Setiap Kemarau Selalu Kekeringan, Warga Keranggan Tangsel Berharap Sumur Bor Segera Dibangun
Abdul Rosid July 16, 2026 09:07 PM

Laporan Wartawan TribunBanten.com Ade Feri Anggriawan

TRIBUNBANTEN.COM, TANGSEL - Krisis air bersih kembali menghantui warga Kampung Keranggan Bawah, Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), seiring mulai berlangsungnya musim kemarau.

Sumur gali yang menjadi sumber air utama warga mulai mengering sehingga aktivitas sehari-hari, mulai dari mencuci hingga memasak, ikut terganggu.

Salah seorang warga, Santi, mengatakan kondisi tersebut sudah menjadi persoalan yang terus berulang setiap musim kemarau.

"Iya, setiap tahun begini," ujar Santi kepada TribunBanten.com, Kamis (16/7/2026).

Baca juga: Polemik Keberadaan Kandang Ayam di Ciputat, DLH Tangsel Akan Inspeksi ke Lapangan

Menurutnya, sumur gali di rumahnya mulai mengalami kekeringan dalam tiga hari terakhir. 

Meski air masih keluar, tetapi jumlahnya sangat sedikit sehingga harus menunggu berjam-jam hingga sumur kembali terisi sebelum bisa digunakan.

"Baru sekitar tiga hari ini. Kalau mau ambil air harus nunggu dulu," katanya.

Ia menuturkan, kondisi tahun ini belum separah musim kemarau sebelumnya. Tahun lalu, krisis air bersih berlangsung hingga sekitar tiga bulan.

"Tahun kemarin malah lebih parah, sekitar tiga bulan," tuturnya.

Ia pun berharap, pemerintah segera merealisasikan pembangunan sumur bor umum agar warga tidak lagi mengalami krisis air bersih setiap musim kemarau.

Terlebih kata dia, kondisi tersebut turut membuat pengeluaran keluarganya bertambah, lantaran harus membeli air galon isi ulang yang digunakan untuk kebutuhan minum dan memasak.

"Satu galon Rp7.000. Sehari bisa beli sampai empat galon buat minum sama masak," ujarnya.

"Makanya kami berharap, usulan tahun lalu yang diajukan oleh Pak RT untuk pengeboran sumur bor umum bisa segera terealisasi," harapnya.

Sementara itu, warga lainnya, Ekawati, mengaku kondisinya bahkan lebih berat. 

Ia mengatakan, sumur gali di rumahnya sudah benar-benar kering selama hampir satu bulan.

Akibatnya, ia terpaksa memanfaatkan Sungai Cisadane untuk mencuci pakaian karena sudah tidak memiliki sumber air lain.

"Sudah enggak ada (air). Sudah sebulan," ujar Ekawati saat ditemui di tepian Sungai Cisadane.

Adapun Ketua RW 02 Kelurahan Keranggan, Nasrullah, membenarkan bahwa krisis air bersih menjadi persoalan yang terus berulang di wilayahnya setiap musim kemarau.

Menurut dia, kondisi tersebut mulai dirasakan sejak kawasan Keranggan berkembang menjadi wilayah perkotaan.

"Dulu tidak pernah kekurangan air. Mandi bisa di danau atau Kali Salak. Sekarang, setiap musim kemarau warga selalu mengalami kesulitan air," ujar Nasrullah.

Ia menjelaskan, krisis air bersih mulai dirasakan warga sekitar tahun 2016. 

Kondisi terparah terjadi pada musim kemarau 2023 ketika BPBD Kota Tangerang Selatan hampir setiap hari mendistribusikan bantuan air bersih ke wilayah tersebut.

"Yang paling parah tahun 2023. Hampir setiap hari BPBD mengirimkan air ke wilayah kami," ungkapnya.

Menurut Nasrullah, bantuan air bersih memang sangat membantu warga. Namun, solusi tersebut hanya bersifat sementara.

Ia pun menyebut, bahwa warga membutuhkan langkah permanen agar tidak lagi bergantung pada sumur gali yang mudah mengering saat kemarau.

"Karena itu, saya sebagai Ketua RW dan Ketua RT di sini sudah beberapa kali mengusulkan pembangunan jaringan perpipaan air bersih," ucap Nasrullah.

"Tapi ya gitu, sampai sekarang usulan kami belum terealisasi. Karena madang-kadang birokrasinya susah, berbelit-belit," pungkasnya.

Dan sebagai informasi, sistem penyediaan air minum (SPAM) atau layanan air bersih di Kota Tangerang Selatan dikelola oleh Perseroda Pembangunan Investasi Tangerang Selatan (PITS).

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.