Sekolah Adiwiyata di Jombang Evaluasi Kandang Bebek Setelah Diprotes Warga
Titis Jati Permata July 18, 2026 12:32 PM

 

SURYA.co.id, JOMBANG – Program peternakan bebek yang dijadikan media pembelajaran di SDN Losari, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, menuai keluhan dari warga sekitar.

Bukan karena aktivitas belajarnya, melainkan aroma menyengat yang diduga berasal dari kandang bebek di lingkungan sekolah dan disebut mengganggu kenyamanan warga selama sekitar enam bulan terakhir.

Kandang bebek tersebut berada di belakang kompleks sekolah. Meski tidak berhadapan langsung dengan permukiman karena dipisahkan tembok pembatas, bau yang ditimbulkan disebut masih tercium hingga ke rumah-rumah warga, terutama saat cuaca lembap.

Warga Keluhkan Bau Menyengat

Salah seorang warga yang rumahnya berada tepat di belakang sekolah, Anita Sari Anggraini (31), mengatakan aroma kotoran bebek paling terasa sejak sore hingga malam hari.

"Kalau malam, terutama setelah maghrib, baunya sangat menyengat. Pintu dan jendela rumah terpaksa kami tutup karena aromanya masuk ke dalam rumah," ucap Anita kepada SURYA.co.id, Sabtu (18/7/2026).

Baca juga: Inovasi Pupuk Organik Cair dari Limbah Dapur untuk Ketahanan Pangan Jombang

Menurutnya, kondisi tersebut membuat warga merasa kurang nyaman, terlebih lingkungan tempat tinggalnya dihuni banyak anak-anak dan bayi.

"Di tempat saya juga ada bayi. Kadang ya keluarga besar saya kumpulnya di rumah saya ini. Terus tercium bau menyengat dari kandang bebek itu, jadi membuat tidak nyaman," ungkapnya.

Anita berharap persoalan tersebut segera mendapat penanganan tanpa harus mengorbankan kepentingan pihak mana pun.

"Kami sebagai warga cuma mau ada langkah nyata saja untuk dirubah, biar tidak ada bau menyengat lagi," bebernya.

Ia mengaku telah menyampaikan keluhan tersebut kepada pemerintah desa dan berharap persoalan itu dapat diselesaikan melalui mediasi.

"Sudah saya sampaikan juga ke Pemdes setempat. Semoga bisa di mediasi, dicarikan solusinya," jelasnya.

Kandang Bebek Jadi Sarana Belajar Siswa

Menanggapi keluhan tersebut, Kepala SDN Losari, Ustadz Natsir, menjelaskan bahwa peternakan bebek merupakan bagian dari Program Sekolah Adiwiyata Mandiri, khususnya untuk mendukung pembelajaran Keanekaragaman Hayati (Kehati).

Menurutnya, kandang bebek dimanfaatkan sebagai media praktik bagi siswa, mulai dari memberi pakan, mengambil telur, membersihkan telur, hingga mengolahnya menjadi telur asin sebagai bagian dari pembelajaran kewirausahaan.

"Program ini murni untuk media belajar anak-anak. Tidak ada tujuan komersial maupun untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis," kata Natsir saat dikonfirmasi.

Saat ini sekolah memelihara sekitar 50 ekor bebek yang dirawat siswa kelas IV hingga VI dengan pendampingan guru dan penjaga sekolah.

Selain menggunakan pakan khusus, sebagian sisa makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga dimanfaatkan sebagai tambahan pakan ternak.

Sekolah Siap Evaluasi Pengelolaan Kandang

Natsir menegaskan pihak sekolah tidak mengabaikan keluhan masyarakat.

Ia memastikan sekolah akan mengevaluasi sistem pengelolaan kandang dan mencari metode pemeliharaan yang lebih ramah lingkungan agar dampak bau dapat diminimalkan.

"Kami menerima masukan dari masyarakat. Kami akan mencari solusi terbaik supaya dampaknya terhadap lingkungan bisa diminimalkan. Memang bau dari peternakan tidak bisa dihilangkan sepenuhnya, tetapi ada teknik yang dapat menguranginya," ujar Natsir.

Pihak sekolah berharap solusi yang nantinya diterapkan dapat menjaga keberlangsungan program pembelajaran berbasis praktik tanpa mengurangi kenyamanan warga yang tinggal di sekitar lingkungan sekolah.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.