TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Eko Suwanto punya gaya tersendiri dalam membetot perhatian kalangan Gen-Z yang merupakan mahasiswa di Yogyakarta.
Ketua Komisi A DPRD DIY dari Fraksi Perjuangan itu didapuk menjadi narasumber dalam Diseminasi Konten Positif dan Literasi Keamanan Informasi bertajuk Waspada Hoaks Jaga Privasi Digital di Aula Diskominfo DIY, Kamis (16/7/2026).
Politisi PDI Perjuangan itu membuka sesi dengan memutar video seni budaya klenengan Ayun Ayun Gobyog. Dia sengaja memutar video itu untuk memberi pengalaman baru kepada mahasiswa.
“Apakah ada yang baru pertama kali mendengar dan melhat. Rasanya kok semuanya ya? Tapi di sini ada yang masih suka campursari,” kata Eko Suwanto disambut senyum para peserta yang merupakan mahasiswa UAD Yogyakarta itu.
Selanjutnya Eko Suwanto memutar Warokan ala Temanggung dan Wonosobo, lalu Ganong dan Reog Ponorogo.
Eko menyampaikan betapa tayangan yang didokumentasikan di YouTube itu banyak ditonton orang, baik yang hadir langsung maupun melalui tayangan media sosial.
Kemudian Eko Suwanto yang dulu dikenal sebagai aktivis mahasiswa itu mengajak peserta untuk diskusi.
Di sinilah nuansa gayeng itu mengemuka. Eko menanyakan, apa sesungguhnya yang terpotret dari tiga tayangan tadi.
Sevi, mahasiswa asal Temanggung mengatakan, Warokan di Temanggung masih digandrungi anak-anak muda.
Ini terjadi di tengah rata-rata anak muda main Tiktok yang menayangkan konten luar negeri.
Hadirnya Warokan yang dikreasi membuat anak muda menjadi tertarik. Ini mengobati rasa kehilangan seni budaya seperti Ketoprak.
“Kita ini sekarang kehilangan Ketoprak, padahal kita seharusnya mencintai budaya ini,” katanya.
Semakin riuh dengan susulan pendapat Rosyid, mahasiswa asal Wonosobo yang menyebutkan melalui budaya Warokan yang sudah dikemas dicampur dengan lagu modern, membuat orang tertarik untuk menonton.
“Apalagi kalau kemudian mendatangkan artis, tambah ramai. Perpaduan gamelan dan organ yang bisa digunakan untuk menyanyi lagu apa saja itu membuat anak muda tertarik, mereka bisa joget-joget” paparnya disambut riuh hadirin.
Wafiq, mahasiswa asal Ponorogo mengungkapkan, Reog Ponorogo banyak yang nonton Ketika ditampilkan dengan banyak variasi seperti dalam Festival Reog Nasional yang digelar setiap tahun.
Menyimak pendapat anak-anak muda itu pun Eko Suwanto langsung mengapresiasinya. Mereka dinilai memiliki pengetahuan tentang seni budaya yang bagus sehingga pendapatnya pun keren.
“Sejatinya dari tiga tayangan tadi, kita sedang lihat apa yang terjadi di dunia maya. Berbagai kesenian tradisional ditampilkan, yang menonton banyak. Itulah wajah ideal sosial media kita. Ada alat musik yang berbeda, penari berbeda, ide gagasan berbeda, tapi menjadi satu harmoni yang menyenangkan dan membahagiakan,” papar Eko yang membuat mahasiswa pun tertegun menyimak.
“Ada yang tertarik dengan kebudayaannya, performnya, ya itulah wajah media sosial yang ideal untuk hari ini, harus begitu. Di sana wajah menakutkan tidak ada,” lanjut Eko Suwanto.
Sementara medsos hari ini, kata dia, isinya bermacam-macam. Bahkan menurut Eko Suwanto, lebih banyak disharmoni daripada harmoninya. Hoaks jadi industri, penipuan online, judi online jadi industri.
Di sisi lain, masih banyak yang berusaha keras menampilkan konten positif melalui produk kebudayaan.
“Banyak yang menyaksikan bagaimana produk kebudayaan melahirkan kreativitas untuk memproduksi dan mengaryakan konten positif,” katanya.
Ia pun berpesan agar mahasiswa mau memproduksi konten yang tidak melukai diri sendiri, orang lain dan diri sendiri-orang lain, tapi konten yang .menyenangkan
“Sekarang yang ngetren itu kuliner, menceritakan kuliner dari berbagai perspektif legend, murah, enak, tradisional dan hari ini kita harap Kominfo mendorong orang untuk melahirkan konten positif,” pesan Eko Suwanto penuh harap.
Di balik semua itu, ada konten positif yang sangat kuat. Dia mencontohkan konten Warokan yang ditonton 2,4 juta kali tayang. Padahal Warokan dipersepsikan sebagai tontonan orang tua, ternyata digandrungi netizen.
“Nah, konten tradisional mix dengan kekinian mampu menyedot animo. Jadi tidak ada lagi yang bisa membantah produk kebudayaan itu laku di anak muda, ini agak anomali,” kata Eko menganalisa.
Terakhir Eko Suwanto menyampaikan bahwa membangun konyen positif bukan hal yang sulit karena konten itu bahannya ada di sekitar kita, mengangkat apa yang ada di sekitar kita, mencitrakan positif seni, makanan dan lainnya. (*)