Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Suryadi Jaya
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU TENGAH - Musim panen yang seharusnya menjadi momen petani menikmati hasil justru diwarnai tingginya biaya angkut gabah di Desa Sukarami, Kecamatan Taba Penanjung, Kabupaten Bengkulu Tengah.
Tidak adanya jembatan yang menghubungkan jalan utama menuju areal persawahan membuat petani harus mengeluarkan biaya hingga Rp20 ribu per karung untuk mengangkut gabah dari sawah ke rumah.
Gabah hasil panen harus dipikul sejauh lebih dari satu kilometer, menyeberangi sungai, sebelum akhirnya dapat diangkut menggunakan sepeda motor menuju permukiman.
Warga Desa Sukarami, Edwin (31), mengatakan akses menuju persawahan hanya mengandalkan jalur penyeberangan sungai karena belum tersedia jembatan.
Menurutnya, kondisi tersebut semakin menyulitkan ketika debit sungai meningkat. Petani terpaksa memutar melalui jalur lain dengan jarak yang lebih jauh.
"Kalau sungainya meluap kadang harus mutar lewat jalan lain. Jaraknya jauh, beberapa kilometer, jadi tambah susah," ujarnya.
Baca juga: Harga Sawit Bengkulu Tengah 17 Juli 2026, TBS Turun Jadi Rp2.820-Rp3.015 per Kg
Kesulitan itu paling terasa saat musim panen. Seluruh hasil panen harus dipikul terlebih dahulu hingga melewati sungai sebelum bisa dibawa menggunakan kendaraan.
"Gabah dipikul lebih dari satu kilometer, nyeberangi sungai dulu, baru disambung pakai motor ke rumah," katanya.
Akibat sulitnya akses, petani juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membayar jasa angkut hasil panen. Edwin menyebut ongkos pengangkutan mencapai sekitar Rp20 ribu untuk setiap karung gabah.
"Semakin jauh sawahnya, semakin besar upah angkutnya. Yang punya sawah harus menanggung biaya lebih besar lagi karena aksesnya memang tidak ada," ucapnya.
Menurut Edwin, kondisi tersebut telah berlangsung bertahun-tahun dan hingga kini belum ada solusi berupa pembangunan jembatan.
Padahal, akses tersebut menjadi jalur utama menuju hamparan persawahan yang dikelola dua kelompok tani dengan luas mencapai ratusan hektare.
Karena itu, warga berharap Pemerintah Kabupaten Bengkulu Tengah dapat membangun jembatan permanen maupun jembatan gantung di sekitar Bendungan Padang Segaro agar aktivitas pertanian menjadi lebih mudah dan biaya produksi petani dapat ditekan.
"Harapan kami ada jembatan untuk warga Desa Sukarami. Perasaan setiap tahun kondisinya begini saja. Minimal ada jembatan gantung supaya lebih mudah membawa hasil panen," tutup Edwin.