TRIBUNPEKANBARU.COM, PELALAWAN - Polemik terkait harga seragam sekolah di Kecamatan Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan mencuat ke permukaan setelah Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun 2026 berakhir.
Banyak pihak menyoroti harga seragam sekolah untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang dinilai sangat tinggi. Tentu kondisi ini cukup memberatkan orangtua siswa yang baru masuk dan telah mengikuti proses belajar mengajar di sekolah. Banyak masyarakat mempertanyakan mahalnya seragam sekolah ini di Media Sosial (Medsos) yang dikaitkan dengan kondisi perekonomian masyarakat yang saat ini semakin lesu.
"Mohon pemerintah memastikan harga seragam sekolah yang murah. Ini sangat mahal untuk siswa SD," kata seorang warga Pangkalan Kerinci, Veranita (34) kepada tribunpekanbaru.com, Rabu (15/7/2026).
Anaknya tahun ini masuk SD dan diterima di salah satu sekolah negeri di Pangkalan Kerinci. Setelah mengukur baju seragam, ia terkejut mendengar harganya mencapai Rp 1.250.000 untuk 5 stel seragam sekolah. Berarti jika dibagi per stel dibandrol Rp 250 ribu untuk bahan kain dan upah jahitnya. Meski terasa sangat berat, terpaksa ia tetap mengupayakan uang agar putrinya bisa bersekolah menggunakan seragam.
Hal serupa disampaikan warga lainnya, Suryadi (40) yang anaknya melanjutkan sekolah ke SMP negeri di Pangkalan Kerinci. Seragam 6 stel dibandrol Rp 1.500.000 oleh penjahit baju atau Rp 250 ribu untuk satu stelnya.
"Mau tak mau harus bayarlah, supaya anak saya bisa pakai seragam baru. Sekarangkan masih pakai baju SD," ungkapnya.
Menanggapi keluhan dan polemik seragam sekolah ini, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Pelalawan memanggil seluruh Kepala Sekolah (Kepsek) SD dan SMP negeri yang ada di Pangkalan Kerinci. Untuk menghimpun data harga baju seragam yang diberlakukan pihak penjahit melalui komite sekolah dan pihak sekolah.
"Yang pastinya, sebelum SPMB saya sudah mengingatkan Disdikbud maupun pihak sekolah tidak ada mengarahkan ke penjahit manapun. Biarlah itu kesepakatan komite sekolah dan orangtua siswa," papar Pelaksana tugas (Plt) Kepala Disdikbud Pelalawan, Leo Nardo saat dikonfirmasi tribunpekanbaru.com, Rabu (15/7/2026).
Selain itu, lanjut Leo Nardo, pihaknya telah mengimbau agar vendor pengadaan seragam sekolah siswa mengikuti Standar Satuan Harga (SSH) yang ditetapkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pelalawan. SSH yang ditetapkan Harga satu stel baju seragam sekolah dibandrol Rp 175 ribu dan itu sebagai nilai tertinggi.
Standar harga itu merujuk pada pengadaan bantuan seragam sekolah oleh Disdikbud Pelalawan bagi siswa miskin dan anak yatim. Program ini telah berjalan beberapa tahun ini.
"Untuk 5 stel baju hanya Rp 875 ribu atau Rp 175 satu stel dalam SSH kita. Nyatanya vendor mencapai Rp 220 ribu sampai Rp 250 ribu satu stel," sebut Leo Nardo.
Selisih harga dari SSH Pemda dengan yang ditetapkan vendor penjahit cukup jauh. Hal ini yang dinilai sebagai pemicu orangtua siswa merasa kemahalan. Hanya saja, sampai saat ini belum ada laporan resmi dari orangtua atau walimurid yang masuk ke pihak sekolah maupun ke Disdikbud Pelalawan.
"Kita sudah imbau sejak awal kemarin, tapi masih belum disesuaikan dengan harga SSH kita. Saya akan lapor ke pimpinan dulu, membawa hasil rapat kami tadi," tandasnya. (Tribunpekanbaru.com/Johannes Wowor Tanjung)