TRIBUN-SULBAR.COM- Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) segera berakhir.
Dalam waktu dekat, siswa SD hingga SMA akan mulai mengikuti kegiatan belajar mengajar secara penuh.
Di tengah proses adaptasi itu, sebagian orang tua mungkin mulai menyadari anaknya tampak kesulitan mengikuti pelajaran, mudah terdistraksi, atau tertinggal dibanding teman sekelasnya.
Baca juga: Cuaca Sulbar Jumat 17 Juli 2026: Hujan Ringan Berpotensi Guyur Mamuju, Polman hingga Mamasa
Baca juga: Sekolah Negeri Krisis Peserta Didik Baru, Sekolah Ini Hanya Punya Satu Murid Baru Tahun Ajaran 2026
Namun, kondisi tersebut tidak selalu berkaitan dengan tingkat kecerdasan.
Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Subspesialis Psikiatri Anak dan Remaja, dr. Isa Multazam Noor, Sp.KJ., Subsp. AR(K), M.Sc., menjelaskan bahwa kemampuan mempertahankan perhatian merupakan bagian dari proses tumbuh kembang yang perlu diperhatikan, terutama ketika anak memasuki usia sekolah dasar.
Menurutnya, usia sekitar tujuh tahun menjadi salah satu fase penting untuk menilai apakah kemampuan konsentrasi anak berkembang sesuai tahap usianya.
"Kalau misalnya dia itu sudah di 7 tahun ke atas, itu adalah kemampuan dia untuk masuk ke sekolah dasar. Itu harusnya atensi sudah bisa dicapai," kata dr. Isa dalam talkshow kesehatan virtual yang disiarkan melalui Instagram Kementerian Kesehatan, Jumat (10/7/2026).
Tidak Semua Anak Berkembang dengan Kecepatan yang Sama
Dr. Isa mengatakan setiap anak memiliki perkembangan yang berbeda. Pada sebagian anak, kemampuan mempertahankan fokus belum berkembang optimal karena dipengaruhi berbagai faktor.
Kondisi seperti Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), Attention Deficit Disorder (ADD), maupun gangguan belajar tertentu dapat membuat anak lebih sulit berkonsentrasi dibanding teman seusianya.
Karena itu, menurutnya, anak yang mengalami kondisi tersebut tidak bisa disamakan dengan anak lain dalam proses belajar.
Mengacu pada teori perkembangan kognitif Jean Piaget, kemampuan berpikir anak berkembang secara bertahap sesuai usia.
Saat memasuki sekolah dasar, anak mulai menghadapi tuntutan belajar yang lebih kompleks.
Mereka dituntut mampu menyimak penjelasan guru, memahami instruksi, hingga menyelesaikan tugas yang membutuhkan konsentrasi lebih lama.
Jika pada usia tersebut kemampuan fokus anak masih jauh tertinggal dibandingkan teman sebayanya, orang tua disarankan melakukan evaluasi lebih lanjut bersama tenaga profesional.
Hindari Memberi Cap "Nakal" atau "Bodoh"
Dr. Isa mengingatkan orang tua maupun guru agar tidak terburu-buru memberi label negatif kepada anak yang kesulitan mengikuti pelajaran.
Menurutnya, banyak anak dengan kemampuan intelektual normal justru mengalami hambatan karena gangguan perhatian yang belum dikenali.
"Padahal sebenarnya IQ-nya setelah dites mungkin normal. Tapi sering kali anak langsung diberi label nakal atau tidak mampu belajar," ujarnya.
Ia menilai, identifikasi sejak dini sangat penting agar anak memperoleh penanganan dan metode belajar yang sesuai dengan kebutuhannya.
Selain menyoroti usia sekolah, dr. Isa juga menekankan pentingnya lima tahun pertama kehidupan anak atau yang kerap disebut sebagai golden period.
Pada fase tersebut, perkembangan otak berlangsung sangat pesat sehingga membutuhkan stimulasi yang tepat melalui aktivitas bermain, interaksi dengan orang tua, dan pengalaman belajar yang sesuai usia.
Ketika memasuki usia sekitar tujuh tahun, bentuk stimulasi kemudian berkembang menjadi aktivitas yang lebih kompleks untuk melatih kemampuan berpikir, mengingat, memecahkan masalah, hingga berkonsentrasi.
Dr. Isa menjelaskan kemampuan konsentrasi anak dipengaruhi banyak hal, mulai dari perkembangan otak, pola asuh, kualitas stimulasi sejak dini, hingga kemungkinan adanya gangguan perkembangan tertentu.
Tidak sedikit anak sebenarnya memiliki potensi intelektual yang baik, tetapi kurang mendapatkan stimulasi yang mendukung perkembangan fungsi kognitifnya.
"Padahal sebenarnya dia pintar, hanya saja kurang mendapatkan stimulasi yang tepat atau memiliki gangguan perhatian yang belum dikelola dengan baik," jelasnya.
Karena itu, ia mengimbau orang tua tidak langsung menyimpulkan penyebab anak sulit berkonsentrasi hanya dari nilai akademik atau komentar guru.
Apabila kesulitan fokus berlangsung terus-menerus dan memengaruhi proses belajar, pemeriksaan oleh tenaga profesional dapat membantu menemukan penyebab sekaligus menentukan penanganan yang paling sesuai.(*)