Kemenkes Perkuat CKG, Pasien Hipertensi dan Diabetes Dipantau hingga Terkendali
Wahyu Gilang Putranto July 18, 2026 03:38 AM

 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) kini tidak lagi berhenti pada tahap pemeriksaan kesehatan.

Mulai 2026, peserta yang diketahui menderita hipertensi maupun diabetes melitus akan mendapatkan tindak lanjut berupa pengobatan dan pemantauan secara berkala.

Langkah tersebut dilakukan agar pemeriksaan kesehatan tidak hanya menemukan penyakit lebih dini, tetapi juga memastikan pasien menjalani pengobatan hingga penyakitnya terkendali.

Pemeriksaan Dilanjutkan dengan Pengobatan

Kementerian Kesehatan mulai menerapkan tahap tatalaksana bagi peserta CKG yang telah terdiagnosis menderita penyakit kronis, khususnya hipertensi dan diabetes melitus.

Hasil sementara menunjukkan sekitar 35,4 persen pasien hipertensi yang ditemukan melalui CKG 2025 telah kembali menjalani pemeriksaan pada 2026.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 46,9 persen berhasil mengendalikan tekanan darahnya.

Sementara pada pasien diabetes melitus, sekitar 33,1 persen kembali menjalani pemeriksaan.

Sebanyak 69,4 persen di antaranya berhasil mencapai pengendalian kadar gula darah.

Pemerintah menargetkan sedikitnya separuh penderita hipertensi dan diabetes yang ditemukan melalui CKG menjalani pengobatan rutin pada tahun ini.

Baca juga: Kemenkes Ungkap Alasan Skrining Mental bagi Peserta PPDS di Unsrat

Tujuannya Menekan Risiko Penyakit Jantung dan Stroke

Menurut Kemenkes, keberhasilan pengobatan penyakit kronis akan berdampak langsung terhadap penurunan angka kematian akibat penyakit jantung maupun stroke.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan pemeriksaan kesehatan harus selalu diikuti pengobatan secara berkelanjutan.

"Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa skrining harus diikuti dengan pengobatan yang rutin dan pengendalian penyakit,"ungkapnya dikutip dari website resmi Kementerian Kesehatan, Jumat (17/7/2026).

Budi mengungkapkan jika negara seperti Korea berhasil menurunkan kematian akibat penyakit kardiovaskular melalui pendekatan yang dikenal sebagai Triple 80.

"Yaitu 80 persen masyarakat diskrining, 80 persen penderita diobati, dan 80 persen di antaranya berhasil terkendali. Itulah arah yang sedang kita bangun di Indonesia,” jelasnya.

Pemeriksaan Kesehatan Terus Diperluas

Hingga 5 Juli 2026, sebanyak 59,6 juta masyarakat telah mengikuti Program CKG.

Jumlah tersebut telah melampaui target mingguan yang ditetapkan pemerintah.

Seiring dimulainya tahun ajaran baru, Kementerian Kesehatan optimistis target 130 juta peserta hingga akhir tahun tetap dapat tercapai.

Menurut Menkes, CKG menjadi langkah penting untuk mengubah cara pandang pelayanan kesehatan di Indonesia.

Selama ini masyarakat lebih banyak datang ke fasilitas kesehatan ketika sudah sakit.

Melalui CKG, pemerintah ingin mendorong masyarakat melakukan pemeriksaan lebih awal agar penyakit dapat diketahui sebelum menimbulkan komplikasi.

"Semakin banyak masyarakat yang melakukan cek kesehatan, semakin dini penyakit dapat ditemukan dan diobati. Tujuan kita bukan sekadar mengetahui siapa yang sakit, tetapi memastikan masyarakat tetap sehat dan produktif. Karena itu CKG menjadi investasi kesehatan bangsa dalam jangka panjang," ujar Budi.

Ke depan, Kementerian Kesehatan akan terus memperluas cakupan CKG, memperkuat tindak lanjut di fasilitas pelayanan kesehatan primer.

Serta memastikan masyarakat yang telah terdiagnosis mendapatkan pengobatan dan pendampingan secara berkelanjutan.

Melalui pendekatan tersebut, pemerintah berharap CKG tidak hanya meningkatkan angka deteksi dini penyakit.

Tapi juga membantu menurunkan beban penyakit tidak menular dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.