Opini: Menulis Ulang Masa Depan NTT Melalui Literasi Berbasis Produk
Dion DB Putra July 16, 2026 08:19 PM

Oleh: Gusti Omkang Hingmane dan Bintang Nur Imaniar
Guru dan siswi SMK Negeri Ampera, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Selama puluhan tahun, pendidikan kita masih terjebak dalam paradigma lama: siswa datang ke sekolah untuk menghafal, mengerjakan soal, memperoleh nilai, lalu melupakan sebagian besar pengetahuan setelah ujian berakhir. 

Ukuran keberhasilan sekolah lebih sering ditentukan oleh angka-angka di atas rapor daripada kemampuan peserta didik menghasilkan karya yang memberi manfaat bagi masyarakat. 

Akibatnya, sekolah meluluskan banyak pencari kerja, tetapi belum cukup banyak melahirkan pencipta lapangan kerja.

Paradigma seperti ini semakin tidak relevan menghadapi abad ke-21. Dunia kerja tidak lagi hanya membutuhkan lulusan yang mampu mengingat informasi, tetapi individu yang mampu berpikir kritis, berkolaborasi, berinovasi, dan menciptakan solusi. 

Baca juga: Opini - Terima Kasih Bupati Falen, Akhirnya Burung Besi Hinggap di Sonaf Besi

World Economic Forum (2025) menempatkan creative thinking, problem solving, kemampuan beradaptasi, dan pembelajaran sepanjang hayat sebagai keterampilan paling dibutuhkan di masa depan. 

Ironisnya, keterampilan tersebut tidak tumbuh melalui hafalan, melainkan melalui pengalaman mencipta.

Tantangan pendidikan Indonesia juga masih besar. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan bahwa kemampuan literasi membaca peserta didik Indonesia masih berada di bawah rata-rata. 

Khusus di Nusa Tenggara Timur (NTT), tantangan literasi ini sangat kompleks dan berkelindan erat dengan kondisi kesehatan. 

Sebagaimana ditegaskan oleh Penjabat (Pj) Gubernur NTT, Andriko Noto Susanto, dampak stunting di NTT sangat serius karena secara langsung membuat kemampuan kognitif dan daya pikir anak-anak menjadi lambat atau lelet (https://kupang.tribunnews.com/2024/11/25). 

Fakta empiris ini memunculkan kerisauan yang mendalam di tingkat pimpinan daerah, yang menurut ulasan tajam tajuk rencana Pos Kupang, kerisauan Gubernur NTT ini menuntut adanya reformulasi program literasi yang lebih membumi dan aplikatif.

Karena itu, sudah saatnya kita memperluas makna literasi. Untuk merespons krisis ini, Pemerintah Provinsi NTT secara resmi telah meluncurkan "Genta Belis" (Gerakan NTT Membaca dan NTT Menulis), sebuah gebrakan yang diresmikan langsung oleh Pj Gubernur NTT (https://www.victorynews.id/2024/11/23).

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Ambrosius Kodo, menekankan bahwa peluncuran program Genta Belis adalah instrumen kunci untuk mendongkrak mutu serta memperkuat fondasi peradaban literasi di lingkungan pendidikan kita (Cakrawala NTT, November 2024). 

Lebih membanggakannya lagi, komitmen kuat ini tidak berjalan sendirian; program Genta Belis bahkan mendapatkan dukungan penuh dari lembaga internasional sekelas UNICEF (https://www.cakrawalantt.com/2024/11/22). 

Tujuannya sangat jelas, yakni tidak sekadar mendorong anak untuk bisa mengeja, melainkan sebagai sebuah gerakan masif untuk mendekatkan ilmu pengetahuan kepada masyarakat luas (https://swaratimor.co.id/2024/11/22).

Namun, literasi masa kini harus melangkah lebih jauh. Membaca dan menulis harus diolah menjadi gagasan, inovasi, dan karya yang memiliki nilai ekonomi maupun sosial. Di sinilah gerakan One School One Product (OSOP) menjadi kelanjutan strategis yang sangat relevan. 

Sebagaimana diulas dalam opininya Frumensius Hemat, S. Fil (https://www.korantimor.com/2026/01/26) dengan berjudul, “Satu Karya, Satu Budaya Literasi Inovasi Pendidikan Sekolah di NTT”, OSOP bukan sekadar slogan pembangunan pendidikan. 

Ia adalah perubahan cara pandang bahwa setiap sekolah harus memiliki identitas dan bertransformasi menjadi pusat inovasi yang tumbuh dari potensi lokal.

Gagasan ini sesungguhnya mendapat sokongan kuat dari pimpinan daerah. Gubernur NTT, Bapak Melkiade Laka Lena secara proaktif telah mendorong implementasi One School One Product saat memberikan arahan langsung di SMKN 5 Kupang (https://smkn5kupang.sch.id/2026/03/11). 

Ini menjadi bukti bahwa proyek pembelajaran tidak boleh berhenti sebagai laporan di atas meja guru, tetapi harus berkembang menjadi produk yang bisa dipasarkan.

Bagi Nusa Tenggara Timur, terutama wilayah kepulauan seperti Kabupaten Alor, pendekatan ini memiliki makna yang sangat strategis. 

Potensi alam dan SDM kita luar biasa: kelapa, kemiri, perikanan, tenun ikat, hingga keahlian di bidang sains-kesehatan. 

Kekurangannya hanyalah kemampuan meramu potensi itu menjadi produk bernilai tambah yang siap bersaing.

Kabar baiknya, visi ini sudah mulai menampakkan hasil nyata di lapangan. Program One School One Product (OSOP) yang masuk dalam rumusan program pembangunan pendidikan masa depan NTT (seperti yang digagas oleh Gubernur dan Wakil Gubernur NTT) telah berhasil diterapkan secara apik di SMK Negeri Bukapiting, Kabupaten Alor (https://nttpedia.id/2026/01/21). 

Di sekolah ini, siswa tidak hanya belajar teori, tetapi berhasil memproduksi karya unggulan dari potensi maritim daerahnya yang diberi nama “Baulei” (Abon Ikan Tuna). 

Karya inovatif para siswa SMKN Bukapiting Alor ini bahkan telah mendapat apresiasi langsung dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT karena sukses mewujudkan esensi dari OSOP (https://dindikbud.nttprov.go.id/2026/01/26).

Tidak hanya di sektor kelautan, potensi karya berbasis produk di bidang kesehatan dan farmasi juga menunjukkan masa depan yang sangat cerah. 

Hal ini terbukti saat Gubernur NTT melakukan peninjauan langsung ke SMK Negeri Ampera, sebuah sekolah yang berfokus pada bidang keperawatan dan farmasi. 

Kunjungan dan dukungan langsung dari kepala daerah serta memborong habis semua produk karya siswa-siswi SMK Negeri Ampera (https://smknampera.sch.id/2026/05/25) ini menegaskan bahwa sekolah-sekolah kejuruan spesifik di NTT memiliki peluang besar untuk melahirkan produk-produk inovatif, seperti obat herbal lokal atau layanan kesehatan komunitas, yang menjadi identitas keunggulan sekolah tersebut sekaligus menjawab kebutuhan riil masyarakat.

Bayangkan apabila setiap sekolah di Alor dan seluruh NTT diwajibkan menghasilkan satu karya unggulan sesuai bidangnya. 

Sekolah pesisir mengembangkan turunan hasil laut seperti Baulei, sekolah kesehatan dan farmasi seperti SMKN Ampera memproduksi inovasi herbal atau suplemen kesehatan lokal, sekolah di pegunungan mengembangkan kopi serta madu hutan, sementara sekolah IT membangun aplikasi pemasaran UMKM. 

Proses menghasilkan satu produk ini jauh lebih bernilai dibandingkan sekadar mengerjakan seratus soal pilihan ganda. Di dalam satu proses tersebut terkandung literasi membaca, numerasi, sains, kewirausahaan, dan komunikasi.

Secara ekonomi, dampaknya akan sangat masif. Mengingat UMKM menyumbang sekitar 60 persen PDB Indonesia, jika sejak di bangku sekolah siswa sudah terbiasa menghasilkan karya dan berbisnis sederhana melalui OSOP, sekolah sesungguhnya sedang menyiapkan lahirnya para wirausahawan baru. 

Gerakan ini sekaligus menjadi strategi school branding (membangun identitas sekolah). Masyarakat akan lebih percaya pada sekolah yang mampu menghasilkan produk nyata, bukan sekadar janji akademis.

Perubahan besar memang tidak lahir dalam semalam. Namun, setiap inovasi selalu dimulai dari langkah sederhana dan dukungan gerakan literasi semacam Genta Belis. Satu sekolah menghasilkan satu karya. Satu guru membimbing satu inovasi. 

Ketika gerakan kecil ini dilakukan serentak oleh ratusan sekolah di NTT, ia akan melahirkan budaya berkarya dan berinovasi.

Pada akhirnya, pendidikan yang hebat bukanlah pendidikan yang menghasilkan tumpukan sertifikat, melainkan pendidikan yang melahirkan solusi. 

Sekolah yang berhasil adalah sekolah yang meninggalkan jejak melalui karya-karyanya. 

Masa depan Nusa Tenggara Timur tidak harus ditulis oleh orang lain. Dari tangan para guru yang terus menginspirasi, serta keberanian para siswa berkreasi seperti di SMKN Bukapiting dan SMKN Ampera, masa depan itu sedang lahir di pelosok Nusa Tenggara Timur. 

Sebab, ketika satu sekolah melahirkan satu karya, yang sedang dibangun bukan sekadar sebuah produk, melainkan babak baru peradaban kemajuan pendidikan Nusa Tenggara Timur. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.