TRIBUN-TIMUR.COM, PINRANG - Program Sekolah Rakyat diharapkan menjadi jalan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu di Kabupaten Pinrang, Sulsel, untuk memperoleh pendidikan yang layak sekaligus mewujudkan cita-cita mereka.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan 2025, Angka Partisipasi Sekolah (APS) usia 7–18 tahun di Pinrang mencapai 90,66 persen.
Artinya, sekitar 9,34 persen anak usia sekolah tidak sedang menempuh pendidikan.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 0,41 persen merupakan anak yang belum pernah bersekolah, sedangkan 8,92 persen merupakan anak yang putus sekolah.
Melalui Program Sekolah Rakyat yang digagas pemerintah pusat, anak-anak dari keluarga miskin di Pinrang diharapkan memperoleh akses pendidikan berkualitas tanpa terkendala kondisi ekonomi.
Bupati Pinrang, Andi Irwan Hamid menyampaikan hal itu saat melepas peserta Program Sekolah Rakyat di Halaman Kantor Bupati Pinrang, Jalan Bintang, Kecamatan Watang Sawitto, Senin (13/7/26).
Irwan mengatakan kesempatan mengikuti program tersebut merupakan amanah sekaligus peluang besar untuk mengubah masa depan.
"Pendidikan adalah investasi paling berharga dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Manfaatkan kesempatan ini dengan penuh tanggung jawab. Belajarlah dengan tekun karena pendidikan adalah jalan untuk mengubah masa depan," katanya.
Ia berharap seluruh peserta menjaga nama baik Kabupaten Pinrang dengan menunjukkan sikap disiplin, kerja keras, dan akhlak yang baik selama mengikuti pendidikan.
Menurutnya, keberhasilan para peserta nantinya diharapkan menjadi motivasi bagi anak-anak lain agar tetap bersemangat melanjutkan pendidikan.
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Pinrang Andi Pawelloi Nawir menjelaskan, sebanyak 19 siswa asal Kabupaten Pinrang dinyatakan lolos Program Sekolah Rakyat yang diselenggarakan Kementerian Sosial.
Mereka terdiri atas satu siswa jenjang SD, enam siswa SMP, dan 12 siswa SMA.
Peserta dipilih berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan Kementerian Sosial.
"Jadi bukan kriteria kami, itu kriteria Kementerian Sosial," ujarnya.
Ia mengatakan peserta berasal dari kelompok masyarakat desil satu dan diprioritaskan dari keluarga penerima manfaat Program Keluarga Harapan (PKH) maupun Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).
Awalnya, pendamping PKH mengusulkan 30 calon peserta.
Namun kuota yang diberikan untuk Pinrang hanya 13 siswa SMA, tujuh siswa SMP, dan satu siswa SD.
Dari kuota tersebut, satu peserta SMP belum dapat diberangkatkan sehingga total peserta yang berangkat berjumlah 19 orang.
Pawelloi menegaskan seluruh biaya pendidikan ditanggung pemerintah, termasuk biaya asrama, makan dan minum, perlengkapan sekolah, hingga seragam.
"Biaya pendidikan dan biaya asrama ditanggung negara secara penuh," katanya.
Selain itu, para siswa akan tinggal di asrama dengan pendampingan wali asuh dan wali kelas selama mengikuti pendidikan.
Saat ini, seluruh peserta diserahkan ke Sekolah Rakyat tingkat provinsi.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Pinrang juga menyiapkan pembangunan Sekolah Rakyat di daerah.
Menurut Pawelloi, pembangunan fisik ditargetkan dimulai sekitar September hingga Oktober mendatang.
Sekolah Rakyat tersebut akan dibangun di Desa Malimpung, Kecamatan Patampanua.(*)