Wagub Jateng Taj Yasin Usul Vokasi Dikenalkan Sejak SMP, Lulusan Tak Hanya Jadi Buruh atau Karyawan
Hanang Yuwono July 16, 2026 08:30 PM

TRIBUNSOLO.COM, SEMARANG - Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, mengusulkan agar pendidikan vokasi di Indonesia mulai dikenalkan sejak jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Menurutnya, penguatan pendidikan vokasi tidak cukup dimulai ketika siswa masuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), tetapi perlu dibangun lebih dini agar peserta didik memiliki arah pengembangan kompetensi yang jelas sesuai bakat dan minatnya.

"Kalau kita bicara tentang vokasi, harusnya tidak dimulai dari SMK, akan tetapi di bawahnya, yaitu di jenjang SMP," katanya saat membuka The 8th International Conference on Vocational Education Applied Science and Technology (ICVEAST) 2026 yang diselenggarakan Universitas Indonesia bekerja sama dengan Universitas Diponegoro di Hotel Gumaya Semarang, Kamis (16/7/2026).

Baca juga: Wagub Jateng Taj Yasin Tinjau MPLS SMAN 1 Dayeuhluhur, Ajak Siswa Berani Bermimpi dan Susun Road Map

Tokoh yang akrab disapa Gus Yasin itu menilai, pengenalan vokasi sejak dini akan memberi ruang lebih luas bagi peserta didik untuk mengenali potensi diri sekaligus menentukan bidang keahlian yang ingin didalami.

Dengan begitu, saat memasuki SMK mereka tidak sekadar mempelajari keterampilan dasar, tetapi telah memiliki arah pengembangan kompetensi yang lebih jelas.

Menurutnya, konsep tersebut sebenarnya mulai diterapkan di lingkungan madrasah. Ia mencontohkan keberadaan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Sains di bawah Kementerian Agama yang telah memperkuat pembelajaran sains dan teknologi sejak jenjang pendidikan menengah pertama.

"Di Kementerian Agama sudah ada MTs Sains. Artinya sudah mulai diarahkan ke teknologi. Harusnya ada SMP-SMP yang juga mengarah ke vokasi, sehingga bisa berkesinambungan dengan SMK," katanya.

Baca juga: Keren! Jateng Dipilih LKPP Jadi Percontohan Nasional, Pengadaan Pemerintah Kini Wajib Lebih Hijau

Vokasi Harus Berkelanjutan hingga Perguruan Tinggi

Selain dikenalkan lebih dini, Gus Yasin menilai pendidikan vokasi juga harus memiliki jalur yang berkelanjutan hingga perguruan tinggi.

Menurutnya, masa belajar selama tiga tahun di SMK sejatinya baru menjadi tahap pengenalan sehingga lulusan perlu didorong melanjutkan pendidikan vokasi ke jenjang diploma maupun sarjana terapan.

"Vokasi itu tidak selesai di jenjang SMK, harus dilanjutkan. Tiga tahun di SMK itu sebenarnya baru tahap pengenalan. Pendalamannya harus ada di universitas melalui pendidikan vokasi," ujarnya.

Ia berharap pemerintah, perguruan tinggi, maupun berbagai lembaga dapat memperluas akses beasiswa bagi lulusan SMK, khususnya yang berasal dari keluarga kurang mampu, agar mereka memiliki kesempatan meningkatkan kompetensi.

Baca juga: Pemprov Jateng Kawal Program KKN Berdampak UIN Saizu, Validasi Data Kemiskinan hingga Majukan UMKM

Lulusan Tak Hanya Jadi Pekerja, tetapi Pencipta Solusi

Gus Yasin menegaskan, orientasi pendidikan vokasi juga perlu bergeser.

Menurutnya, lulusan tidak cukup dipersiapkan hanya untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja, tetapi juga harus didorong menjadi pencipta solusi melalui penguasaan teknologi.

"Mindset-nya sudah bukan lagi kita menjadi pegawai atau buruh, akan tetapi bagaimana kita menciptakan sesuatu yang benar-benar bermanfaat," katanya.

Ia mencontohkan pengembangan teknologi desalinasi yang dikembangkan perguruan tinggi sebagai solusi penyediaan air bersih bagi kawasan industri di Jawa Tengah.

Menurutnya, inovasi seperti itu lahir dari penguasaan ilmu terapan yang menjadi roh pendidikan vokasi.

Selain kompetensi teknis, Wagub dua periode itu juga menekankan pentingnya pembentukan karakter.

Menurutnya, disiplin, etos kerja, dan kepatuhan terhadap aturan harus berjalan seiring dengan penguasaan teknologi agar menghasilkan sumber daya manusia yang siap bersaing di dunia kerja.

Gus Yasin berharap hasil konferensi internasional tersebut dapat menjadi bahan kajian bagi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam menyusun kebijakan pendidikan yang lebih selaras dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.

Vokasi Bukan Pendidikan Kelas Dua

Sementara itu, Wakil Rektor IV Universitas Diponegoro, Wijayanto, mengatakan negara-negara seperti Jerman dan Belanda telah mengenalkan pemetaan bakat sejak usia sekolah.

Melalui mekanisme tersebut, peserta didik diarahkan ke jalur akademik maupun vokasi sesuai potensi masing-masing.

"Di sana vokasi bukan nomor dua. Mereka melakukan tes bakat sehingga anak-anak bisa dipetakan sesuai potensinya. Ada yang lebih cocok menjadi ilmuwan, ada yang lebih pas menjadi teknokrat. Keduanya sama-sama dibutuhkan untuk membangun negara," ujar Wijayanto.

Menurutnya, pendekatan tersebut dapat menjadi referensi bagi Indonesia untuk memperkuat pendidikan vokasi sejak jenjang pendidikan yang lebih awal sehingga peserta didik memiliki arah pengembangan kompetensi yang lebih jelas dan pendidikan vokasi tidak lagi dipandang sebagai pilihan kedua. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.