TRIBUNFLORES.COM, RUTENG – Taman Wisata Alam (TWA) Ruteng salah satu kawasan konservasi terpenting di Pulau Flores. Selain menyimpan kekayaan hayati yang tinggi, kawasan ini juga menawarkan panorama hutan hujan pegunungan yang masih terjaga.
Akses utama menuju TWA Ruteng dapat ditempuh melalui Hutan Golo Lusang yang berjarak sekitar 5,8 kilometer dari pusat Kota Ruteng.
Kawasan yang dikelola Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Nusa Tenggara Timur itu memiliki luas 32.245,60 hektare. Berdasarkan data BBKSDA NTT, seluas 8.013,60 hektare berada di Kabupaten Manggarai, sedangkan sekitar 24.232 hektare lainnya berada di Kabupaten Manggarai Timur.
Selain berfungsi sebagai kawasan konservasi, TWA Ruteng menjadi habitat berbagai jenis flora dan fauna khas Flores. Kawasan ini dikenal memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang sangat tinggi dan merupakan satu-satunya hutan hujan pegunungan di Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Baca juga: NTT Miliki 9 Taman Wisata Alam, di Mana Saja Lokasinya?
TWA Ruteng berada pada ketinggian antara 500 hingga 2.400 meter di atas permukaan laut. Kondisi tersebut membentuk beragam tipe vegetasi sekaligus menjadikan kawasan ini sebagai daerah tangkapan air yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan hidrologi wilayah sekitarnya.
Berdasarkan penelitian biarawan Katolik Jilis A.J. Verheijen, SVD, pada 1982, kawasan TWA Ruteng memiliki 252 spesies tumbuhan berbunga maupun tidak berbunga yang berasal dari 94 famili dan 119 genera.
Jenis tumbuhan yang paling banyak dijumpai berasal dari famili Euphorbiaceae dan Lauraceae. Dari seluruh spesies tersebut, sedikitnya 69 jenis dimanfaatkan masyarakat sekitar sebagai tanaman obat tradisional.
TWA Ruteng juga menjadi habitat beragam anggrek hutan, di antaranya Dendrobium hymenophyllum, Vanda limbata, Pholidota imbricata, Spathoglottis plicata, Liparis latifolia, serta anggrek kantong semar Paphiopedilum sanderianum.
Baca juga: Tiga Penggerak Pariwisata dari NTT Masuk 50 Besar Pejuang Pariwisata 2026 Local Hero in Tourism
Dari sisi fauna, kawasan ini dihuni sedikitnya 65 spesies burung yang tergolong dalam 35 famili.
Beberapa di antaranya ialah elang putih (Accipiter novaehollandiae), elang bondol (Haliastur indus), elang hitam (Nisaetus cirrhatus), elang tikus (Elanus caeruleus), alap-alap sapi (Falco moluccensis), cekakak ekor panjang (Tanysiptera galatea), kokak (Philemon buceroides), dan burung isap madu sriganti (Cinnyris jugularis).
TWA Ruteng juga menjadi habitat empat jenis burung endemik Flores, yakni burung po (Otus alfredi), ngkeling koe (Loriculus flosculus), monar (Symposiachrus sacerdotum), dan gagak Flores (Corvus florensis).
Selain burung, kawasan ini menjadi habitat sejumlah mamalia endemik, seperti tikus raksasa Flores (Papagomys armandvillei) yang oleh masyarakat Manggarai dikenal sebagai betu, tikus Poco Ranaka (Rattus hainaldi), dan kelelawar Flores (Cynopterus nusatenggara).
Satwa lainnya yang hidup di kawasan ini antara lain monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), landak (Hystrix brachyura), babi hutan (Sus scrofa vittatus), serta musang (Paradoxurus hermaphroditus).
Keberadaan berbagai jenis flora dan fauna tersebut menjadikan TWA Ruteng sebagai salah satu kawasan konservasi paling penting di Nusa Tenggara Timur, sekaligus memiliki potensi besar untuk pengembangan ekowisata berbasis pelestarian alam.
Sumber: BBKSDA NTT/pariwisata.manggaraikab.go.id/Kompas.com