Trik  Injury Time & Prank Ala Agentina
AS Kambie July 18, 2026 06:22 AM

Oleh: M Dahlan Abubakar

Penulis Buku “Ramang Macan Bola”

TRIBUN-TIMUR.COM - Akhirnya, seperti yang diperkirakan, Argentina  melaju ke final Piala Dunia 2026 setelah mengalahkan Inggris 2-1 Kamis (16/7/2026) dini hari di Stadion Atlanta, AS.  Kemenangan ini mengantar tim Tango  sukses mengulang prestasinya empat tahun silam di Qatar, saat melaju ke final, kemudian berhadapan dengan  Prancis di final dan tampil sebagai juara.  

Kali ini meskipun bukan Prancis, Argentina juga menghadapi ‘badai’ Eropa,  Spanyol yang tidak kalah ganasnya saat mematikan pergerakan dua pemain bintang Prancis Kylian Mbappe dan  Ousmane  Dembele. Kedua pemain ini tidak berdaya berhadapan dengan  M.Oyarzabal dan kawan-kawan.  

Argentina merebut semua kemenangan dari tujuh laga hingga ke babak semifinal dengan mencetak 19 gol dan kebobolan 7 gol. Dari  tujuh kemenangan  itu, saya mengamati ada dua hal yang paling menonjol.

Injury Time

Pertama, memanfaatkan tekanan ‘injuri time’. Dari 19 gol yang dicetak pemain Argentina, 8 gol di antaranya lahir pada masa ‘injury time’ dan tiga di antaranya menentukan kemenangannya.  Dari tujuh pertandingan, Argentina benar-benar memanfaatkan masa menjelang pertandingan usai itu dengan mencetak gol mengagetkan.  Saat melawan Tanjung Verde pada tanggal 4 Juli 2026,  gol Martinez pada menit ke-92 mengunggulkan Argentina, meskipun Tanjung Verde berhasil menyamakan kedudukan pada menit ke-103 melalui Sidney Lopez. Argentina memetik  kemenangan karena pemain Tanjung Verde, Diney pada menit 111 melakukan gol bunuh diri. 

Saat berhadapan dengan Mesir, Argentina pun mencuri gol penentu kemenangan melalui masa-masa menjelang akhir laga. Gol E.Fernandes pada menit ke-90+3 berhasil menggagalkan keberhasilan Mesir mempertahankan skor 2-2 hingga tambahan waktu 2x15 menjelang. Gol Fernandes tersebut membuat pertandingan tuntas dengan skor 3-2 untuk Argentina.

Ketika berhadapan dengan Swiss dua gol Argentina lahir pada perpanjangan waktu, Alvares pada menit ke-112 dan E.Martinez  dada menit ke-120+1 yang membuat kedudukan 3-1 untuk Argentina, meninggalkan skor imbang 1-1. 

Yang paling dramatis pada pertandingan semfinal saat Argentina berhadapan dengan Inggris, Kamis (16/7/2026) di Stadion Atlanta. Pemain Inggris, A.Gordon berhasil membawa timnya unggul 1-0 pada menit ke-55. Gol ini bertahan selama 30 menit, sebelum E.Fernandes merobek jala Pickford pada menit ke-85. Dan luar biasanya, pada masa ‘injury time’, L.Martinez menggagalkan pertandingan berlanjut ke tambahan waktu 2x15 dengan gol penentu kemenangan Argentina pada menit ke-90+2.

Begitulah Argentina sangat termotivasi untuk membalas ketertinggalan dengan mencetak gol penentu kemenangan menjelang akhir laga. Setelah memperhatikan beberapa penampilan pemain Argentina, Lionel Messi seperti mampu menghipnotis teman-temannya untuk terus menggempur pertahanan lawannya dan menghasilkan gol. Praktik inilah yang membuat Harry Kane dan kawan-kawan dipaksa bermain bertahan, tetapi memberi kesempatan kepada Argentina mengurung daerahnya. Messi dan kawan-kawan terus mencari ruang menusuk ke jantung pertahanan Inggris untuk menciptakan gol. Dan itulah yang terjadi pada gol pertama Argentina, satu tandulan Fernandez, menyobek jala Pickford.

Legendaris tim dan mantan pelatih Inggris John Terry menyalahkan Thomas Tuchel, pelatih Three Lions, menginstruksikan Harry Kane dan kawan-kawan bermain bertahan. Akibatnya, gawang Pickford menjadi bulan-bulanan gempuran Argentina, meskipun hanya melahirkan dua gol. Tetapi, tercatat dua kali, bola menghantam tiang gawang Pickford, belum termasuk yang berhasil dia selamatkan sendiri.  

Mem-’prank’

Keunggulan kedua yang digunakan Argentina sehingga mampu memetik kemenangan terhadap lawan-lawannya adalah melakukan “prank” terhadap lawannya. Maksud saya, Argentina memanfaatkan Lionel Messi untuk bergerak leluasa membawa bola hingga ke kotak 16. Kita sering menyaksikan, jika Messi memperoleh bola di sisi kotak terlarang, dia kerap meliuk-liukkan badannya sembari menggiring bola melintasi beberapa pemain lawan hingga ke kotak terlarang. 

Trik terselubung yang dapat kita pahami dari ulah Messi ini adalah berharap  saat menggiring bola, para pemain lawan akan melakukan pelanggaran. Wasit secara “tidak tertulis” selalu berusaha melindungi pemain bintang dari pelanggaran, seminimal apa pun tingkatannya. Dan, Messi memanfaatkan itu. 

Salah satu keberhasilan triknya adalah ketika melawan Tanjung Verde kalau tidak salah. Messi mengeksekusi tendangan penalti ke jala Tanjung Verde yang dikawal Vozinha karena terjadinya pelanggaran di kotak terlarang. Sayang, tendangan kaki kiri Messi agaknya terbaca oleh Vozinha, kiper berusia kepala empat itu. 

Begitulah fenomena penampilan Argentina selama Piala Dunia 2026 dalam menaklukkan lawan-lawannya. Kebobolan lebih dulu agaknya membuat motivasi para pemain asuhan L.Scaloni ini semakin mendidih untuk merebut kemenangan. Dan, realitasnya itulah yang terjadi. 

Namun kita tidak tahu apakah Argentina akan mampu mencuri  masa “injury time” dan  mem-”prank” lawannya ketika berhadapan dengan tim Matador, Spanyol. Sebab pasti, Luis de La Fuente, pelatih Spanyol, sudah mempelajari pola permainan Argentina, seperti juga dia menganalisis gaya permainan Prancis hingga membuat Kylian Mbappe dan  Ousmane Dembele, betul-betul mati kutu saat diadang ke final dengan kekalahan telak 0-2. (*).

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.