TRIBUNJAMBI.COM, MUARO TEBO - Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Teluk Langkap, Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo, Amri Firdaus, dan keluarganya mengaku menjadi korban dugaan penganiayaan dan ancaman yang dilakukan oleh sejumlah orang yang diduga terkait aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI).
Tidak hanya dirinya, istri dan anaknya juga disebut menjadi korban saat penyerangan terjadi di kediamannya, Selasa (14/7/2026).
Sebagai informasi, jarak Desa Teluk Langkap, Kecamatan Sumay, dan Muara Tebo, pusat Kabupaten Tebo, sekitar 25,1 kilometer via jalur darat.
Sementara jarak antara Desa Teluk Langkap dan Kota Jambi yang merupakan pusat Provinsi Jambi sekitar 199 kilometer via jalur darat.
Peristiwa itu diduga buntut dari aksi pengadangan Polres Tebo oleh warga yang menolak penertiban aktivitas PETI dompeng di Desa Teluk Langkap pada Minggu-Senin (12-13/7/2026).
Sehari setelah pengadangan, Selasa (14/7/2026), rumah Ketua BPD Teluk Langkap diserang orang yang diduga pekerja PETI.
Peristiwa tersebut telah dilaporkan ke Polres Tebo.
Amri Firdaus mendesak aparat kepolisian segera menangkap para pelaku serta mengusut tuntas pihak-pihak yang diduga terlibat, termasuk panitia PETI yang disebut berada di desa tersebut.
Menurutnya, laporan yang dibuat merupakan kali kedua.
Sebelumnya, ia juga telah melaporkan dugaan tindak kekerasan terhadap dirinya dan anaknya, sedangkan laporan terbaru berkaitan dengan penyerangan yang terjadi di rumahnya.
"Saya merasa terancam. Anak dan istri saya diserang oleh warga yang mendompeng (PETI). Saya minta polisi mengusut tuntas semua yang terlibat. Saya juga meminta panitia desa diperiksa karena mereka harus bertanggung jawab," kata Amri usai membuat laporan di Polres Tebo.
Awal Mula Masalah
Amri Firdaus menjelaskan duduk mula persoalan terjadi.
Sebelumnya, masyarakat telah menyepakati batas lokasi aktivitas PETI.
Namun, menurut Amir, aktivitas penambangan emas ilegal itu kini telah bergeser hingga mendekati permukiman warga.
"Bahkan hanya berjarak sekitar 500 meter dari rumah," ujarnya.
Beberapa hari lalu, Amir Firdaus bersama warga sempat menghalau para penambang yang mendekati tebing sungai menggunakan kembang api dan ketapel.
Beberapa jam kemudian, sekitar pukul 12.30 WIB, sekelompok orang datang ke rumahnya dan menuduhnya melepaskan ketapel hingga mengenai mereka.
"Kami mengusir pendompeng yang mendekati tebing bersama warga menggunakan kembang api dan ketapel. Sekitar tiga jam kemudian mereka datang menyerang rumah dan menuduh saya mengketapel mereka," ujarnya.
Amri berharap aparat penegak hukum memproses kasus tersebut secara profesional.
Ia juga menegaskan video yang beredar di media sosial mengenai insiden itu merupakan kejadian sebenarnya dan bukan rekayasa.
Baca juga: Malam Ini Jalintim Jambi-Palembang Macet di KM 17 karena Sedang Dicor, Ini Jalur Alternatifnya
Baca juga: Daftar 10 Jalur Rawan Kecelakaan di Provinsi Jambi, Jalan Nasional Telan Korban Jiwa