TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, LANDAK – Desa Hilir Kantor yang terletak di Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, menyimpan rekam jejak historis yang sangat kaya dalam sistem tata kelola pemerintahan desa.
Sebagai pusat atau jantung dari ibu kota kabupaten, desa ini memiliki perjalanan panjang yang dinamis, mulai dari masa sebelum kemerdekaan Indonesia hingga memasuki era administrasi modern dan keterbukaan informasi saat ini.
Berdasarkan data sejarah resmi yang dihimpun dari portal sistem informasi desa hilirkantor.digitaldesa.id, cikal bakal peradaban birokrasi di wilayah ini sebenarnya sudah terbentuk sejak tahun 1935 dengan status awal sebagai sebuah kampung.
Pada jaman awal kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945, Kampung Hilir Kantor sudah berdiri kokoh sebagai entitas lokal yang mandiri.
Pada masa-masa krusial transisi bangsa tersebut, roda kepemimpinan kampung dipegang oleh seorang Kepala Kampung legendaris bernama Oemar Digul.
Beliau tercatat memimpin dalam kurun waktu yang sangat panjang, yakni selama 35 tahun, terhitung sejak tahun 1935 (sebelum kemerdekaan) hingga memasuki era orde baru di tahun 1970.
Baca juga: Karolin Perjuangkan Sekolah Rakyat di Landak, Target Tingkatkan IPM dan Rata-rata Lama Sekolah
Seiring dengan tuntutan perkembangan zaman dan pertumbuhan jumlah penduduk, pada tahun 1970 pemerintah melakukan kebijakan pemisahan wilayah (pemekaran). Kampung Hilir Kantor kemudian dipecah menjadi dua wilayah administratif terpisah, yaitu Kampung Hilir Kantor dan Kampung Tungkul.
Selama periode pemisahan ini (tahun 1970 sampai dengan tahun 1988), kepemimpinan di masing-masing wilayah dipegang oleh tokoh lokal yang disegani:
Kampung Hilir Kantor dipimpin oleh Kepala Kampung bernama Syafiudin Arsyad.
Kampung Tungkul dipimpin oleh Kepala Kampung bernama Abdurahman Azis.
Setelah hampir dua dekade berjalan masing-masing, dinamika politik dan administrasi daerah kembali berubah.
Tepat pada tahun 1989, pemerintah menerapkan kebijakan grofing desa, yakni penggabungan kembali wilayah-wilayah kecil untuk efisiensi birokrasi.
Dua kampung yang sempat terpisah tersebut akhirnya dipersatukan kembali menjadi satu kesatuan utuh dengan nama Desa Hilir Kantor.
Pasca-penyatuan kembali ini, estafet kepemimpinan Desa Hilir Kantor terus bergulir secara berkesinambungan demi menjaga stabilitas dan pembangunan desa:
Salimansyah (Masa jabatan 1989 s.d. 1999): Memimpin di masa-masa awal penyatuan kembali pasca-kebijakan grofing.
Joko Nikolaus Nata (Masa jabatan 1999 s.d. 2006): Mengawal masa transisi desa di awal era reformasi Indonesia.
Sugito (Masa jabatan 2007 s.d. 2013): Berfokus pada penataan infrastruktur dasar perdesaan.
Yohanes, S.Pd.K, M.Sos (Masa jabatan 2014 s.d. sekarang): Terpilih pertama kali pada tahun 2014, ia dinilai sukses membawa kemajuan bagi desa hingga kembali mendapatkan amanah dari masyarakat untuk memimpin di periode kedua (tahun 2020 sampai dengan tahun 2026).
Sebagai wilayah yang berada di kawasan strategis Kecamatan Ngabang, Desa Hilir Kantor memiliki batas-batas wilayah geografis yang jelas dan berbatasan langsung dengan pusat ekonomi serta aliran sungai penting:
Sebelah Utara: Berbatasan dengan Desa Hilir Tengah, Muara Sungai Setabar, Sungai Ngabang, dan Desa Amboyo Utara.
Sebelah Timur: Berbatasan langsung dengan Desa Hilir Tengah serta aliran Sungai Landak yang legendaris.
Sebelah Selatan: Berbatasan dengan wilayah Desa Tebedak dan Desa Hilir Tengah.
Sebelah Barat: Berbatasan dengan kawasan agraris dan permukiman Desa Amboyo Utara serta Desa Amboyo Inti. (*)