Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung optimistis mampu menjadi tulang punggung sekaligus pusat pengembangan bioetanol nasional guna mendukung program swasembada energi.
Baca juga: Menakar Kesiapan Lampung Menyambut Industri Bioetanol
Optimisme ini didasarkan pada kalkulasi Dinas Pertanian yang mencatat produksi ubi kayu (singkong) di Bumi Ruwa Jurai mencapai 7,5 juta ton per tahun, menjadikannya yang terbesar di Indonesia.
Jika 30 persen dari total produksi tahunan tersebut dialokasikan untuk kebutuhan industri energi terbarukan, maka tersedia sekitar 2,25 juta ton ubi kayu siap olah.
Dengan asumsi konversi 180 liter per ton bahan baku, Lampung berpotensi memproduksi hingga 405 juta liter bioetanol per tahun.
Kepala Dinas Pertanian Provinsi Lampung, Elvira Umihani, memaparkan bahwa dengan harga pasar bioetanol industri yang berkisar antara Rp10.000 hingga Rp12.000 per liter, nilai ekonomi yang berputar dari sektor ini diperkirakan menembus angka Rp3,8 hingga Rp4,8 triliun setiap tahun.
"Selama ini Lampung banyak menjual bahan baku mentah. Ke depan, fokus kita adalah membangun nilai tambah. Pengembangan hilirisasi bioetanol ini akan menumbuhkan investasi dan membuka lapangan kerja baru bagi kesejahteraan petani setempat," ujar Elvira, Selasa (14/7/2026).
Untuk memayungi rantai niaga ini, Pemprov Lampung telah menerbitkan Pergub Nomor 36 Tahun 2025 tentang Tata Kelola dan Hilirisasi Ubi Kayu.
Regulasi ini dirancang agar lonjakan permintaan industri bahan bakar nabati berimplikasi langsung pada kestabilan harga singkong di tingkat akar rumput.
Kesiapan hulu juga diperkuat lewat operasional National Cassava Center, penerapan Good Agricultural Practices (GAP), serta pengadaan pupuk hayati cair melalui APBD 2026.
Selain ubi kayu, Lampung kini tengah bersiap memperluas diversifikasi bahan baku bioetanol melalui budi daya sorgum tanpa mengganggu lahan pangan yang ada.
Aset lahan seluas 24 hektare telah disiapkan di Desa Kota Agung (Pesawaran) dan Desa Rejosari (Lampung Selatan).
Pemerintah akan segera mendatangkan bibit sorgum unggul ke lokasi tersebut guna memulai proyek strategis tanpa menggeser ekosistem singkong dan jagung yang telah eksis.
Elvira menegaskan arah kebijakan ke depan tidak lagi berfokus pada perluasan lahan secara masif, melainkan menggenjot produktivitas vertikal lewat inovasi teknologi pertanian.
Data Dinas Pertanian Provinsi Lampung menunjukkan tren produksi ubi kayu dalam lima tahun terakhir masih tergolong tinggi.
Pada 2021, luas panen ubi kayu tercatat 225.645 hektare dengan produksi 6.194.609 ton dan produktivitas 274,76 kuintal per hektare.
Tahun 2022, luas panen meningkat menjadi 236.375 hektare dengan produksi 6.719.692 ton dan produktivitas 279,15 kuintal per hektare.
Pada 2023, produksi mencapai puncaknya dengan luas panen 254.830 hektare, produksi 8.149.304 ton, dan produktivitas 319,83 kuintal per hektare.
Selanjutnya pada 2024, luas panen kembali meningkat menjadi 268.246 hektare, namun produksi turun menjadi 7.984.179 ton dengan produktivitas 297,62 kuintal per hektare.
Sementara 2025 (angka sementara), luas panen tercatat 232.327 hektare, produksi 7.523.325 ton, dan produktivitas 323,70 kuintal per hektare.
Meski terjadi penurunan produksi dalam dua tahun terakhir, Elvira mengatakan produksi ubi kayu Lampung tetap sangat besar karena data tersebut belum sepenuhnya mencakup areal tanam masyarakat di kawasan register maupun perubahan komoditas di lapangan.
"Menurut hasil pengamatan di lapangan, luas areal pertanaman masyarakat yang belum seluruhnya tercatat dapat mencapai sekitar 400 ribu hektare," ujarnya.
Kabupaten Lampung Tengah dan Lampung Timur masih menjadi sentra utama produksi ubi kayu, disusul Lampung Utara, Tulang Bawang Barat, Tulang Bawang, dan Lampung Selatan.
Untuk komoditas jagung, Dinas Pertanian menyebut tidak terjadi penyusutan lahan secara permanen dalam lima tahun terakhir. Penurunan pada 2023 dipengaruhi fenomena El Nino, namun kembali meningkat pada 2025.
Data KSA Jagung BPS yang diolah Dinas Pertanian menunjukkan, pada 2024 luas panen jagung mencapai 170.017 hektare dengan produksi 1.498.460 ton dan produktivitas 85,32 kuintal per hektare.
Sedangkan pada 2025, luas panen meningkat menjadi 194.488 hektare, produksi naik menjadi 1.703.725 ton, dengan produktivitas 86,28 kuintal per hektare.
Tiga daerah penyumbang produksi jagung terbesar di Lampung pada 2025 yakni, Lampung Selatan dengan produksi 599.992 ton dari luas panen 71.731 hektare.
Lampung Timur dengan produksi 469.757 ton dari luas panen 51.622 hektare.
Lampung Tengah dengan produksi 338.451 ton dari luas panen 35.113 hektare.
Disusul Kabupaten Lampung Utara sebesar 90.360 ton, Way Kanan 69.512 ton, Pesawaran 36.138 ton, Pringsewu 30.648 ton, Tulang Bawang 10.894 ton, Pesisir Barat 11.334 ton, Tulang Bawang Barat 3.892 ton, Mesuji 358 ton, Lampung Barat 737 ton, Bandar Lampung 1.096 ton, dan Metro 2.796 ton.
Meski demikian, Elvira mengatakan sebagian besar produksi jagung Lampung saat ini telah diserap industri pakan ternak.
"Sebagian besar produksi jagung Lampung sudah terserap industri pakan ternak. Karena itu strategi kami adalah meningkatkan produktivitas melalui bantuan benih hibrida unggul, mekanisasi pertanian, serta pemanfaatan lahan suboptimal agar kebutuhan industri baru tetap dapat dipenuhi," ujarnya.
Berbeda dengan ubi kayu dan jagung, komoditas sorgum masih berada pada tahap uji coba dan pengembangan sejak 2020.
Menurut Elvira, minat petani terhadap sorgum masih rendah karena belum tersedia kepastian pasar, harga yang stabil, benih yang memadai maupun industri pengolahan dalam skala besar.
Namun apabila industri bioetanol mulai berkembang di Lampung, sorgum dinilai memiliki peluang besar menjadi komoditas alternatif.
(Tribunlampung.co.id/Riyo Pratama)