Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Charles Abar
POS-KUPANG.COM.COM, BAJAWA – Belasan komunitas pencinta alam dari Kabupaten Ngada dan Nagekeo berkumpul dalam Temu Komunitas yang digelar Yayasan Puge Figo di Kurubhoko, Kecamatan Wolomeze, Kabupaten Ngada, Jumat (17/7/2026).
Pertemuan tersebut menjadi wadah untuk menyatukan langkah dalam menghadapi tantangan perubahan iklim melalui gerakan kolaboratif lintas komunitas.
Forum tersebut membahas berbagai persoalan lingkungan yang terjadi di Ngada dan Nagekeo, mulai dari deforestasi, kerusakan daerah tangkapan air, hingga lemahnya perlindungan kawasan hutan dan mata air.
Para peserta juga menyampaikan berbagai keresahan sekaligus merumuskan langkah bersama untuk memperkuat gerakan pelestarian lingkungan.
Ketua Yayasan Puge Figo sekaligus Koordinator Deforestasi, Patrisius Djena mengatakan yayasan yang dipimpinnya telah melakukan berbagai upaya penghijauan dan restorasi sejak berdiri.
Baca juga: Pemkab Ngada dan Yayasan Puge Figo Tanam Ribuan Pohon di Mata Air Wae Ketu
Baca juga: Komunitas Pecinta Alam Jejak Pribumi Ajak Masyarakat Alor Lestarikan Alam
Program tersebut menjangkau enam zona restorasi yang berfokus pada pemulihan mata air serta rehabilitasi lahan kritis di wilayah Ngada dan Nagekeo.
Menurut Patrisius, selama periode 2014–2022, Yayasan Puge Figo telah menanam sekitar 409.863 pohon dari 56 jenis tanaman. Program itu memberikan manfaat kepada 10.552 warga, melibatkan 230 petani binaan, serta menjangkau 4.283 peserta edukasi lingkungan.
Meski demikian, ia mengakui tantangan pelestarian lingkungan masih cukup besar, terutama rendahnya dukungan dan kesadaran masyarakat serta perlunya kolaborasi yang lebih luas.
“Kita telah bekerja sama dengan masyarakat di kawasan hutan untuk mengatasi deforestasi melalui restorasi lahan kritis dan pelestarian mata air. Namun itu belum cukup. Kita membutuhkan kerja kolaboratif lintas sektor, termasuk bersama komunitas pencinta alam yang nantinya menjadi mitra eksternal Yayasan Puge Figo,” ujar Patrisius.
Sementara itu, Pembina Yayasan Puge Figo, Nao Cosme Remon mengatakan selama ini lembaganya lebih banyak bergerak sendiri dalam menjalankan berbagai program konservasi. Karena itu, menurut dia, kolaborasi dengan komunitas pencinta alam menjadi kekuatan baru dalam memperjuangkan visi bersama menjaga kelestarian lingkungan.
“Kita perlu membangun kekuatan baru untuk menyelamatkan alam kita. Dengan rencana kerja masing-masing, mari kita bergerak bersama,” katanya.
Dalam forum diskusi, peserta juga menyoroti masih lemahnya keberpihakan pemerintah terhadap agenda pelestarian lingkungan. Mereka menilai isu lingkungan kerap menjadi prioritas terakhir dalam proses perencanaan pembangunan daerah.
Salah satu persoalan yang mengemuka ialah belum adanya Peraturan Daerah (Perda) tentang Perlindungan Mata Air yang dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan sumber-sumber air di Kabupaten Ngada.
Anggota Komisi III DPRD Ngada yang juga berasal dari Komunitas Maronggela, Sain Songkares, membenarkan bahwa rancangan perda tersebut sebelumnya telah masuk dalam Program Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda). Namun, pembahasannya belum dapat dilanjutkan karena masih diperlukan sejumlah persyaratan, salah satunya kajian akademik.
Meski hadir sebagai perwakilan komunitas, Sain menegaskan aspirasi yang berkembang dalam forum tersebut akan dibawanya ke DPRD Ngada.
“Forum ini sangat luar biasa. Saya mendapatkan banyak informasi mengenai kerja-kerja pelestarian lingkungan yang telah dilakukan Yayasan Puge Figo maupun berbagai persoalan yang dihadapi komunitas. Semua aspirasi ini akan saya bawa dan perjuangkan di ruang-ruang pembahasan kebijakan,” ujarnya.
Pada akhir pertemuan, para peserta menyepakati sejumlah agenda kolaborasi, antara lain memperluas gerakan penghijauan, melakukan pembersihan sungai, penanaman di kawasan kritis, memperluas zonasi restorasi lahan, serta mendorong lahirnya regulasi yang lebih kuat melalui Perda Perlindungan Mata Air dan penguatan perlindungan hutan adat.
Melalui kolaborasi lintas komunitas yang dimotori Yayasan Puge Figo tersebut, diharapkan gerakan pelestarian lingkungan di Kabupaten Ngada dan Nagekeo semakin terorganisasi, berkelanjutan, serta mendapat dukungan yang lebih kuat dari pemerintah maupun masyarakat. (cha).