Dua Tahun SDN Nailan Ponorogo Tak ada Murid Baru, Alasan Sepi Peminat Dikuak Kades
Torik Aqua July 14, 2026 07:14 PM

 

TRIBUNJATIM.COM - Suasana hari pertama masuk sekolah di SDN Nailan, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur berbeda dari kebanyakan sekolah lainnya, Senin (13/7/2026).

Selama dua tahun berturut-turut, sekolah tersebut tidak menerima satu pun murid baru sehingga ruang kelas I kembali kosong pada awal tahun ajaran 2026/2027.

Kini, SDN Nailan hanya memiliki 13 siswa yang masih aktif belajar.

Kondisi itu membuat para siswa berharap sekolah mereka kembali ramai, sementara pihak sekolah terus berupaya mempertahankan kegiatan belajar mengajar meski jumlah peserta didik terus menyusut.

Baca juga: Cuma Punya 3 Siswa Baru, SD Negeri Purwoyoso Semangat Datangkan Badut saat MPLS, Kepsek: Tak Kendor

Beberapa ruang kelas bahkan tidak lagi digunakan sebagaimana mestinya akibat minimnya jumlah peserta didik.

Bagi Ardian Saputra, siswa kelas VI, kondisi tersebut sudah menjadi pemandangan sehari-hari.

Meski mengaku tetap senang belajar karena sekolahnya dekat dari rumah, ia berharap suatu saat SDN Nailan kembali ramai dengan kehadiran teman-teman baru.

“Pengennya banyak temennya,” ucap siswa kelas VI SDN Nailan, Ardian Saputra, singkat saat ditanya harapannya, Senin (13/7/2026) pagi.

Dia menjelaskan saat kelas I dulu, SDN Nailan sangat ramai. Semua kelas terisi, ada siswanya.

Akan tetapi, kondisi tersebut perlahan berubah.

“Semua berubah, satu tahun di bawah saya cuma 2 siswa. Di bawahnya lagi cuma 1 siswa. Nah sekarang kelas 2, kelas 1 malah 0 siswa,” katanya.

Dia mengaku sedih dan berharap kembali memiliki banyak teman.

Ardian menyatakan dulu memilih SDN Nailan lantaran banyak teman, selain itu dekat dengan rumah.

“Rumah saya dekat dengan sekolah. Saya naik sepeda ke sekolah. Makanya sekolah sini (SDN Nailan),” terang Ardian saat dikonfirmasi TribunJatim.com.

Siswa lain, Ilham Ali, mengaku hal yang sama.

Dirinya merasa sedih lantaran sudah dua tahun ini tidak ada siswa baru di SDN Nailan Ponorogo.

“Ya temannya ndak ada, ndak tambah.

Saya satu kelas cuma saya sama Ridwan,” papar siswa kelas III SDN Nailan ini.

Dia mengaku sekolah di SDN Nailan lantaran letak sekolahnya dekat dengan rumah.

Dia pun hanya perlu naik sepeda ontel.

“Naik sepeda ontel, kan dekat. Makanya saya memilih sekolah sini, eh malah temannya sedikit,” jabarnya.

Pemandangan berbeda terlihat di SDN Nailan, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Senin (13/7/2026).

Bagaimana tidak, saat sekolah lain menyambut riuh murid baru di awal tahun ajaran, ruang kelas I di sekolah ini justru tetap kosong.

Sudah dua tahun berturut-turut tak ada satu pun siswa baru yang mendaftar, membuat para guru harus menerima kenyataan mengajar di sekolah dengan bangku-bangku yang tak lagi terisi.

Pantauan TribunJatim.com, sekolah yang terletak di Jalan Srikoyo, Desa Nailan, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, hanya memiliki 13 siswa.

Tak jauh berbeda dengan sekolah dasar pada umumnya.

Siswanya menggunakan seragam putih merah.

Bedanya, sekolah mereka makin sepi lantaran banyak yang lulus, namun tidak ada pendaftar.

Pada hari pertama, siswa SDN Nailan membersihkan kelas mereka.

Kemudian dilanjutkan dengan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).

Untuk ruang kelas I tetap dibuka oleh guru SDN Nailan. Walaupun dua tahun tidak ada siswa, ruang kelasnya masih terlihat terawat.

Hasil karya siswa yang saat ini naik ke kelas III pun masih terpampang.

Sementara itu, ruang kelas II dialihkan sebagai musala sekaligus ruang pembelajaran bersama.

Di ruang kelas tersebut dipasang karpet dan ada Smart TV.

“Ya begini mbak, tidak ada siswa baru untuk tahun ini, ngajar bangku kosong,” ungkap Plt Kepala SDN Nailan Ponorogo, Faridatul Zahro, dengan nada lirih, Senin pagi.

Dia menjelaskan bahwa tidak hanya tahun ajaran 2026/2027 saja SDN Nailan tidak mendapatkan siswa.

Tahun ajaran 2025/2026 pun sama, tidak ada pendaftar.

“Jadi saat SPMB (Sistem Penerimaan Murid Baru) tidak ada yang mendaftar. Baik itu online maupun offline. Sudah dua tahun ini,” pungkasnya.

Kata Kades

Sudah dua tahun berturut-turut Sekolah Dasar Negeri (SDN) Nailan, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, tidak menerima siswa baru.

Kondisi itu disebut Kepala Desa Nailan Nurhadi bukan semata karena minimnya minat masyarakat, tetapi juga karena sekolah tersebut berada di tengah kepungan sejumlah lembaga pendidikan lain yang menjadi pilihan utama warga.

“Posisi SDN Nailan diapit sejumlah sekolah dasar dan madrasah, mulai dari sekolah dasar milik Pondok Gontor, Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN), hingga sekolah dasar lain di desa sekitar,” ungkap Kades Nailan, Nurhadi, Senin (13/7/2026).

Dia menjelaskan warga Desa Nailan bagian selatan masuk ke SD atau MI yang berada di Desa Gundik, Kecamatan Slahung. Kemudian di sisi utara memilih sekolah yang terletak di Desa Singkil, Kecamatan Balong.

“Kalau yang bagian utara itu ke Singkil, yang barat itu dekat ke MIN, yang timur ke Arisallah. Jadi kita itu terkepung,” tambah Nurhadi saat ditemui di SDN Nailan, Jalan Srikoyo, Desa Nailan, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.

Menurutnya, tren masyarakat yang kini lebih mengutamakan pendidikan dasar berbasis keagamaan membuat banyak orang tua memilih menyekolahkan anaknya ke madrasah dibandingkan SD negeri di desanya sendiri.

“Jadi rata-rata ini larinya ke MIN. Itu dasarnya seperti itu. Kalau upaya, upaya kita sudah berusaha sebenarnya,” papar Nurhadi kepada TribunJatim.com.

Dia menjelaskan bahwa di Desa Nailan ada sekolah playgroup. Dari playgroup, dia menjelaskan, siswa bisa diarahkan atau diminta mendaftar ke TK di Desa Nailan.

“Tapi mengapa dari TK itu lari ke SD itu sulit? Setelah kita konsul, bahkan kita mengambil sikap, dari semua wali murid itu kita kumpulkan, kita tanya. Tapi ya itu tadi, ‘Pak, biar ke MIN aja dulu,’ jawabannya seperti itu,” kisahnya.

Sehingga, jelas dia, dua tahun berturut-turut tidak ada yang mendaftar sebagai siswa di SDN Nailan.

Untuk warga, dia menjelaskan bahwa Desa Nailan memiliki sekitar 1.400 penduduk. Dari jumlah tersebut, memang untuk tahun ini sangat sedikit anak yang usianya masuk SD.

“Potensi masuk kelas 1 memang tidak ada. Memang tidak ada, sedikit. Kalau kita melihat dari Posyandu saja, memang kriteria untuk masuk ke tingkat SD itu kecil banget,” pungkasnya.

Pemandangan berbeda terlihat di SDN Nailan, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Senin (13/7/2026).

Bagaimana tidak, saat sekolah lain menyambut riuh murid baru di awal tahun ajaran, ruang kelas I di sekolah ini justru tetap kosong.

Sudah dua tahun berturut-turut tak ada satu pun siswa baru yang mendaftar, membuat para guru harus menerima kenyataan mengajar di sekolah dengan bangku-bangku yang tak lagi terisi.

Pantauan TribunJatim.com, sekolah yang terletak di Jalan Srikoyo, Desa Nailan, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, hanya memiliki 13 siswa.

Tak jauh berbeda dengan sekolah dasar pada umumnya. Siswanya menggunakan seragam putih merah. Bedanya, sekolah mereka makin sepi lantaran banyak yang lulus, tetapi tidak ada pendaftar.

Pada hari pertama, siswa SDN Nailan membersihkan kelas mereka. Kemudian dilanjutkan dengan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).

Untuk ruang kelas I tetap dibuka oleh guru SDN Nailan. Walaupun dua tahun tidak ada siswa, ruang kelasnya masih terlihat terawat. Hasil karya siswa yang saat ini naik ke kelas III pun masih terpampang.

Sementara itu, ruang kelas II dialihkan sebagai musala sekaligus ruang pembelajaran bersama. Di ruang kelas tersebut dipasang karpet dan ada Smart TV.

“Ya begini mbak, tidak ada siswa baru untuk tahun ini, ngajar bangku kosong,” ungkap Plt Kepala SDN Nailan Ponorogo, Faridatul Zahro, dengan nada lirih, Senin pagi.

Dia menjelaskan bahwa tidak hanya tahun ajaran 2026/2027 saja SDN Nailan tidak mendapatkan siswa. Tahun ajaran 2025/2026 pun sama, tidak ada pendaftar.

“Jadi saat SPMB (Sistem Penerimaan Murid Baru) tidak ada yang mendaftar. Baik itu online maupun offline. Sudah dua tahun ini,” pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.