekali tidak ada tanda-tanda perkembangan dari bibit tersebut.
"Ini luasan satu hektare, sama sekali tidak terlihat perkembangannya atau kerdil karena kurang air. Kalau gagal tanam, kurang lebih kerugian totalnya itu per hektar bisa mencapai lima juta rupiah," keluh Angga.
Menurutnya, jika tanah yang kering tanpa adanya pasokan hujan atau sistem pengairan buatan yang kuat, bonggol singkong akan susah berkembang atau biasa disebut "gabus".
Selain memicu kegagalan tunas pada bibit baru, kemarau di bulan Juli ini juga mengancam tanaman singkong yang sudah menjelang panen.
Angga mengatakan, petani singkong yang usia tanamnya menjelang panen pun dibuat bingung karena kondisi kemarau atau susah air ini.
"Bingungnya karena harga sedang bagus tetapi cuaca kemarau. Jika dipanen dan dapat harga bagus, petani akan menghadapi permasalahan saat hendak tanam, masalahnya air," kata dia.
Sementara, kata dia, jika berkaca pada lahan miliknya, apabila menggunakan sistem pompanisasi untuk mencukupi kebutuhan air juga dinilai kurang efektif.
Sebab, ujar Angga, selain menambah biaya produksi, jarak lahan dengan sumber air alternatif seperti sungai atau waduk juga cukup jauh.
Otomatis Angga dan petani dengan kondisi serupa hanya berharap pada hujan.
"Kalau dipaksakan karena sudah terlanjur tanam ya kurang maksimal, kalaupun bisa lanjut sampai panen, tonase menyusut 50 persen itu sudah pasti, tapi mau gimana lagi," ujarnya.
( TRIBUNLAMPUNG.CO.ID / Fajar Ihwani Sidiq )