Sebuah laporan kasus medis langka menghebohkan Belgia. Seorang kakek berusia 83 tahun mendatangi rumah sakit akibat kulitnya yang mendadak terasa sangat gatal.
Siapa sangka, keluhan tersebut justru mengarah pada diagnosis penyakit menular seksual sifilis dalam bentuk yang sangat langka.
Awalnya, pasien mencari perawatan medis karena otot di satu sisi wajahnya tiba-tiba melemah dan terkulai. Kondisi tersebut dikenal sebagai kelumpuhan saraf wajah perifer unilateral dan sempat mengalami demam.
Dikutip dari , keluhan tersebut sempat mereda. Tetapi, pada pemeriksaan awal di departemen neurologi, pasien dinyatakan mengalami anemia, penyakit hati berlemak, dan pembesaran limpa.
Tim dokter sempat menduga pasien mengalami infeksi virus. Hasil dari serangkaian tes justru menunjukkan hasil negatif untuk virus Epstein-Barr, sitomegalovirus, HIV, serta hepatitis A, B, C, dan E.
Kelumpuhan di wajahnya sempat membaik setelah diberikan kortikosteroid kuat selama 10 hari, sampai masalah baru muncul sekitar sebulan kemudian. Lutut dan pergelangan kakinya menjadi kaku, nyeri, tubuhnya membengkak, berat badannya naik 5 kg, dan urinenya menjadi lebih gelap.
Dari tanda yang dialami, tim dokter mengindikasikan adanya gangguan fungsi ginjal. Riwayat medis pasien mencatat hipertensi lama, kolesterol tinggi, pembesaran prostat, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), serta riwayat kanker rektum 20 tahun lalu.
Pasien juga mengaku telah menikah dengan istrinya selama 50 tahun dan sudah tidak aktif secara seksual sejak pengobatan kanker tersebut.
Masuk UGD gegara Gatal Parah-Ruam Merah
Kakek 83 tahun itu kembali masuk unit gawat darurat karena rasa gatal yang parah dan muncul ruam merah bersisik di betisnya. Saat digali lagi masa mudanya, pasien baru mengaku pernah berhubungan seks dengan beberapa orang yang berbeda, bahkan sempat diobati karena berbagai infeksi menular seksual (IMS).
Dari hasil pemeriksaan mendalam, dokter menemukan urine pasien mengandung darah dan jumlah protein yang abnormal. Kadar antibodi antinuklear (ANA) sangat tinggi.
Selain itu, analisis cairan serebrospinal atau cairan otak dan sumsum tulang belakang, menunjukkan peningkatan sel darah putih yang menandakan adanya infeksi aktif.
Sementara hasil tes HIV dan tuberkulosis negatif. Tetapi, pasien dinyatakan positif terinfeksi Treponema Pallidum atau bakteri penyebab penyakit sifilis.
Dokter akhirnya mendiagnosis sang kakek mengidap sifilis sekunder dengan neurosifilis dini atau bakteri yang telah menyerang sistem saraf. Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan kombinasi gejala ruam, kelelahan, gangguan fungsi hati, proteinuria tinggi, pembengkakan tubuh, kelumpuhan wajah, serta pembengkakan kelenjar getah bening.
Pengobatan Intensif yang Dilakukan
Setelah dipastikan mengalami neurosifilis, pasien langsung diberikan pengobatan antibiotik penisilin intravena (infus) selama 14 hari. Sebelumnya, ia sempat menerima satu kali suntikan penisilin.
Sementara itu, gejala gatalnya diatasi dengan antihistamin dan pembengkakannya dikurangi dengan obat diuretik. Sampai satu bulan pasca-pengobatan, kondisi pasien membaik secara signifikan.
Ruam, gatal, dan pembengkakannya mereda, serta fungsi hati dan produksi urinenya kembali normal. Kasus ini pun telah dilaporkan ke otoritas kesehatan masyarakat, dan sang istri telah dirujuk untuk menjalani pemeriksaan.





