Tradisi Sederhana Kini Jadi Agenda Budaya, Festival Bubur Suro Semarak, Sedot Ribuan Pengunjung
M Syofri Kurniawan July 14, 2026 06:56 AM

TRIBUNJATENG.COM, PEKALONGAN - Tradisi Bubur Suro di Kelurahan Krapyak, Kota Pekalongan, terus berkembang melampaui fungsi sebagai warisan budaya.

Melalui kolaborasi dengan Bank Indonesia (BI) Tegal dalam Syafaat Festival Bubur Suro 2026, tradisi tahunan tersebut kini menjadi penggerak ekonomi syariah yang melibatkan pelaku UMKM, penghimpunan wakaf produktif, hingga promosi budaya lokal kepada masyarakat luas.

Puncak sekaligus penutupan Syafaat Festival Bubur Suro 2026, Minggu (12/07/2026) malam, berlangsung meriah dengan kirab 5.000 tangkir Bubur Suro dari Balai Kelurahan Krapyak menuju lokasi festival.

Ribuan warga memadati sepanjang rute kirab hingga area festival untuk menyaksikan prosesi yang menjadi tradisi masyarakat setempat.

Kirab yang menempuh jarak sekitar 200 meter itu diiringi musik tradisional dan doa bersama.

Setibanya di panggung utama, rombongan disambut Wali Kota Pekalongan, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Tegal, jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), tokoh masyarakat, serta pengurus Masyarakat Ekonomi Syariah (MES).

Acara kemudian ditutup dengan pembagian 5.000 tangkir Bubur Suro kepada masyarakat.

Kepala Perwakilan BI Tegal, Bimala, mengatakan Syafaat Festival merupakan bagian dari rangkaian Road to Festival Ekonomi Syariah (FESyar) menuju Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026.

Tahun ini, BI Tegal memilih berkolaborasi dengan Festival Bubur Suro karena dinilai memiliki kekuatan budaya lokal yang layak dikembangkan sebagai penggerak ekonomi masyarakat.

"Festival Bubur Suro ini sangat lokal dan mendapat antusiasme luar biasa. Potensi budaya seperti ini ingin kami angkat agar semakin dikenal sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat," ujarnya.

Menurutnya, kolaborasi tersebut tidak hanya menghadirkan pertunjukan budaya, tetapi juga memperkuat ekosistem ekonomi syariah melalui bazar UMKM, edukasi transaksi digital, berbagai perlombaan, hingga penghimpunan wakaf produktif.

Hingga penutupan festival, penghimpunan dana wakaf mencapai sekitar Rp 68 juta.

FESTIVAL BUBUR SURO - Wali Kota Pekalongan Achmad Afzan Arslan Djunaid didampingi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Tegal Bimala, saat menghadiri festival bubur suro di depan kelurahan Krapyak, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, Minggu (12/7/2026) malam.
FESTIVAL BUBUR SURO - Wali Kota Pekalongan Achmad Afzan Arslan Djunaid didampingi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Tegal Bimala, saat menghadiri festival bubur suro di depan kelurahan Krapyak, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, Minggu (12/7/2026) malam. (TRIBUN JATENG/Dok Kominfo Kota Pekalongan)

Dana tersebut akan dikelola bersama Masyarakat Ekonomi Syariah untuk mendukung program pembibitan varietas biosalin sebagai upaya pengembangan pertanian di kawasan pesisir Pekalongan.

"Nilai penghimpunan wakaf meningkat dibanding tahun lalu, menandakan kepedulian masyarakat terhadap wakaf produktif semakin tinggi," kata Bimala.

Sementara itu, Wali Kota Pekalongan Achmad Afzan Arslan Djunaid menilai Festival Bubur Suro terus mengalami perkembangan signifikan.

Dari tradisi sederhana yang digelar masyarakat Krapyak, kini festival telah menjadi agenda budaya yang mampu menarik ribuan pengunjung dari berbagai daerah.

Menurutnya, penyelenggaraan festival juga memberikan dampak ekonomi yang nyata dengan melibatkan sekitar 70 stan UMKM yang menjajakan beragam produk lokal selama kegiatan berlangsung.

"Festival ini bukan hanya menjaga tradisi, tetapi juga menggerakkan perekonomian masyarakat. Antusiasme pengunjung setiap tahun terus meningkat," ujarnya.

Aaf menambahkan, Pemerintah Kota Pekalongan berkomitmen mendorong Festival Bubur Suro diusulkan sebagai Warisan Budaya Takbenda, agar tradisi tersebut memperoleh perlindungan sekaligus pengakuan yang lebih luas. (Indra Dwi Purnomo)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.