TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Bondowoso - Sejumlah sekolah negeri di Kabupaten Bondowoso minim jumlah peserta didik baru pada Tahun Ajaran 2026/2027. Beberapa Sekolah Dasar Negeri (SDN) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) bahkan hanya menerima kurang dari 10 siswa baru.
Di antaranya SDN Dabasah 2 di Kecamatan Bondowoso yang hanya memperoleh enam siswa baru serta SDN Locare 1 di Kecamatan Curahdami dengan lima murid kelas I. Kondisi serupa juga dialami SMP Negeri 1 Curahdami dan beberapa sekolah negeri lainnya.
Baca juga: Galakkan Kembali Pos Ronda, Kapolres Bondowoso Pantau Langsung Pos Kamling Sekarputih
Guru SDN Dabasah 2, Dina Anggraeni, mengatakan pihak sekolah telah melakukan berbagai langkah untuk meningkatkan jumlah pendaftar. Upaya tersebut meliputi sosialisasi langsung kepada masyarakat, promosi melalui media sosial, menjalin kerja sama dengan Taman Kanak-Kanak (TK), hingga memberikan fasilitas belajar mengaji secara gratis.
Namun berbagai upaya tersebut belum mampu meningkatkan jumlah pendaftar. Bahkan, jumlah siswa baru tahun ini lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya.
"Tahun ini jumlah siswa baru kami turun. Tahun lalu kelas I ada 10 orang," ujar Dina saat dikonfirmasi, Senin (13/7/2026).
Menurutnya, menjamurnya sekolah swasta di kawasan perkotaan menjadi salah satu penyebab berkurangnya minat masyarakat terhadap sekolah negeri.
"Kalau saya perhatikan, sekarang banyak SD swasta. Sebenarnya yang mengalami penurunan jumlah siswa tidak hanya sekolah kami," tambahnya.
Baca juga: Libur Sekolah Usai, Distribusi Makan Bergizi Gratis di Bondowoso Akan Kembali Berjalan
Dina juga mengungkapkan keterbatasan anggaran yang dihadapi sekolah dengan jumlah siswa sedikit. Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang diterima bergantung pada jumlah peserta didik, sehingga sekolah dengan murid sedikit memiliki anggaran yang lebih terbatas.
Ia membenarkan bahwa guru-guru di sekolahnya kerap mengumpulkan dana secara sukarela, bahkan kepala sekolah menggunakan dana pribadi untuk menutupi kebutuhan kegiatan lomba yang tidak dapat dibiayai melalui BOS.
Saat ini, jumlah seluruh siswa SDN Dabasah 2 dari kelas I hingga kelas VI sekitar 54 orang.
Baca juga: Bondowoso Usulkan Tol Probolinggo-Besuki Dibuka Sementara Saat Perbaikan Jalur Pantura
Kepala Dinas Pendidikan Bondowoso, Taufan Restuanto, mengatakan persoalan minimnya siswa baru juga dialami sekolah-sekolah di wilayah pinggiran.
Menurutnya, sejumlah guru bahkan rela mengumpulkan dana bersama untuk membelikan seragam bagi murid baru sebagai upaya menarik minat masyarakat menyekolahkan anak di sekolah negeri.
"Di sekolah pinggiran, demi menarik minat siswa untuk belajar, guru-guru kita itu sampai urunan membelikan seragam untuk murid baru," jelas Taufan.
Sebagai bentuk dukungan, Dinas Pendidikan Bondowoso bekerja sama dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) membagikan 1.000 seragam sekolah gratis beberapa pekan lalu. Bantuan tersebut diprioritaskan bagi sekolah yang memiliki jumlah siswa kurang dari 70 orang.
Taufan menilai rendahnya jumlah peserta didik baru dipengaruhi beberapa faktor, terutama meningkatnya pilihan sekolah swasta berbasis keagamaan yang diminati masyarakat.
Meski demikian, ia menegaskan kualitas sekolah negeri yang kekurangan murid tetap mampu bersaing.
Sebagai contoh, SDN Dabasah 2 memiliki hasil asesmen dengan nilai tertinggi mencapai 94 dan terendah 46. Sementara itu, SDN Locare 1 mencatat prestasi dengan nilai IPS tertinggi se-Kecamatan Curahdami.
"Secara kualitas kami tidak ragu dengan SDN Dabasah 2, apalagi lokasinya di kota," ujarnya.
Baca juga: Portal Jembatan Koncer Bondowoso Baru Dipasang Empat Jam, Langsung Ditabrak Dua Kendaraan
Terkait kemungkinan penggabungan sekolah atau regrouping, Taufan mengatakan kebijakan tersebut belum menjadi rencana Dinas Pendidikan Bondowoso.
Menurutnya, banyak sekolah negeri di daerah pinggiran tetap dibutuhkan untuk mendekatkan akses pendidikan bagi anak-anak yang tinggal di kawasan berpenduduk jarang, terutama wilayah perbukitan dan pegunungan.
Ia mencontohkan, regrouping pernah dilakukan pada salah satu sekolah. Namun kebijakan itu justru membuat sekolah tersebut kehilangan seluruh siswanya karena lokasi sekolah pengganti dinilai terlalu jauh sehingga masyarakat memilih sekolah lain yang lebih mudah dijangkau.
"Sampai sekarang kami belum mewacanakan untuk regrouping," tegasnya.
Meski jumlah peserta didik baru sangat terbatas, Taufan memastikan seluruh sekolah tetap menyelenggarakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi siswa baru.
"Iya tetap (MPLS, red) itu layanan kita," tambahnya.