TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Di sebuah gang di Kampung Tandang, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, berdiri sebuah rumah bercat abu-abu dua lantai.
Tak ada pagar megah, tak pula plang mencolok. Hanya sebuah tulisan sederhana di dindingnya yaitu Rumah AIRA. Sekilas, bangunan itu tampak seperti rumah pada umumnya.
Namun, siapa sangka, di balik pintunya tersimpan puluhan kisah tentang perjuangan, kehilangan, harapan, sekaligus cinta yang tak mengenal syarat.
Di rumah itulah anak-anak penyintas HIV/AIDS menemukan kembali pelukan yang sempat hilang.
Mereka memanggil perempuan yang membuka pintu rumah itu dengan satu sebutan sederhana, tetapi penuh makna Mama Lena.
Perempuan bernama lengkap Maria Magdalena Endang Sri Lestari itu tak pernah membayangkan hidupnya akan berbelok sejauh ini.
Dulu, kesehariannya jauh dari dunia pendampingan sosial.
Ia adalah guru senam, pernah menjadi event organizer, hingga bekerja sebagai staf administrasi keuangan di sebuah rumah sakit swasta di Kota Semarang.
"Cita-cita saya dulu sederhana, ingin menyehatkan ibu-ibu lewat senam," kenangnya sambil tersenyum, Sabtu (11/7).
Namun hidup mempertemukannya dengan seorang relawan bernama Anita.
Dari perempuan itulah Mama Lena pertama kali mengenal dunia HIV/AIDS, terutama anak-anak yang harus hidup dengan virus tersebut.
Pertemuan itu perlahan mengubah arah hidupnya.
Perubahan semakin kuat ketika ia berkunjung ke Rumah Lentera di Solo, sebuah panti yang merawat anak-anak penyintas HIV.
Di sana, ia melihat anak-anak yang bukan hanya berjuang melawan penyakit, tetapi juga menghadapi stigma dan penolakan dari lingkungan sekitar.
Sejak saat itu, hatinya tak lagi sama. Ia masih mengingat doa yang dipanjatkannya saat itu.
"Kalau memang Tuhan mengutus saya untuk merawat anak-anak ini, bantu saya, kuatkan saya, sehatkan saya, dan lancarkan rezeki saya."
Doa itu lalu menjadi awal perjalanan panjang yang mengubah hidup banyak orang.
Pada 2015, bersama Anita, ia mendirikan Rumah AIRA, singkatan dari Anak Itu Rahmat Allah.
Rumah sederhana itu lahir dengan satu tujuan: menjadi tempat aman bagi anak-anak penyintas HIV/AIDS yang sering kali kehilangan keluarga, kasih sayang, bahkan masa kecil mereka.
Beri edukasi
Namun membangun rumah tersebut tidaklah mudah. Mama Lena berkali-kali ditolak saat mencari tempat tinggal. Sebagian masyarakat takut.
Mereka khawatir anak-anak itu dapat menularkan HIV hanya karena tinggal berdekatan.
Alih-alih menyerah, Mama Lena memilih mendatangi warga satu per satu. Ia menjelaskan bahwa HIV tidak menular melalui sentuhan, pelukan, ataupun hidup bertetangga.
Edukasi demi edukasi ia lakukan, hingga perlahan masyarakat mulai memahami. Namun cobaan terbesar justru datang di tahun yang sama.
Seorang anak yang diasuhnya, berinisial A, meninggal dunia di pangkuannya.
Hari itu bertepatan dengan Hari AIDS Sedunia, 1 Desember 2015.
Belum selesai kesedihannya, empat anak lain menyusul meninggal dalam waktu berdekatan.
Peristiwa itu nyaris membuatnya runtuh. Tetapi justru dari kehilangan itulah lahir tekad yang semakin kuat.
Ia berjanji tidak ingin ada lagi anak penyintas HIV/AIDS yang kehilangan kesempatan hidup hanya karena terlambat mendapatkan kasih sayang dan pendampingan.
"Saya berjanji akan merawat mereka. Termasuk bayi-bayi yang sudah tidak punya orang tua," ujarnya.
Kini, Rumah AIRA telah menjadi rumah bagi puluhan anak dari berbagai daerah, seperti Semarang, Jepara, hingga Tegal, yang pernah mendapatkan pendampingan.
Selain itu, sekitar belasan orang dewasa penyintas HIV/AIDS juga ikut didampingi.
Bagi Mama Lena, mereka datang bukan sekadar membawa penyakit.
Mereka membawa harapan yang harus diperjuangkan. Ia memastikan anak-anak tetap mengonsumsi obat antiretroviral (ARV), memperoleh pendidikan, bahkan mengikuti kursus agar memiliki keterampilan hidup.
Baginya, kesembuhan bukan hanya soal kesehatan fisik. Kesembuhan juga berarti mampu hidup mandiri, percaya diri, dan diterima oleh masyarakat. Perjalanan itu tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Ada masa-masa ketika kebutuhan rumah tak mampu lagi dipenuhi.
Di saat itulah Mama Lena memilih melakukan apa saja yang bisa dikerjakan.
Ia bahkan rela mengamen dari gereja ke gereja demi membeli susu, makanan, hingga kebutuhan sekolah anak-anak yang diasuhnya.
Tak ada rasa malu.
Sebab yang ia perjuangkan jauh lebih besar daripada harga dirinya sendiri. Hari demi hari berlalu.
Anak-anak yang dulu datang dengan tubuh lemah kini mulai tumbuh, bersekolah, bermain, bahkan bercita-cita.
Sebagian sudah mampu menjalani hidup lebih mandiri. Itulah kebahagiaan terbesar bagi Mama Lena.
Ia tak ingin anak-anak itu selamanya bergantung pada Rumah AIRA.
Ia ingin mereka berdiri di atas kaki sendiri, membuktikan bahwa penyintas HIV/AIDS juga mampu meraih masa depan.
"Saya hanya ingin memperjuangkan hak anak-anak dan perempuan penyintas HIV/AIDS. Mereka layak dicintai, bukan dijauhi. Anak-anak ini tidak berdosa," ucapnya.
Di tengah stigma yang masih ada hingga hari ini, Rumah AIRA terus berdiri. Bukan sekadar bangunan bercat abu-abu.
Melainkan rumah yang mengajarkan bahwa kasih sayang mampu mengalahkan rasa takut, dan bahwa setiap anak apa pun kondisi kesehatannya tetaplah rahmat dari Tuhan. (Budi Susanto)