TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kekeringan melanda sejumlah wilayah Kota Makassar, Sulawesi Selatan yang menyebabkan krisis air bersih.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari atau yang akrab disapa Aam mengatakan terdapat 18 kelurahan yang tersebar di empat kecamatan terdampak kekeringan.
Baca juga: 179 Ribu Liter Air Bersih Didistribusikan ke 7 Kabupaten di Pulau Jawa yang Alami Kekeringan
Kelurahan itu yakni Kelurahan Cambaya, Kelurahan Camba Berua, Kelurahan Pattingalloang, Kelurahan Pattingalloang Baru, dan Kelurahan Totaka di Kecamatan Ujung Tanah.
Selain itu juga Kelurahan Kaluku Bodoa, Kelurahan Lembo, Kelurahan Buloa, dan Kelurahan Tallo di Kecamatan Tallo.
Sementara di Kecamatan Biringkanaya, kata dia, wilayah yang terdampak yakni Kelurahan Bulurokeng, Kelurahan Katimbang, Kelurahan Paccerakkang, dan Kelurahan Untia.
Selanjutnya di Kecamatan Tamalanrea yakni Kelurahan Kapasa, Kelurahan Parangloe, Kelurahan Tamalanrea, Kelurahan Tamalanrea Indah, serta Kelurahan Tamalanrea Jaya.
"BPBD Kota Makassar melaporkan warga yang terdampak kekeringan mencapai 37.189 jiwa," kata Aam dalam Siaran Pers BNPB pada Minggu (12/7/2026).
"BPBD bersama instansi terkait segera melakukan kaji cepat di lapangan. Hasil dari kaji cepat yang dilakukan, BPBD akan melakukan pendistribusian air bersih yang disebar pada 89 titik kepada warga di 14 kelurahan tersebut," imbuhnya.
Ia mencatat berdasarkan prakiraan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pada periode 10–12 Juli 2026 sebagian besar wilayah Indonesia masih berada pada periode musim kemarau.
Baca juga: Musim Kemarau Tiba, Pemda Diminta Deteksi Dini Karhutla dan Kekeringan
BMKG memprakirakan hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih berpotensi terjadi secara lokal di sebagian wilayah Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Sedangkan wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, serta sebagian Kalimantan diprakirakan didominasi cuaca cerah hingga cerah berawan dengan tingkat kelembapan yang relatif rendah sehingga meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
"BNPB mengimbau kepada warga untuk dapat menghemat penggunaan air bersih pada musim kemarau ini," pungkas Aam.