TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Di balik keterbatasan penglihatan, Sujono Said, membuktikan bahwa semangat mengabdi tidak pernah padam.
Guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) di SLB Kusuma Bangsa Kendari ini, telah mendedikasikan dirinya untuk mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus sejak 2018.
SLB Kusuma Bangsa berlokasi di Jalan Jambu, Kelurahan Anggoeya, Kecamatan Poasia, Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).
Di sekolah tersebut, Sujono mengajarkan nilai-nilai kebangsaan kepada peserta didik dengan berbagai ragam disabilitas.
“Saya mengajar di SLB Kusuma Bangsa ini sejak tahun 2018,” ujar Sujono kepada Tribunnewssultra.com, Kamis (16/7/2026).
Baca juga: Pendaftar SMA-SMK Negeri di Sultra Banyak Tak Capai Kuota, Ini Kata Pengamat Pendidikan di Kendari
Sebagai penyandang tunanetra, Sujono, mengaku pada awal masa pengabdian sempat menghadapi kesulitan ketika harus berinteraksi dengan siswa yang memiliki kebutuhan berbeda-beda.
Namun, seiring waktu, ia terus mempelajari berbagai metode pembelajaran agar materi dapat diterima dengan baik.
“Saya mengajar PPKn. Sebagai tunanetra yang mengajar siswa dengan disabilitas yang lain, awalnya memang agak kewalahan, tetapi setelah belajar dan menggunakan teknik-teknik yang ada, akhirnya saya secara pribadi lebih bisa mengajar, tentu sesuai dengan kemampuan saya,” tuturnya.
Menurutnya, tantangan terbesar bukan hanya menyampaikan pelajaran, melainkan memastikan seluruh peserta didik tetap berada dalam pengawasan.
Kondisi tersebut menjadi lebih rumit, karena keterbatasan penglihatan membuatnya tidak dapat bergerak secepat guru lain ketika ada anak yang meninggalkan ruang belajar.
Baca juga: Ironi Kondisi SDN 13 Batuganda Kolaka Utara Rusak Berat, Hanya 10 Km dari Kantor Dinas Pendidikan
“Tantangan mengajar di kelas, apalagi kita yang tunanetra ini, kewalahannya kalau siswa lari keluar. Sedangkan kita saat mau keluar tidak tahu bisa nabrak apa atau siswa sudah di tempat lain,” jelasnya.
Meski demikian, keadaan tersebut tidak mengurangi tekad Sujono untuk terus hadir di hadapan murid-muridnya setiap hari.
Baginya, pendidikan merupakan hak setiap anak yang harus diperjuangkan tanpa memandang kondisi fisik, baik guru maupun peserta didik.
Dalam menjalani aktivitas mengajar, Sujono berangkat ke sekolah menggunakan mikrolet atau angkutan umum yang disewa oleh pihak sekolah.
Fasilitas tersebut membantu mobilitasnya, sehingga dapat menjalankan tugas dengan lebih aman.
Baca juga: Siswa Tak Bisa Pindah Sekolah Jika Kuota Penuh, Dikbud Sultra: Dapodik Bermasalah Kalau Dipaksakan
Saat ini, SLB Kusuma Bangsa memiliki 33 siswa yang berasal dari berbagai kategori disabilitas, meliputi tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, autisme, dan down syndrome.
Pola pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing peserta didik, sehingga setiap guru menangani sedikitnya satu anak dan paling banyak lima anak agar pendampingan berlangsung lebih optimal.
Di balik pengabdian tersebut, Sujono juga merasakan perubahan dari sisi kesejahteraan.
Pada awal mengajar tahun 2018, ia hanya menerima gaji sekitar Rp500 ribu per bulan.
Kini, kondisinya mulai membaik setelah memperoleh tunjangan sertifikasi dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Baca juga: Harga Seragam Sekolah SD, SMP hingga SMA di Kendari Mulai Rp180 Ribu per Pasang, Pembeli Masih Sepi
“Gaji saya awal tahun 2018 sekitar Rp500 ribu. Namun, saat ini kita sudah menerima tunjangan sertifikasi dari Kemendikdasmen,” ujarnya.
Sujono menyebut, sertifikasi guru baru diterima pada tahun ini.
Dari total 12 tenaga pendidik di SLB Kusuma Bangsa, sebanyak delapan orang telah memperoleh tunjangan tersebut.
Baginya, apresiasi tersebut menjadi penyemangat untuk terus memberikan pelayanan pendidikan terbaik.
“Saya berharap semakin banyak perhatian terhadap sekolah luar biasa, sehingga guru dan peserta didik memperoleh dukungan yang memadai dalam menciptakan proses belajar yang inklusif dan bermakna,” jelasnya. (*)
(TribunnewsSultra.com/Dewi Lestari)