Laporan Wartawan Serambi Indonesia | Rianza Alfandi | Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – UIN Ar-Raniry Banda Aceh terus mempercepat agenda internasionalisasi sebagai bagian dari transformasi menuju World Class Islamic University. Sejak Januari 2025 hingga Juni 2026, kampus ini mencatat 19 aktivitas internasional dosen, 34 mahasiswa mengikuti program global, serta berbagai kerja sama strategis dengan perguruan tinggi dan lembaga di sejumlah negara.
Ketua UPT Pusat Layanan Internasional (PLI) UIN Ar-Raniry, Prof Saiful Akmal, mengungkap, mobilitas sivitas akademika UIN Ar-Raniry telah menjangkau Amerika Serikat, Qatar, Arab Saudi, Jerman, Swedia, China, Filipina, Thailand, Singapura, Brunei Darussalam, Korea Selatan, Australia dan Malaysia.
Kemitraan dibangun bersama berbagai institusi bereputasi, di antaranya University of Gothenburg (Swedia), DAAD Jerman, Catholic University of America (USA), Hamad Bin Khalifa University (Qatar), University of Potsdam, University of Frankfurt dan University of Freiburg (Germany), National University of Singapore, Universiti Sains Malaysia, serta sejumlah kampus lainnya.
Baca juga: Jurusan Teknologi Informasi Jadi Prodi Favorit pada PMB Reguler SSE UIN Ar-Raniry 2026
Di kalangan dosen, kata dia, internasionalisasi diwujudkan melalui program visiting professor, research fellow, guest fellow, konferensi ilmiah, pelatihan penjaminan mutu internasional, hingga kolaborasi riset lintas negara. Sejumlah dosen juga menjalankan penugasan akademik jangka panjang di Malaysia, Qatar, Jerman, Australia dan Amerika Serikat.
“Salah satu capaian strategis adalah penugasan Prof. Dr. Asna Husin sebagai Visiting Professor di Catholic University of America, Washington DC,” katanya, di Banda Aceh, Rabu (8/7/2026).
Selain itu, ada Prof. Dr. phil. Abdul Manan menjalankan program Research Fellow di Universitas Sultan Zainal Abidin (UniSZA), Malaysia, sementara Prof. Dr. Hafas Furqani dipercaya sebagai Guest Fellow di Islamic Social Finance Research Centre UniSZA.
Tak hanya itu, keterlibatan akademisi UIN Ar-Raniry juga meluas ke Timur Tengah melalui program Dauroh Tokoh Ummul Qura di Arab Saudi, penelitian di College of Islamic Studies Hamad Bin Khalifa University, Qatar, serta studi doktoral salah seorang dosen di Hamad Bin Khalifa University untuk periode 2026–2029.
Baca juga: Rektor UIN Ar-Raniry Sumbang Tulisan dalam Buku Diplomasi Agama: Jalan Damai Nasaruddin Umar
Pada saat yang sama, kerja sama dengan universitas di Jerman, China, Taiwan, Filipina, dan Thailand terus diperkuat melalui pelatihan, seminar internasional, forum riset, dan pengembangan kapasitas.
Lebih lanjut, Saiful Akmal menyebut, bahwa Internasionalisasi juga dirasakan mahasiswa. Hingga pertengahan 2026, sebanyak 34 mahasiswa dari berbagai fakultas mengikuti pertukaran pelajar, summer school, transfer kredit, pelatihan kepemimpinan, kegiatan kerelawanan internasional, dan program mobilitas mahasiswa di berbagai negara.
“Mereka mengikuti FASStrack Asia Summer School di National University of Singapore, Student Exchange di Universiti Utara Malaysia, Student Mobility Programme di INTI International University Malaysia, serta program pertukaran mahasiswa dan mobilitas kepemimpinan di Universiti Islam Sultan Sharif Ali, Brunei Darussalam,” ujarnya.
Selain mobilitas fisik, mahasiswa juga mengikuti pembelajaran daring lintas negara melalui IDegree Online Class yang diselenggarakan Woosong University, Korea Selatan. Program tersebut membekali peserta dengan materi data visualization, leadership and teamwork, design thinking process, user experience design, hingga pemrograman Python.
Baca juga: UIN Ar-Raniry Tambah Enam Guru Besar, Kini Miliki 66 Profesor
Prof Saiful menambahkan, komitmen internasionalisasi turut diwujudkan melalui pengabdian kepada masyarakat berbasis kolaborasi global. Sebanyak 8 sivitas akademika berpartisipasi dalam program Smart Islamic Cultural Community for Modern Malay Urban Villages di Kampung Bharu, Kuala Lumpur, Malaysia, pada Juni 2026.
“Melalui berbagai program tersebut, UIN Ar-Raniry menegaskan bahwa internasionalisasi tidak berhenti pada penandatanganan kerja sama, tetapi diarahkan pada implementasi nyata yang berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan sumber daya manusia dan reputasi universitas menuju kampus berkelas dunia,” pungkasnya.(*)