FEATURE: Menembus Ombak dari Pulau Komodo Menuju Labuan Bajo, Perjuangan Ibu Hamil  
OMDSMY Novemy Leo July 13, 2026 10:19 AM

 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Tari Rahmaniar 

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Dokter akhirnya memutuskan menggunakan alat bantu vakum. Keputusan itu menjadi titik balik perjuangan panjang Dian. Tangis bayi laki-laki seberat 3,5 kilogram akhirnya memecah keheningan ruang bersalin.

Bayi yang kemudian diberi nama Muhamad Faris Al Gibran berhasil lahir dengan selamat.

TEPAT pada Senin sore, tanggal 6 Juli 2026, ombak di perairan antara Pulau Komodo dan Labuan Bajo menjadi saksi bisu perjuangan seorang ibu muda yang mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan buah hatinya.

Dian Lestari (26), warga Pulau Komodo, Kabupaten Manggarai Barat sebelumnya sudah berjam-jam menahan sakit. 

Informasi yang diperoleh Pos Kupang, pada Senin (6/7) sekitar pukul 10.00 Wita, air ketubannya pecah. Tak lama kemudian pembukaan persalinan lengkap. Kepala bayi bahkan sudah terlihat. Namun, hingga sore hari, bayi tak kunjung lahir.

"Sudah dari jam 10 pagi dipaksa mengejan, tapi bayinya tidak mau keluar," ujar Ajis (24) pada Jumat (10/7), suami Dian Lestari saat menceritakan kembali perjuangan istrinya. 

Sebelumnya di Puskesmas Komodo, tiga bidan  mendampingi Dian Lestari dalam perjalanan menuju RSUD Komodo yang berada di Jalan Raya Labuan Bajo-Ruteng, Golo Bilas, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat.

Jarak dari Pulau Komodo menuju Labuan Bajo berkisar sekitar 48 Km dengan waktu tempuh 1,5 hingga 2 jam menggunakan speedboat. Berbagai upaya dilakukan agar persalinan dapat berlangsung normal. Namun kondisi Dian semakin melemah. Setelah berulang kali mengejan. Tenaga ibu muda itu mulai habis.

Dalam kondisi kesakitan, Dian Lestari akhirnya menyerah. Ia meminta dirujuk ke RSUD Komodo di Labuan Bajo. 

Permintaan itu sempat ditolak karena tenaga kesehatan khawatir proses persalinan terjadi di tengah laut.

Dengan kondisi kepala bayi yang sudah setengah keluar, perjalanan menyeberangi laut dinilai memiliki risiko sangat tinggi.
Namun Dian Lestari tetap bersikeras. 

"Istri saya tetap mau ke Labuan Bajo, karena sudah tidak kuat sakitnya," ungkap Ajis mengulang  tekad istrinya yang disampaikan kepada keluarga dan tenaga kesehatan.

Situasi darurat itu kemudian dilaporkan tenaga kesehatan Puskesmas Komodo kepada Padar Heritage Conservation (PHC). Pada pukul 15.08 Wita, Humas PHC, Yoanna Daely, menerima laporan dari dr. Andreas mengenai kondisi pasien yang membutuhkan evakuasi segera.

Menurut dr. Andreas, Dian Lestari telah mengalami pembukaan lengkap sejak pukul 11.30 Wita.

Namun, hingga beberapa jam kemudian bayi belum lahir karena ibu mengalami kesulitan mengejan atau mengalami kala II persalinan memanjang, sehingga membutuhkan penanganan medis lanjutan di rumah sakit.

Awalnya keluarga berencana menggunakan perahu motor biasa. Namun para bidan menyarankan menggunakan speedboat agar waktu tempuh lebih singkat, sekitar 30 menit menuju Labuan Bajo.

Delapan orang berada di dalam speedboat tersebut, termasuk Dian Lestar , Ajis suaminya, beberapa keluarga, pihak PHC dan tiga bidan yang terus mendampinginya selama perjalanan.

Di tengah perjalanan, setiap hentakan ombak menjadi ujian tersendiri. Kontraksi terus datang silih berganti. 

Menurut keluarga, guncangan ombak membuat bayi seperti semakin terdorong keluar.

Namun Dian Lestari justru berusaha menahan karena rasa sakit yang luar biasa. Menjelang waktu Magrib, speedboat merapat di Labuan Bajo.

Dian Lestari langsung dibawa ke RSUD Komodo menggunakan mobil dengan waktu tempuh sekitar 15 menit. 

Sesampainya di rumah sakit, dokter kembali mengupayakan persalinan normal. Kepala bayi yang sudah terlihat menjadi alasan kuat agar proses persalinan tidak dilakukan melalui operasi sesar karena risikonya sangat tinggi.

Meski terus berusaha mengejan hingga sekitar pukul 20.00 Wita, tenaga Dian Lestari semakin menurun. Ia bahkan sempat meminta agar dilakukan operasi. 

Namun tim medis menjelaskan bahwa tindakan tersebut justru berisiko besar mengingat posisi kepala bayi sudah berada di jalan lahir.

Dokter akhirnya memutuskan menggunakan alat bantu vakum. Keputusan itu menjadi titik balik perjuangan panjang Dian Lestari. Tangis bayi laki-laki seberat 3,5 kilogram akhirnya memecah keheningan ruang bersalin. Bayi yang kemudian diberi nama Muhamad Faris Al Gibran berhasil lahir dengan selamat.

Meski demikian, perjuangan belum sepenuhnya usai. Bayi yang usianya belum mencapai 1 minggu tersebut masih harus menjalani perawatan intensif di inkubator dan mendapat bantuan pernapasan untuk memastikan kondisinya terus membaik.

Sementara itu, Dian Lestari telah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Setiap malam, sekitar pukul 20.00 Wita, Dian Lestari kembali datang untuk belajar menyusui sekaligus memantau perkembangan putra pertamanya yang masih menjalani perawatan.

Sebagai seorang ibu muda Dian Lestari berharap agar bayinya bisa sehat dan tumbuh menjadi anak yang berbakti serta bermanfaat untuk masyarakat. 

"Kalau anak sehat, kami orangtua dan keluarga juga senang. Terimakasih untuk semua yang membantu," ungkapnya. (iar) 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.