Harga BBM Eceran di Desa dan Kepulauan Bangka Selatan Melonjak, Mobilitas Warga Mulai Terganggu
Ardhina Trisila Sakti July 15, 2026 07:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA – Melonjaknya antrean kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) mulai berdampak pada harga bahan bakar minyak (BBM) eceran di wilayah pedesaan dan kepulauan Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung.

Harga Pertalite eceran kini mencapai Rp16.000 hingga Rp17.000 per liter, sedangkan Pertamax dijual Rp19.000 hingga Rp20.000 per liter. Kondisi tersebut membuat masyarakat yang bergantung pada BBM untuk bekerja dan beraktivitas mulai kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ahmad, warga Desa Batu Betumpang, Kecamatan Pulau Besar mengatakan kenaikan harga BBM eceran mulai terjadi sejak antrean panjang di SPBU berlangsung sekitar sepekan terakhir. 

Sebelum kondisi itu terjadi, Pertalite eceran masih dijual berkisar Rp12.000 hingga Rp13.000 per liter sehingga masih cukup terjangkau bagi masyarakat desa. Kini harga terus meningkat seiring sulitnya pasokan BBM dari wilayah Toboali.

“Sebelumnya harga Pertalite masih aman kisaran Rp12.000 sampai Rp13.000 per liter. Namun sejak sepekan terakhir harganya naik menjadi Rp16.000 sampai Rp17.000 per liter,” ujar dia kepada Bangkapos.com, Rabu (15/7/2026).

Menurut Ahmad, masyarakat Desa Batu Betumpang memang cukup bergantung pada penjual BBM eceran karena di Kecamatan Pulau Besar tidak terdapat SPBU.

Warga hanya mengandalkan satu Pertashop yang lokasinya berjarak sekitar 14 kilometer dari desanya. Selain jaraknya jauh, ketersediaan BBM di Pertashop juga terbatas sehingga sering kali cepat habis.

Ia menjelaskan sebagian besar pedagang BBM eceran membeli Pertalite dari SPBU di Kota Toboali untuk kemudian dijual kembali di desa. Ketika pasokan di SPBU terganggu akibat antrean panjang, stok di tingkat pengecer juga ikut menipis.

Dampaknya, warga yang hendak bekerja ke kebun harus berkeliling mencari BBM dan sering kali tidak mendapatkannya. Dirinya berharap segera ada solusi supaya masyarakat di desa tidak terdampak naiknya harga BBM eceran.

“Saat ini warga yang mau ke kebun cukup kesulitan mendapatkan BBM. Kalaupun ada, cepat habis di penjual eceran,” jelas Ahmad.

Kondisi serupa juga terjadi di Kecamatan Lepar. Kapolsek Lepar Pongok, Ipda Sasongko Yuliansya mengungkapkan, harga Pertalite eceran di wilayah kepulauan saat ini mencapai sekitar Rp16.000 per liter atau Rp80.000 per jeriken berisi lima liter. Sementara Pertamax telah dijual dengan harga sekitar Rp20.000 per liter akibat terbatasnya pasokan.

“Saat ini Pertalite minim sekali. Bukan tidak ada, ada, tetapi harganya per lima liter itu sudah mencapai Rp80.000, jadi per liternya sekitar Rp16.000. Kalau Pertamax sudah dengan harga Rp20.000 per liter di sini,” beber Sasongko.

Sasongko menjelaskan keterbatasan pasokan BBM dipengaruhi belum beroperasinya SPBN di Kecamatan Lepar Pongok karena kapal pengangkut masih menjalani docking atau perbaikan.

Akibatnya, distribusi BBM untuk wilayah kepulauan sementara harus disuplai dari SPBU Sadai. Kondisi tersebut membuat penyaluran solar maupun Pertalite belum dapat berjalan normal seperti biasanya.

Ia menilai minimnya pasokan BBM mulai berdampak pada mobilitas masyarakat di wilayah kepulauan. Kenaikan harga Pertalite dan Pertamax eceran turut meningkatkan biaya operasional transportasi laut, termasuk speedboat yang menjadi sarana utama masyarakat.

Polsek Lepar Pongok bersama pemerintah kecamatan terus berkoordinasi untuk mencari solusi agar distribusi BBM segera normal dan aktivitas warga tidak terganggu.

“Kami akan mencarikan solusi yang terbaik agar mobilitas masyarakat di kepulauan ini tidak terhambat dengan keadaan saat ini,” pungkasnya.

(Bangkapos.com/Cepi Marlianto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.