Babak Baru Konflik AS vs Iran, Trump Blokade Selat Hormuz dan Gempur Puluhan Target Militer
Eri Ariyanto July 16, 2026 06:44 AM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki fase paling panas setelah Presiden Donald Trump mengaktifkan kembali operasi blokade di kawasan strategis Selat Hormuz.

Militer Amerika Serikat juga melancarkan gelombang serangan baru dengan menyasar puluhan fasilitas militer Iran yang dianggap memiliki kemampuan mengancam jalur pelayaran internasional.

Operasi tersebut melibatkan kekuatan besar Angkatan Laut AS, termasuk lebih dari 20 kapal perang dan ratusan pesawat tempur yang dikerahkan ke kawasan Timur Tengah.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyebut serangan dilakukan menggunakan pesawat tempur, drone, dan kapal perang dengan amunisi presisi terhadap sejumlah target strategis Iran.

Serangan terbaru ini menjadi bagian dari eskalasi konflik yang memasuki hari keempat, setelah sebelumnya Washington juga menyerang sejumlah wilayah penting di pesisir Teluk Persia.

Kawasan seperti Bandar Abbas, Bushehr, Jask, Chah Bahar, hingga Pulau Abu Musa menjadi titik yang mendapat perhatian karena lokasinya berdekatan dengan Selat Hormuz.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital perdagangan energi dunia yang menjadi pintu keluar masuk jutaan barel minyak dan gas setiap harinya.

Di tengah ancaman gangguan pasokan energi global, Iran melalui Garda Revolusi Islam (IRGC) menegaskan Selat Hormuz akan tetap ditutup selama Amerika Serikat masih menjalankan operasi militernya.

Pernyataan keras dari Teheran tersebut meningkatkan kekhawatiran dunia akan meluasnya konflik, termasuk potensi lonjakan harga minyak dan terganggunya ekonomi global.

Dengan kedua negara sama-sama menunjukkan sikap keras, konflik AS-Iran kini menjadi salah satu krisis geopolitik terbesar yang mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah pada 2026.

Baca juga: Ultimatum Mengejutkan Trump ke Iran, Ancam Hancurkan Seluruh Pembangkit Listrik Jika Tolak Berdamai

Seperti diketahui, ketegangan antara AS dan Iran kembali meningkat setelah militer Presiden Donald Trump  melanjutkan blokade angkatan laut di sekitar Selat Hormuz dan melancarkan gelombang serangan baru terhadap sejumlah target militer Iran pada Rabu (15/7/2026).

Situasi ini memperbesar risiko terganggunya distribusi energi dunia karena Selat Hormuz merupakan jalur utama pengiriman minyak dan gas internasional.

Dalam keterangan resminya Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan telah menyelesaikan serangkaian serangan terhadap puluhan target militer Iran di sekitar Selat Hormuz dan wilayah pesisir Iran pada pukul 22.00 EDT atau sekitar pukul 09.00 WIB, Rabu (16/7/2026).

Serangan tersebut dilakukan hanya beberapa jam setelah Amerika Serikat kembali mengaktifkan operasi blokade laut pada pukul 16.00 EDT. 

Selama operasi ini, lebih dari 20 kapal perang Angkatan Laut AS dan ratusan pesawat militer dikerahkan ke kawasan Timur Tengah untuk mendukung operasi militer tersebut.

CENTCOM menjelaskan bahwa operasi itu menyasar berbagai fasilitas strategis milik Iran yang dinilai memiliki kemampuan untuk mengganggu jalur pelayaran internasional.

"Pesawat tempur AS, drone, dan kapal angkatan laut meluncurkan amunisi presisi terhadap situs rudal dan drone Iran, kemampuan angkatan laut, dan sistem pertahanan pantai selama gelombang serangan tujuh jam," demikian pernyataan CENTCOM, dikutip dari The Hill.

Menurut militer Amerika Serikat, serangan dilakukan untuk melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam kapal dagang internasional dan awak sipil yang melintas di kawasan tersebut.

PERANG IRAN AS - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih, Washington DC, 6 April 2026.
PERANG IRAN AS - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih, Washington DC, 6 April 2026. (Dok./XINHUA/LI YUANQING)

Hari Keempat Serangan AS terhadap Iran

Serangan terbaru ini menandai hari keempat operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran dalam eskalasi konflik yang terus meningkat sejak beberapa pekan terakhir.

Pada hari sebelumnya, AS juga menyerang berbagai target militer Iran yang tersebar di sejumlah wilayah strategis seperti Bushehr, Chah Bahar, Jask, Konarak, Pulau Abu Musa, hingga Bandar Abbas.

Wilayah-wilayah tersebut memiliki posisi penting karena berada di sekitar pesisir Teluk Persia dan Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.

Blokade laut yang kembali diberlakukan ini sebelumnya sempat dihentikan pada 18 Juni 2026. Namun meningkatnya ketegangan membuat Washington memutuskan untuk mengaktifkan kembali operasi tersebut.

PERANG IRAN AS - Ilustrasi Selat Hormuz.
PERANG IRAN AS - Ilustrasi Selat Hormuz. (Dok./Wikimedia Commons)

Trump Ubah Rencana Pungutan Kargo Selat Hormuz

Di tengah memanasnya konflik, Trump sebelumnya sempat mengumumkan rencana untuk mengenakan pungutan sebesar 20 persen terhadap seluruh kargo yang melintasi Selat Hormuz sebagai bentuk kompensasi atas pengamanan jalur pelayaran tersebut.

Namun, sehari kemudian, Trump mengubah kebijakan tersebut dan menyatakan pungutan akan digantikan melalui kerja sama ekonomi dengan negara-negara Teluk.

Ia mengatakan berbagai negara di kawasan Teluk akan menyiapkan kesepakatan perdagangan dan investasi baru dengan Amerika Serikat sebagai bentuk pengganti dari rencana pungutan tersebut.

Meski demikian, Trump tetap mengirimkan pesan keras kepada Iran terkait kelanjutan operasi militer Amerika Serikat.

"Kita akan menyerang mereka dengan sangat keras malam ini, besok malam, lusa, dan minggu depan keadaan akan menjadi sangat buruk bagi mereka," kata Trump dalam wawancara dengan jurnalis Fox News, Trey Yingst.

Trump bahkan mengisyaratkan bahwa infrastruktur strategis Iran berpotensi menjadi sasaran operasi berikutnya apabila konflik tidak mereda.

IRGC Tegaskan Selat Hormuz Tetap Ditutup

Di sisi lain, Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup hingga Amerika Serikat menghentikan seluruh tindakan militernya terhadap Iran.

Pernyataan tersebut disampaikan melalui televisi pemerintah Iran, IRIB, dan menjadi sinyal bahwa Teheran belum memiliki rencana untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut dalam waktu dekat.

"Operasi pembalasan para pejuang akan terus berlanjut, dan Selat Hormuz akan tetap tertutup sampai Amerika Serikat mengakhiri tindakan agresinya," demikian pernyataan IRGC.

Iran menilai penutupan jalur tersebut merupakan respons langsung terhadap operasi militer Amerika Serikat yang terus berlangsung di wilayahnya.

IRGC juga memperingatkan bahwa apabila konflik terus meningkat, tidak hanya Selat Hormuz yang berpotensi terganggu.

Iran menyebut jalur ekspor energi lain yang dianggap mendukung kepentingan Amerika Serikat dan sekutunya juga dapat menjadi sasaran di masa mendatang.

Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran baru di pasar energi internasional karena dapat memperluas dampak konflik hingga ke jalur distribusi minyak dan gas di Samudra Hindia maupun kawasan Timur Tengah lainnya.

Analis menilai apabila situasi terus memburuk, harga minyak dunia berpotensi mengalami lonjakan tajam akibat kekhawatiran terhadap terganggunya pasokan energi global.

Eskalasi terbaru antara Amerika Serikat dan Iran tidak hanya berdampak pada kedua negara, tetapi juga berpotensi mempengaruhi perekonomian dunia secara luas.

Gangguan terhadap Selat Hormuz dapat menyebabkan kenaikan harga minyak mentah, biaya transportasi internasional, hingga inflasi di berbagai negara pengimpor energi, termasuk negara-negara di Asia.

Selama belum ada kesepakatan diplomatik antara Washington dan Teheran, kawasan Teluk diperkirakan akan tetap menjadi salah satu titik paling rawan konflik di dunia pada tahun 2026.

(TribunNewsmaker,com/Tribunnews/Namira)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.