Amsterdam Dibangun di Atas Jutaan Tiang Kayu, Kok Bisa Tidak Ambles?
Muhammad Fatoni July 14, 2026 05:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM - Kalau melihat Amsterdam dari permukaan, kota ini tampak seperti kota tua Eropa pada umumnya, dipenuhi kanal, bangunan bersejarah, dan rumah-rumah khas yang berdiri rapat.

Namun, ada fakta menarik yang jarang diketahui wisatawan yang berkunjung ke Negeri Belanda.

Sebagian besar bangunan di Amsterdam sebenarnya tidak berdiri di atas tanah yang keras, melainkan ditopang oleh jutaan tiang kayu yang ditanam jauh ke dalam tanah.

Tanpa fondasi tersebut, banyak bangunan di kota ini berpotensi tenggelam atau ambles karena kondisi tanahnya yang sangat lunak.

Kenapa Harus Pakai Tiang Kayu?

Amsterdam dibangun di atas tanah rawa yang didominasi lapisan gambut dan lempung. 

Jenis tanah ini tidak cukup kuat menopang bangunan-bangunan berat.

Baru pada kedalaman sekitar 12 meter terdapat lapisan pasir yang jauh lebih padat dan mampu menjadi fondasi alami.

Karena itulah, sejak berabad-abad lalu masyarakat Belanda mengembangkan cara sederhana tetapi efektif.

Mereka menancapkan tiang-tiang kayu hingga mencapai lapisan pasir tersebut, lalu membangun fondasi batu di atasnya sebelum mendirikan bangunan.

Metode ini digunakan secara luas sejak abad ke-16 hingga awal abad ke-20.

Salah satu contoh paling terkenal adalah Rijksmuseum, museum nasional Belanda yang berdiri di atas sekitar 8.000 tiang kayu.

Baca juga: Fakta di Balik Nama Oblok Nila, Kuliner Khas Betawi yang Sering Disangka Berbahan Ikan Nila

Kenapa Tiang Kayunya Bisa Bertahan Ratusan Tahun?

Rahasianya justru ada pada air.

Selama tiang-tiang kayu itu terus terendam air tanah, kayu hampir tidak terpapar oksigen. 

Tanpa oksigen, jamur dan mikroorganisme yang biasanya menyebabkan pembusukan tidak dapat berkembang, sehingga kayu mampu bertahan selama ratusan tahun.

Karena itulah fondasi kayu di Amsterdam bisa tetap menopang bangunan hingga sekarang.

Masalah Muncul Saat Air Tanah Turun

Ancaman terbesar justru muncul ketika permukaan air tanah menurun.

Jika bagian atas tiang mulai terkena udara, oksigen memungkinkan jamur berkembang dan perlahan menggerogoti kayu.

Lama-kelamaan kekuatan fondasi berkurang sehingga bangunan mulai mengalami penurunan yang tidak merata.

Gejalanya bisa berupa retakan pada dinding, lantai yang miring, hingga pintu dan jendela yang sulit ditutup.

Bahkan, sebagian rumah tua di Amsterdam yang tampak sedikit miring bukan semata-mata karena faktor usia bangunan, tetapi juga akibat pergerakan fondasi.

Perubahan Iklim Jadi Tantangan Baru

Masalah ini kini semakin menjadi perhatian di Belanda.

Perubahan iklim yang memicu musim kemarau lebih panjang berpotensi menurunkan permukaan air tanah. 

Jika kondisi tersebut terus terjadi, semakin banyak fondasi kayu yang berisiko rusak.

Diperkirakan sekitar satu juta rumah di Belanda yang dibangun sebelum 1970 masih menggunakan fondasi tiang kayu serupa. 

Biaya perbaikannya diperkirakan dapat mencapai 100 miliar euro.

Karena alasan itu pula, pembangunan modern di Belanda kini umumnya menggunakan tiang beton atau baja yang lebih tahan terhadap perubahan kondisi lingkungan.

Bukti Cerdiknya Rekayasa Sipil Zaman Dulu

Fondasi tiang kayu menunjukkan bagaimana masyarakat Belanda mampu beradaptasi dengan kondisi alam yang tidak ideal sejak ratusan tahun lalu.

Solusi tersebut terbukti mampu menopang kota selama berabad-abad. 

Namun, perubahan lingkungan yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa bahkan teknologi yang sangat berhasil sekalipun tetap memiliki batas ketika kondisi alam ikut berubah.

Amsterdam pun menjadi contoh bahwa kekuatan sebuah kota tidak hanya bergantung pada bangunan yang terlihat di permukaan, tetapi juga pada fondasi yang tersembunyi jauh di bawah tanah.

(MG Farhatiy Rijal)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.