TRIBUNJAMBI.COM, MUARA BULIAN - Kabupaten Batang Hari menjadi daerah implementasi program Pertanian Modern atau Advanced Agriculture System (PM-AAS) yang digulirkan Kementerian Pertanian RI pada tahun ini, Jumat (17/7/2026).
Program tersebut diharapkan bisa mendongkrak produktivitas padi secara masif dari 5 ton menjadi minimal 10 ton per hektare.
Pada tahun anggaran 2026 ini, Provinsi Jambi mendapatkan alokasi target tanam program PM-AAS seluas 6,15 ribu hektare, di mana Kabupaten Batang Hari secara formal dibebani target sasaran awal sebesar 87 hektare.
Dari informasi yang dihimpun Program strategis ini diterapkan pada September 2026 mendatang, memanfaatkan momentum pasca-panen raya di daerah setempat.
Kendati demikian, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Batang Hari mengaku sangat optimis mampu melampaui target yang dibebankan pusat.
Melalui pemetaan potensi lahan di lapangan, pihak dinas bahkan berani merencanakan perluasan uji coba penerapan model baru ini hingga mencapai luasan di atas 500 hektare.
"Target awal kita hanya 87 hektare, namun kami optimis bisa mengoptimalkannya hingga lebih dari 500 hektare," katanya.
Ia menjelaskan, manajemen pola tanam akan disesuaikan dengan kondisi riil di lapangan. Untuk periode Juli hingga September ini, aktivitas tanam baru belum digenjot maksimal lantaran mayoritas lahan persawahan petani saat ini masih dalam masa pertumbuhan tanaman berjalan.
Langkah akselerasi secara besar-besaran baru akan dieksekusi saat memasuki periode September hingga Oktober mendatang.
Momentum panen raya tersebut akan langsung dimanfaatkan untuk pengaturan pola tanam kedua (IP2) dengan menerapkan model PM-AAS secara total pasca-panen.
"Memasuki masa panen raya nanti, kami langsung menerapkan model PM-AAS pasca-panen," jelasnya.
Lebih lanjut, ia menjabarkan perbedaan mendasar model PM-AAS ini terletak pada intervensi sarana produksi (saprodi) yang sangat presisi.
Diantara perubahannya adalah peningkatan volume penggunaan benih secara masif, dari yang biasanya hanya 25 kilogram per hektare dinaikkan menjadi 70 hingga 80 kilogram per hektare guna memaksimalkan populasi tanaman.
Peningkatan kuantitas benih tersebut juga akan diimbangi dengan pengaturan jarak tanam yang ketat serta dukungan paket bantuan saprodi komprehensif, mulai dari pupuk organik hingga pupuk NPK secara optimal.
"Penggunaan benih ditingkatkan secara masif menjadi 70 hingga 80 kilogram per hektare," tambahnya.
Guna mengantisipasi resistensi serta mempermudah transisi metode bagi petani tradisional, DTPHP Batang Hari kini tengah mengintensifkan pembekalan khusus bagi para Petugas Penyuluh Lapangan (PPL).
Para penyuluh inilah yang nantinya wajib melakukan pengawalan ketat secara langsung kepada kelompok tani dari awal persiapan lahan hingga masa panen.
Selain itu, koordinasi berkala bersama Satgas Pangan daerah juga terus diperketat guna mengawasi rantai distribusi bantuan alsintan dan pupuk bersubsidi agar tetap tepat sasaran dan tepat waktu.
"Petugas Penyuluh Lapangan akan melakukan pengawalan ketat secara langsung kepada kelompok tani," pungkasnya. (Tribun Jambi/Khusnul Khotimah)
Baca juga: Lagi, Pencurian Kabel Listrik di Perumahan Citra Raya City Muaro Jambi Ditangkap
Baca juga: Borju Tagih Gibran Selesaikan Konflik Stockpile Batu Bara di Candi Muaro Jambi