Bahas Krisis Regenerasi Silat Pangean, Mahasiswa UIN Suska Riau Raih Gold Medal pada Lomba Esai
Nolpitos Hendri July 14, 2026 11:29 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Angkat tema tentang krisis regenerasi Silat Pangean sebagai gagasan pelestarian budaya, mahasiswa UIN Suska Riau raih gold medal pada lomba esai nasional di Universitas Andalas.

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau, Irfan Ramadani.

Irfan Ramadani berhasil meraih Gold Medal dalam ajang Lomba Esai Tingkat Nasional yang diselenggarakan di Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat, pada 11–12 Juli 2026.

Baca juga: Angkat Potensi Lokal Kampar, Mahasiswa UIN Suska Riau Raih Juara Umum Esai Nasional

Penghargaan tersebut diraih berkat karya esai yang mengangkat persoalan krisis regenerasi Silat Pangean di Kabupaten Kuantan Singingi, sebuah isu budaya yang dinilai memiliki urgensi tinggi di tengah semakin derasnya arus globalisasi dan perubahan sosial.

Kompetisi tingkat nasional tersebut diikuti oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang menghadirkan beragam gagasan inovatif sebagai solusi terhadap persoalan bangsa.

Di tengah banyaknya isu yang diangkat, Irfan memilih menyoroti kondisi Silat Pangean yang mulai menghadapi tantangan serius dalam proses regenerasi.

Baginya, persoalan ini bukan hanya tentang menurunnya jumlah generasi muda yang mempelajari seni bela diri tradisional, tetapi juga menyangkut keberlangsungan nilai-nilai budaya yang selama ini menjadi identitas masyarakat Kuantan Singingi.

Dalam karya ilmiahnya, Irfan menjelaskan bahwa Silat Pangean merupakan warisan budaya yang tidak hanya mengajarkan keterampilan bela diri, tetapi juga menjadi media pembentukan karakter melalui nilai-nilai disiplin, tanggung jawab, penghormatan kepada guru, persaudaraan, serta semangat menjaga marwah budaya Melayu.

Namun, perkembangan teknologi, perubahan gaya hidup, serta semakin terbatasnya ruang pewarisan budaya menyebabkan minat generasi muda terhadap Silat Pangean terus mengalami penurunan.

Analisis yang disajikan dalam esai tersebut dinilai mampu menggambarkan kondisi nyata yang dihadapi budaya lokal saat ini.

Atas kedalaman pembahasan, relevansi isu, serta solusi yang ditawarkan, dewan juri menetapkan Irfan Ramadani sebagai peraih Gold Medal, sebuah penghargaan yang menjadi bukti bahwa isu pelestarian budaya memiliki nilai akademik sekaligus kontribusi nyata bagi masyarakat.

Meski demikian, Irfan menegaskan bahwa penghargaan tersebut bukanlah akhir dari perjalanan gagasan yang ia susun.

Menurutnya, sebuah inovasi hanya akan memberikan manfaat apabila mampu diwujudkan melalui dukungan berbagai pihak.

Oleh karena itu, hasil yang diraih dalam kompetisi ini diharapkan menjadi pintu masuk untuk membangun kolaborasi yang lebih luas dalam upaya menjaga keberlangsungan Silat Pangean.

Ia menilai bahwa pelestarian budaya membutuhkan sinergi antara pemerintah daerah, lembaga pendidikan, komunitas budaya, tokoh adat, akademisi, dan masyarakat.

Pemerintah diharapkan dapat menghadirkan kebijakan yang berpihak pada pelestarian budaya, lembaga pendidikan dapat memperkuat pendidikan berbasis kearifan lokal, sementara komunitas budaya dan guru silat tetap menjadi garda terdepan dalam mewariskan nilai-nilai yang telah dijaga secara turun-temurun.

Di sisi lain, masyarakat, khususnya generasi muda, memiliki peran penting sebagai penerus yang akan menentukan keberlanjutan budaya tersebut.

"Alhamdulillah, saya bersyukur atas pencapaian ini. Gold Medal ini saya persembahkan untuk kedua orang tua, keluarga, dosen, almamater UIN Suska Riau, dan masyarakat Kuantan Singingi.

Bagi saya, penghargaan ini bukan sekadar pengakuan atas sebuah karya ilmiah, tetapi juga menjadi amanah untuk terus menyuarakan pentingnya pelestarian budaya.

Saya berharap gagasan yang saya angkat tidak berhenti sebagai naskah perlombaan, melainkan dapat menjadi awal lahirnya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, komunitas budaya, dan masyarakat agar upaya pelestarian Silat Pangean dapat diwujudkan secara nyata," ujar Irfan Ramadani.

Prestasi tersebut menjadi kebanggaan bagi UIN Sultan Syarif Kasim Riau sekaligus membuktikan bahwa mahasiswa mampu menghadirkan karya ilmiah yang tidak hanya unggul dalam kompetisi, tetapi juga memiliki relevansi terhadap kebutuhan masyarakat.

Raihan Gold Medal ini diharapkan dapat menginspirasi lahirnya lebih banyak penelitian dan inovasi yang mengangkat potensi serta persoalan daerah sebagai bagian dari kontribusi perguruan tinggi terhadap pembangunan nasional.

Lebih dari sekadar sebuah medali emas, pencapaian ini menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan bersama.

Sebuah gagasan yang baik tidak akan memberikan dampak apabila hanya berhenti sebagai dokumen akademik.

Sebaliknya, ketika didukung oleh komitmen pemerintah, dunia pendidikan, komunitas budaya, dan masyarakat, gagasan tersebut berpotensi menjadi langkah nyata dalam memastikan Silat Pangean tetap hidup, berkembang, dan diwariskan kepada generasi yang akan datang sebagai bagian dari identitas budaya Kabupaten Kuantan Singingi dan kekayaan budaya Indonesia.

Tentang Silat Pangean

Silat Pangean (disebut juga Silek Pangean dalam dialek setempat) adalah seni bela diri tradisional khas yang berasal dari Kecamatan Pangean, Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau, dan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia sejak tahun 2018.

Asal-Usul dan Sejarah

Diperkirakan sudah ada sejak 300 tahun lebih, diwariskan secara turun-temurun oleh para guru besar yang disebut Induak Barompek.

Ada dua versi cerita asalnya: sebagian menyebutkan berakar dari Nagari Pangian, Sumatera Barat, sementara yang lain meyakini tumbuh dan berkembang asli di Pangean, Riau.

Legenda lisan menceritakan bahwa Bagindo Rajo pergi berguru ke Sumatera Barat, sedangkan istrinya Gadi Ome mendapat ilmu silat secara gaib dari Halimatusakdiah; akhirnya keduanya menyatukan ilmu tersebut menjadi Silat Pangean.

Ciri Khas dan Karakteristik

Gerakan: Terkenal lembut, gemulai, dan luwes -- namun menyimpan kekuatan serta teknik yang sangat mematikan; tidak mengutamakan serangan duluan, melainkan pertahanan lalu serangan balik yang cepat.

Filosofi: Sangat erat dengan nilai Islam dan budaya Melayu. Mengajarkan rendah hati, disiplin, dan menjaga kehormatan diri serta sesama.

Jenis: Dibagi menjadi beberapa aliran utama:Silek Tangan: tangan kosong

Silek Podang: menggunakan pedang

Silek Parisai: menggunakan perisai dan senjata lain

Busana: Memakai pakaian Melayu lengkap -- baju kurung, sarung, dan peci/kopiah hitam; tidak boleh latihan tanpa atribut ini.

Proses Masuk dan Ritual

Silat ini bersifat tertutup dan memiliki syarat ketat : 

Calon murid diharuskan beragama Islam, rajin beribadah, dan berkelakuan baik.

Melalui upacara Meracik Limau (Mandi Balimau): air perasan limau dengan doa dibasahkan ke tubuh sebagai perlindungan dan penyucian jiwa sebelum mulai belajar.

Tingkat pembelajaran berjenjang: dari dasar hingga lanjut dengan aturan adat yang ketat.

Fungsi dan Perkembangan

Awalnya murni untuk bela diri dan menjaga wilayah, kini juga ditampilkan dalam upacara adat: pernikahan Melayu, penyambutan tamu, perayaan hari besar Islam, serta acara budaya lokal.

Sudah menyebar ke berbagai daerah di Riau seperti Kampar, Pelalawan, Indragiri Hulu, dan terus dilestarikan melalui sekolah dan pagelaran budaya.

( Tribunpekanbaru.com / Pitos Punjadi )

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.