Laporan Wartawan Tribunsumsel.com, Linda Trisnawati
TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Sumatera Selatan berharap sinergi antara RSUP Dr. Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang dan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sriwijaya (Unsri) tetap terjaga meski pemberlakuan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 6 Tahun 2026 mengubah pola pendidikan profesi dokter.
IDI menilai kolaborasi yang telah terjalin selama puluhan tahun merupakan aset penting dalam mencetak dokter berkualitas dan tidak seharusnya terputus akibat perubahan kebijakan.
Ketua IDI Wilayah Sumatera Selatan, dr. Abla Ghanie, Sp.THT-KL, Subsp.Oto (K), FICS, mengatakan pihaknya memahami implementasi Permenkes Nomor 6 Tahun 2026 merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam melakukan penataan sistem pendidikan kedokteran di Indonesia.
"Namun demikian, kami juga memandang bahwa hubungan historis antara Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya dan RSUP Dr. Mohammad Hoesin telah terjalin selama puluhan tahun dan memberikan kontribusi besar dalam melahirkan banyak dokter yang mengabdi di Sumsel maupun di berbagai daerah di Indonesia," kata Dokter Abla, Selasa (14/7/2026).
Baca juga: Koas FK Unsri Pindah ke RSUD Siti Fatimah, IDI Sumsel: Yang Penting Kualitas Pendidikan Terjaga
Sejak aturan tersebut diberlakukan, mahasiswa kepaniteraan klinik (koas) FK Unsri nantinya tidak lagi menjalani pendidikan klinik di RSMH Palembang.
Pendidikan klinik mahasiswa kini dilaksanakan di RSUD Siti Fatimah Provinsi Sumatera Selatan, sementara RSMH difokuskan sebagai rumah sakit pendidikan bagi Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS).
Menurut Dokter Abla, perubahan kebijakan tersebut tidak mengurangi pentingnya mempertahankan hubungan akademik yang selama ini telah terbangun antara FK Unsri dan RSMH.
Ia menilai kerja sama yang telah berlangsung selama puluhan tahun telah melahirkan ekosistem pendidikan yang kuat dan menjadi bagian dari sejarah perkembangan pendidikan kedokteran di Sumatera Selatan.
"Karena itu sangat disayangkan apabila hubungan akademik yang telah terbangun begitu kuat tersebut menjadi berkurang. Nilai sejarah, pengalaman, dan ekosistem akademik yang telah terbentuk merupakan aset yang patut dipertahankan," katanya.
IDI Sumsel berharap implementasi Permenkes Nomor 6 Tahun 2026 tetap membuka ruang kolaborasi antara FK Unsri dan RSMH.
Dengan demikian, mahasiswa koas masih dapat memperoleh pengalaman klinis yang komprehensif di rumah sakit rujukan tertinggi di Sumatera Selatan, sementara pengembangan pendidikan dokter spesialis juga dapat berjalan secara optimal.
"Kami berharap implementasi kebijakan ini tetap membuka ruang kolaborasi antara FK Unsri dan RSUP Dr. Mohammad Hoesin, sehingga mahasiswa koas tetap dapat memperoleh pengalaman klinis yang komprehensif di rumah sakit rujukan tertinggi di Sumatera Selatan, sementara pengembangan pendidikan dokter spesialis juga dapat berjalan optimal," katanya.
Menurut Dokter Abla, kolaborasi tersebut penting untuk menjaga kualitas pendidikan kedokteran sekaligus meningkatkan mutu pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
"Dengan demikian, kualitas pendidikan kedokteran tetap terjaga dan pelayanan kepada masyarakat semakin baik," katanya.