SRIPOKU.COM, KAYUAGUNG — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) kian mengganas di tengah teriknya puncak musim kemarau.
Tercatat, hingga Rabu (15/7/2026), total kejadian karhutla di OKI telah menyentuh angka 19 kasus.
Kondisi ini membuat OKI semakin mengkhawatirkan dan menyandang status zona oranye di peta rawan kebakaran Sumsel.
Bahkan, sulitnya medan dan akses jalur darat memaksa tim Satgas Karhutla harus mengambil langkah ekstrem.
Helikopter water bombing terpaksa diterjunkan dari udara untuk menggempur kobaran api yang melahap kawasan gambut di Desa Bungin Tinggi, kecamatan Pangkalan Lampam.
Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) OKI, Nova Trissuyanto membenarkan adanya pengerahan helikopter untuk menjinakkan api di kawasan tersebut.
Baca juga: Cegah Karhutla di Musim Kemarau, Kapolres Muba Dorong Kades Aktif Edukasi Masyarakat
"Pemadaman melalui udara yaitu dengan water bombing dikarenakan pemadaman jalur darat tidak dapat diakses. Lahan yang terbakar ini merupakan lahan gambut seluas 3 hektare yang memang rawan terbakar di musim kemarau," ungkap Nova saat dikonfirmasi pada Kamis (16/7/2026) pagi.
Beruntung, berkat gempuran dari udara, kepulan asap di Desa Bungin Tinggi terpantau sudah mulai menipis pada hari Rabu.
Api telah berhasil dipadamkan sebelum menjalar ke lahan lebih luas.
Data dari BPBD Sumsel menempatkan OKI di jajaran zona oranye (15–30 kejadian) bersama tiga daerah lain, yakni Kabupaten OKU (19 kejadian), Kota Palembang (18 kejadian), dan Kabupaten Muratara (17 kejadian).
Sementara itu, zona merah dengan tingkat kejadian karhutla paling tinggi dipegang PALI (57 kejadian), Musi Banyuasin (49), Ogan Ilir (42), Banyuasin (37) dan Muara Enim (33).
Menurut Nova, tren karhutla di OKI memang mulai merangkak naik.
Tantangan terbesarnya berada di kawasan lahan gambut.
Meski pemadaman telah melibatkan tim gabungan dari BPBD, Manggala Agni, TNI, Polri, hingga perusahaan sekitar, akses yang terisolir kerap menjadi kendala utama.
"Sejauh ini ada 5 kecamatan paling sering menjadi langganan karhutla, yakni Pedamaran Timur, Pangkalan Lampam, Sungai Menang, Cengal dan Tulung Selapan," ujarnya.
Lebih lanjut, Nova menjelaskan ketiadaan hujan membuat lahan gambut, semak belukar, hingga lahan mineral yang berisi vegetasi kini dalam kondisi kering kerontang.
"Kondisi saat ini panas terik terjadi setiap hari, sehingga hotspot (titik panas) dan firespot (titik api) terpantau di beberapa titik. Firespot inilah yang sering berujung menjadi kebakaran," tegasnya.
Sebagai langkah antisipasi proaktif, BPBD OKI kini telah menyiagakan satuan tugas khusus 9 kecamatan yang dinilai paling rawan.
Baca juga: Karhutla Kembali Melanda Ogan Ilir, 18 Hektare Lahan Terbakar di Lorok dan Tanjung Seteko
Namun, Nova menegaskan pemerintah tidak bisa berjuang sendirian.
"Kami meminta dukungan penuh dari seluruh lapisan masyarakat, mulai dari tingkat desa hingga kecamatan, untuk berkolaborasi menekan angka karhutla," pintanya.
Pemkab OKI juga mengeluarkan peringatan keras kepada masyarakat maupun oknum yang tidak bertanggung jawab agar tidak membuka lahan pertanian atau perkebunan dengan cara dibakar.
"Pembukaan lahan dengan cara membakar dilarang keras oleh pemerintah dan pelakunya bisa dikenakan sanksi pidana," tutupnya.