WARTAKOTALIVE.COM, CILANDAK - Warga RT 01 dan RT 02 RW 10, Kelurahan Pondok Labu, Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan, kini tak lagi mengandalkan kentongan atau pengeras suara masjid saat ancaman banjir datang.
Sebagai gantinya, mereka menggunakan Smart Flood Warning System, sistem peringatan dini berbasis sirene yang digagas pemuda Karang Taruna untuk memberi waktu kepada warga bersiap sebelum air meluap.
Inovasi tersebut digagas Muhammad Azzuhri Ramdhani (23), anggota Karang Taruna RT 02 RW 10, setelah mengikuti pelatihan kebencanaan yang diselenggarakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Azzuhri mengatakan ide itu lahir dari keresahan warga yang selama ini hanya mengandalkan cara-cara manual untuk mengetahui kenaikan debit air Kali Grogol.
Baca juga: DPRD Bekasi Usul Tambah Polder untuk Cegah Banjir di PSEL Bantargebang
"Idenya memang berangkat dari teman-teman Karang Taruna yang memiliki berbagai macam potensi pengetahuan teknologi. Setelah mengikuti diklat BPBD, kami mulai merancang alat ini untuk dipasang di RT 02 sebagai percontohan di Kelurahan Pondok Labu," kata Azzuhri, Sabtu (18/7/2026).
Saat sirene berbunyi selama sekitar dua menit, warga mengetahui debit air sudah mencapai batas tertentu sehingga memiliki waktu untuk mengamankan barang-barang berharga dan mempersiapkan diri menghadapi banjir.
Berbekal pengetahuan teknologi dan semangat gotong royong, mereka menghadirkan sistem yang diharapkan mampu memberi peringatan lebih cepat kepada masyarakat sebelum banjir datang.
"Setelah alat ini terpasang, masyarakat tidak perlu lagi khawatir harus keluar rumah saat hujan untuk mengecek kondisi air. Sekarang cukup menunggu sirine berbunyi sebagai tanda peringatan," ucap dia.
Menurutnya, tinggi genangan di kawasan tersebut sangat bergantung pada intensitas hujan.
Hujan deras selama sekitar 30 menit dapat menyebabkan banjir setinggi 50 sentimeter.
Sementara hujan yang berlangsung selama 45 menit hingga satu jam berpotensi membuat air mencapai ketinggian sekitar satu meter.
"Alat ini dibuat supaya masyarakat mendapatkan informasi lebih awal. Karena banjir datang tanpa permisi, tetapi masyarakat berhak mendapatkan peringatan dini," tuturnya.
Sebelum alat dipasang, penyampaian informasi mengenai banjir masih dilakukan secara manual.
Seperti menggunakan kentongan, pengeras suara masjid, atau memukul tiang listrik.
Cara ini inilai kurang efektif, terutama ketika hujan turun pada malam hari.
Kendaraan bahkan pernah hanyut saat banjir melanda.
Baca juga: Pemprov DKI Akui Infrastruktur Pengendali Banjir Sudah Tak Lagi Mampu Tampung Hujan Ekstrem
Banjir terparah terjadi pada 2020 lalu yang mencapai hampir dua meter.
"Karena sebelum adanya alat ini, informasi ke warga itu hanya berupa kentongan, toa masjid, ataupun getokan tiang listrik. Dan setelah terpasangnya alat ini, masyarakat juga tidak perlu lagi khawatir untuk ketika hujan untuk mengecek ke luar rumah, sekarang itu hanya menunggu sirine berbunyi saja," tutur Azzuhri.
Pemuda lulusan sarjana ekonomi manajemen di Universitas Nasional itu menuturkan, sejumlah komponen bahkan berasal dari barang bekas milik warga.
"Ada warga yang punya sirine bekas, ada yang punya panel bekas. Kami pinjam dulu untuk uji coba. Setelah terbukti berhasil, baru kami mengganti komponennya dengan yang lebih baru," jelasnya.
Lurah Pondok Labu, Nachnoer Vernier Atom, mengatakan inovasi tersebut berawal dari gagasan Azzuhri yang juga tinggal di kawasan rawan banjir.
"Selama ini warga masih mengandalkan cara manual untuk mengetahui kenaikan air. Dengan alat ini, peringatan bisa diberikan secara otomatis sehingga warga lebih cepat bersiap," ujarnya.
Menurut Vernier, Pondok Labu merupakan salah satu wilayah rawan banjir karena diapit Kali Grogol dan Kali Krukut.
Sedikitnya enam RW dengan sekitar 17 hingga 18 RT berada di kawasan yang berpotensi terdampak luapan sungai.
Karena itu, kelurahan berencana memperluas pemasangan alat serupa melalui dukungan CSR dan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.
"Baru ada dua alat yang dipasang. Selanjutnya kami sedang menggalang dukungan CSR dan para stakeholder agar alat ini bisa dipasang di titik-titik rawan banjir lainnya di wilayah Pondok Labu," kata Vernier. (m31)