TRIBUNKALTENG.COM - Proses syuting film horor biasanya diselimuti oleh cerita mistis atau gangguan gaib. Namun, pengalaman mencekam yang dialami aktor papan atas Dimas Aditya saat menggarap film terbaru, Juminten Edan, justru datang dari realitas sosial yang memilukan.
Bukan karena ketakutan oleh makhluk halus, Dimas mengaku dibuat syok oleh suara histeris dari dunia nyata yang berada tepat di sebelah lokasi syuting.
Baca juga: Merinding! Arya Saloka Gemetar Rukiah Acha Septriasa, Simak Sinopsis Film Munafik Melawan Iblis
Film Juminten Edan sendiri memang mengangkat isu sensitif yang berkaitan dengan gangguan jiwa dan praktik pasung. Siapa sangka, tema fiksi yang sedang mereka rekam ternyata bertetangga langsung dengan realitas aslinya.
Dimas Aditya mengungkapkan bahwa selama proses pengambilan gambar, atmosfer mencekam begitu terasa karena mereka terus-menerus mendengar suara teriakan manusia.
Setelah ditelusuri, suara tersebut berasal dari seorang warga yang tengah dipasung di sebuah rumah tepat di samping set syuting mereka.
"Suasana mencekam di lokasi itu bukan karena gangguan mistis, tapi karena kami mendengar langsung suara teriakan orang yang dipasung sungguhan," ungkap Dimas.
Pengalaman ini tak pelak memberikan tamparan keras bagi sang aktor. Dimas mengaku sempat tertegun dan tidak menyangka bahwa tindakan tidak manusiawi tersebut masih langgeng di tengah masyarakat modern saat ini.
Kejadian nyata ini membuat pesan dalam film Juminten Edan terasa jauh lebih mendalam, bukan lagi sekadar hiburan layar lebar, melainkan sebuah cerminan dari fenomena sosial yang masih membayang-bayangi Indonesia.
Ya, Aktor Dimas Aditya mendapat tantangan baru saat membintangi film horor Juminten Edan.
Untuk pertama kalinya sepanjang karier, ia harus mempelajari bahasa isyarat demi mendukung interaksi karakternya dengan Juminten, yang diperankan Meisya Amira.
Dalam film tersebut, Dimas berperan sebagai Manto, suami dari karakter Juminten.
Awalnya, ia mengaku sempat mendapat informasi bahwa karakter Juminten hanya mengalami tuna wicara sehingga dirinya tidak perlu belajar bahasa isyarat.
Namun, keputusan sutradara Dedi Mercy berubah menjelang syuting dimulai, sehingga ia harus belajar bahasa isyarat dalam waktu singkat.
"Pak Dedi awalnya nanya, 'Mas perlu belajar bahasa isyarat enggak?' Terus beliau bilang enggak karena karakter Juminten cuma tuna wicara," beber Dimas Aditya di kawasan Kuningan Jakarta Selatan, Kamis (16/7/2026).
"Tiba-tiba pas last minute berubah, 'Kayaknya kita bikin dia sedikit tunarungu deh, Mas Dimas harus belajar bahasa isyarat' gitu," kata Dimas.
Perubahan mendadak itu membuat Dimas hanya memiliki waktu sekitar tiga hari untuk mempelajari bahasa isyarat.
"Wah, gila sih kalau belajarnya tiga hari saya," ujarnya sambil tertawa.
Meski waktunya sangat singkat, Dimas berusaha memaksimalkan persiapan dengan berlatih langsung sesuai dialog yang ada di naskah.
"Belajarnya dari dialognya," kata Dimas.
"Dari awal kita susun dulu maunya gimana, supaya enggak ada improvisasi mendadak yang bikin susah," tuturnya.
Menariknya, Dimas justru merasa kemampuan bahasa isyaratnya mengalir lebih lancar ketika sudah masuk ke dalam emosi karakter saat proses pengambilan gambar.
"Kadang-kadang spontanitas justru ngebantu di set. Begitu feel emosinya sudah dapat, tiba-tiba lancar dalam bahasa isyarat," ungkapnya.
Ia bahkan mengaku sempat terkejut ketika pelatih bahasa isyarat menyatakan penampilannya sudah sesuai.
"Pas selesai take kita tanya ke coach, 'Aman?' Dia bilang aman. Saya juga enggak tahu kok bisa, mungkin karena emosinya sudah kebangun, jadi bahasa isyaratnya keluar begitu saja," jelasnya.
Dimas menambahkan, proyek ini menjadi pengalaman pertamanya mempelajari bahasa isyarat selama berkarier di dunia akting.
"Ini pertama kali," ucap Dimas.
Film Juminten Edan rencananya akan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai tanggal 23 Juli 2026 mendatang.
(Tribunnews.com/ tribunkalteng)